Kesuksesan Musisi Indie dan Dugaan Manipulasi Trend di TikTok
Musik indie, yang dikenal sebagai musik independen atau “indi”, sering kali dianggap sebagai bentuk seni yang autentik dan tidak komersial. Namun, kini muncul pertanyaan besar mengenai apakah kesuksesan beberapa musisi indie seperti Sombr dan Geese didorong oleh manipulasi tren di media sosial, terutama TikTok.
Apa Itu Musik Indie?
Musik indie merujuk pada musik yang tidak diproduksi oleh label besar dan biasanya sulit dikategorikan ke dalam satu genre tertentu. Band-band indie sering kali memiliki citra yang unik dan tidak terikat oleh aturan industri musik yang lebih besar. Para penggemar percaya bahwa kesuksesan mereka berasal dari kualitas musik dan kerja keras, bukan dari strategi pemasaran yang agresif.
Namun, situasi ini mulai berubah ketika kehebohan muncul di kalangan penggemar musik indie setelah dugaan manipulasi tren di media sosial menimbulkan pertanyaan besar tentang otentisitas kesuksesan mereka.
Pemicu Instan untuk Sebuah Band
Kegaduhan ini dimulai dari wawancara majalah Billboard dengan Andrew Spelman dan Jesse Coren, pimpinan perusahaan pemasaran asal Amerika Serikat (AS), Chaotic Good Projects, yang mewakili Geese dan Sombr. Dalam wawancara tersebut, keduanya secara terbuka menjelaskan cara mereka membantu lagu-lagu artis menjadi viral.
“Sebagian besar yang kami lakukan adalah memposting dalam jumlah besar di banyak akun dengan impresi yang cukup untuk mencoba menyimulasikan gagasan bahwa lagu itu sedang tren atau sedang meroket,” jelas Spelman. Setelah itu, unggahan para artis juga akan mendapat engagement yang lebih tinggi.
Perusahaan tersebut menggunakan sistem promosi otomatis yang mengelola banyak akun media sosial melalui ribuan iPhone untuk membuat sebuah lagu menjadi populer. Duo itu menganggap “simulasi tren” sebagai semacam pemicu instan bagi klien mereka, yang kemungkinan besar tidak akan terkenal tanpa bantuan tersebut.
Jika seorang artis mulai mendapat perhatian dan berhasil tampil di acara seperti Saturday Night Live (SNL), misalnya, maka fase berikutnya untuk mempromosikan artis itu akan dimulai. “Begitu SNL tayang tengah malam, Anda harus memposting seratus kali bahwa itu adalah penampilan terbaik tahun ini,” lanjut Spelman. Hal itu kemudian menciptakan kesan positif yang nyata di mata pengguna lain. Ia menekankan, “Saya pikir mengendalikan narasi itu sangat-sangat penting.”
Dugaan Manipulasi Angka Streaming
Tidak hanya media sosial, angka streaming di Spotify juga disebut dimanipulasi. Dalam podcast “The Manager’s Playbook,” eksekutif A&R dan manajer musik asal Amerika Serikat, Chris Anokute, memberikan penjelasan terbuka. Label musik diduga menyewa perusahaan promosi untuk memastikan sebuah lagu mendapat puluhan ribu tambahan pemutaran.
“Semua orang di bisnis rekaman…pernah melihat perusahaan mereka curang,” kata Anokute. “Saya bisa bilang, saya juga pernah curang. Mereka menyebutnya pemasaran, tetapi…saya menyebutnya kecurangan. Anda memanipulasi streaming, memanipulasi tangga lagu, memanipulasi data, membayar agar lagu diputar. Itu curang.”
Sejarah Manipulasi Tangga Lagu
Meski cara manipulasinya terus berubah, prinsipnya sendiri sudah ada sejak awal mula industri musik. Manajer dan perusahaan rekaman selalu menemukan cara untuk mempromosikan artis mereka dengan cara-cara yang secara moral dipertanyakan, bahkan terkadang ilegal.
Pada akhir 1950-an, skandal “payola” meledak di AS. Untuk meningkatkan penjualan, DJ radio dan pimpinan stasiun penyiaran menerima uang atau hadiah agar lagu tertentu lebih sering diputar. Praktik ini secara artifisial mendongkrak popularitas musik. Alasannya, pembayaran itu tidak diumumkan sebagai iklan, pendengar pun tertipu. Istilah “payola” merupakan gabungan kata “pay” dan model gramofon “Victrola”. Praktik ini dilarang di AS pada 1960 dan dinyatakan sebagai bentuk persaingan tidak sehat.
Kemudian, sekitar tahun 1970-an, perusahaan rekaman seperti Casablanca Records memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap posisi album dan singel mereka di tangga lagu. Larry Harris, wakil presiden label tersebut pada saat itu, menyuap editor majalah Billboard, yang bertanggung jawab atas tangga lagu AS, untuk mendorong artis-artis Casablanca ke posisi teratas. Karena pada masa itu jaringan department store besar hanya menjual piringan hitam yang masuk dalam tangga lagu Billboard, langkah tersebut sangat memengaruhi penjualan piringan hitam saat itu.
Selanjutnya, pada tahun 1990-an, perusahaan rekaman terkadang memanipulasi angka penjualan dengan menyuap karyawan toko untuk memindai kode batang CD berulang kali di luar jam operasional. Label rekaman juga mengirimkan “tim lapangan” untuk membeli tumpukan CD.
Meski mungkin tidak secara teknis dianggap curang, salah satu cara paling ampuh untuk memengaruhi tangga lagu Eropa adalah dengan tampil di acara TV Jerman yang sangat populer, “Wetten, dass …?” Siapa pun yang menyanyikan lagu hit barunya di acara tersebut hampir pasti akan masuk 10 besar tangga lagu Jerman pada minggu berikutnya. Hal itu menjadi motivasi yang cukup bagi hampir semua artis besar Amerika untuk menyeberangi samudra demi tampil di sana, mulai dari Michael Jackson hingga Cher, Madonna, Backstreet Boys, Justin Timberlake, REM, dan banyak lainnya.
Pada tahun 2005, raksasa industri musik Sony BMG dan Warner Music Group masing-masing membayar $10 juta dan $5 juta (sekitar Rp164 miliar dan Rp82 miliar) untuk menyelesaikan kasus pengadilan terkait kasus suap payola kepada DJ di New York.
Sementara itu, pada 2019, seorang peretas anonim bernama “Kai” mengaku membantu rapper Jerman menguasai tangga lagu dalam dokumenter YouTube produksi “Y-Kollektiv”, jaringan jurnalis penyiaran publik Jerman. Metodenya diduga melibatkan peretasan akun Spotify milik 150.000 hingga 250.000 pengguna Jerman. Ia masuk ke akun tersebut dan membuat mereka “mendengarkan lagu itu tanpa henti.” Semakin lama lagu diputar, semakin tinggi jumlah streaming, semakin bagus posisi di tangga lagu, dan semakin besar uang yang ia dapatkan. Label yang disebut dalam dokumenter tersebut, Groove Attack, membantah keras tuduhan itu.
Chaotic Good Projects kini telah menghapus semua konten tentang pekerjaannya dari situs web mereka. Tampaknya membicarakan metode mereka secara terbuka tidak terlalu baik untuk bisnis.






