Musri dan Misro, Warisan Perajin Kapal Kayu di Pinggir Sungai Bangka Kota

Kehidupan Pengrajin Kapal Kayu di Desa Bangka Kota

Di tengah desa yang terletak di pinggiran sungai, dua pria paruh baya masih setia menjaga tradisi pembuatan kapal kayu. Misro (65) dan Musri (49) adalah salah satu dari sedikit pengrajin yang masih bertahan di Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya di bengkel sederhana yang beratap plastik hitam dan ditopang batang kayu.

Bengkel ini dikelilingi oleh aroma kayu basah dan suara dentuman palu yang terdengar bersahutan. Di bawah terpal hitam yang menggantung seadanya, Misro tampak berdiri di sisi rangka kapal sambil sesekali mengusap peluh di wajahnya. Sementara itu, Musri berada di dalam badan kapal setengah jadi, tangan yang dipenuhi serbuk kayu bergerak hati-hati memegang palu dan alat ukur, memastikan setiap lengkungan kapal tetap presisi.

Di bawah kaki mereka, serpihan kayu berserakan seperti sisa-sisa waktu yang perlahan habis dimakan usia. Sebuah mesin senso tua tergeletak di sudut bengkel dengan cat memudar, seolah ikut menua bersama para pengrajin yang masih setia menjaga tradisi pembuatan kapal kayu di desa itu.

Tradisi yang Perlahan Hilang

Dulu, Bangka Kota dikenal sebagai sentra penghasil kapal berbahan kayu, ukurannya besar-besar. Tak hanya untuk perdagangan, tapi juga sebagai alat pertahanan. Namun kini, tradisi tersebut perlahan kehilangan napas. Bengkel-bengkel kapal yang dahulu ramai di kawasan Bangka Kota satu per satu mulai menghilang. Generasi muda memilih pergi ke perkebunan sawit atau pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Sementara para pengrajin yang tersisa hanya bisa dihitung dengan jari. Pj Kepala Desa Bangka Kota, Suhar, menyebutkan bahwa pengrajin kapal di desa Bangka Kota dahulunya memang banyak. Kalau saat ini kurang lebih di bawah 10 orang pengrajin kapal.

Kesulitan Bahan Baku dan Produksi

Musri mengaku sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bengkel kayu. Sejak tahun 1987, ia meneruskan keahlian membuat kapal dari orang tuanya yang juga pengrajin perahu tradisional. Ia menyebutkan bahwa bahan baku kayu kini semakin sulit didapat. Hutan yang dulu menjadi sumber kayu perlahan berubah menjadi perkebunan sawit.

Kesulitan bahan baku membuat para pengrajin tidak lagi mampu memproduksi kapal besar seperti dahulu. Jika pada era 1990-an pengrajin Bangka Kota mampu membuat kapal sepanjang 33 meter, kini mereka hanya mampu mengerjakan kapal ukuran 12 hingga 16 meter.

Keuntungan yang Tidak Besar

Meski harga kapal bisa mencapai Rp55 juta hingga Rp150 juta, keuntungan yang diperoleh pengrajin ternyata tidak besar. Musri mengatakan tingginya biaya bahan baku dan ongkos produksi membuat penghasilan mereka hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Keuntungan paling hanya sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per hari untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk membeli kayu, ia bahkan harus meminjam modal usaha sebesar Rp25 juta dari Bank Mekar atau PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pinjaman itu dicicil setiap bulan sambil tetap menyelesaikan pesanan kapal.

Masalah Alat Kerja dan Regenerasi

Di tengah keterbatasan alat kerja, kerusakan mesin menjadi persoalan lain yang menghantui para pengrajin. Mesin senso dan bor yang mereka gunakan sudah berumur tua dan kerap rusak saat pengerjaan kapal berlangsung. Musri mengatakan bahwa tidak ada bantuan dari pemerintah. Bahkan dari tahun 1987 tidak ada bantuan pemerintah. Mereka mengalami kesulitan karena alat macet.

Di sela suara palu dan gesekan kayu, ada kegelisahan lain yang lebih besar dirasakan para pengrajin: hilangnya regenerasi. Anak-anak muda di Bangka Kota kini dinilai tidak lagi tertarik mempelajari keterampilan membuat kapal kayu. Proses panjang, pekerjaan berat, dan keuntungan yang kecil membuat profesi itu semakin ditinggalkan.

Upaya Pembinaan dan Pelatihan

Menurut Suhar, sebagian besar masyarakat kini beralih bekerja di sektor perkebunan sawit dibanding menjadi nelayan ataupun pengrajin kapal. Ia menyebutkan bahwa ke depan mungkin akan dilakukan pelatihan, bersama BLK maupun perindustrian. Mereka akan mengirim warga untuk belajar, agar bisa mempertahankan atau meregenerasi pengrajin kapal ini.

Sentra Pembuatan Kapal Kayu di Wilayah Pesisir

25 titik pembuatan perahu tradisional masih bertahan dan tersebar di wilayah pesisir Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Keberadaan sentra pembuatan kapal kayu tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas nelayan tangkap di daerah kepulauan.

Namun hingga kini pembinaan terhadap pengrajin kapal masih terbatas karena pemerintah daerah lebih memfokuskan bantuan kepada nelayan. Kondisi itu membuat pengrajin kapal lokal masih bergantung pada pesanan mandiri dari masyarakat dan nelayan setempat.

Fokus Pembinaan Nelayan

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, menyebutkan bahwa sentra pembuatan kapal tradisional tersebar hampir di seluruh kawasan pesisir. Untuk Kecamatan Toboali terdapat 10 titik pembuatan kapal yang berada di berbagai lokasi. Sementara di Kecamatan Tukak Sadai terdapat lima lokasi pembuatan kapal yakni di Tukak, kawasan Proyek Kolong Telek, Pasir Putih, Sadai dan Pengorom.

Peran Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan lebih difokuskan terhadap pembinaan dan bantuan bagi nelayan dibanding pengrajin kapal. Bantuan yang diberikan selama ini berupa sarana dan prasarana penangkapan ikan seperti kapal, mesin, jaring dan perlengkapan melaut lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *