BERITA  

Ibu di Cirebon Sedih Lihat Anak Putus Sekolah Meski Hidup di Rumah Tak Layak

Kondisi Keluarga yang Mengalami Kesulitan

Di sebuah desa kecil bernama Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, terdapat sebuah rumah sederhana yang tampak jauh dari kata layak. Rumah tersebut berdinding bilik bambu dan memiliki atap yang bocor serta lantai berupa tanah. Di dalamnya hanya terdapat satu kasur tipis, lemari kayu tua, dan beberapa perabot sederhana.

Di sudut rumah sempit tersebut, Aji Prayogo (17) terlihat duduk mendekap lutut sambil menatap kosong ke arah lantai. Sejak hampir setahun terakhir, remaja ini memilih untuk berhenti sekolah dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hal ini diduga disebabkan oleh kondisi mentalnya yang mengalami depresi berat.

Sang ibu, Dianah (38), mengaku sedih melihat perubahan sikap anaknya yang kini lebih sering termenung dan tidak lagi memiliki semangat menjalani aktivitas seperti sebelumnya. Menurut Dianah, kondisi Aji mulai berubah setelah sering bergaul dengan lingkungan yang dinilai kurang baik. Selain itu, anaknya juga disebut kerap mendapatkan perlakuan bullying dari teman sebaya hingga dituduh melakukan pencurian.

“Melamun terus tadinya punya motor, terus motornya dijual. Terus jadi melamun, terus pergaulannya itu enggak bener sama main sama teman. Jadi sering ini, dituduh maling sama si itu, temennya,” ujar Dianah saat diwawancarai media.

Dianah mengatakan, kondisi mental anaknya semakin menurun setelah motor kesayangan Aji dijual keluarga karena himpitan ekonomi. Akibat kondisi tersebut, Aji akhirnya memilih putus sekolah dan lebih banyak mengurung diri di rumah.

Beban keluarga itu terasa semakin berat karena mereka juga hidup dalam kondisi ekonomi serba kekurangan. Dianah mengaku, selama empat tahun terakhir keluarganya tinggal di rumah reyot tersebut karena belum mampu memperbaikinya. Ia mengatakan, dirinya bersama keluarga bahkan masih tidur di lantai tanah karena belum memiliki lantai permanen di dalam rumah.

“Tidurnya di atas tanah, keadaan masih tanah, belum ada lantai,” ujarnya.

Suami Dianah yang bekerja sebagai buruh bangunan hanya memiliki penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. “Penghasilan suami cuma cukup buat makan saja,” ucap Dianah.

Jika hujan deras dan angin kencang datang, keluarga itu terpaksa mengungsi ke rumah saudara karena khawatir bangunan rumah ambruk sewaktu-waktu. Kini, Dianah hanya berharap ada perhatian dan bantuan bagi keluarganya, termasuk pendampingan psikologis untuk Aji agar kondisi mental anaknya dapat berangsur membaik.

Kasus yang dialami Aji juga menjadi pengingat pentingnya perhatian keluarga dan lingkungan terhadap kesehatan mental remaja, termasuk mencegah bullying dan memberikan dukungan kepada anak-anak yang mengalami tekanan psikis.

Sebelumnya, pihak Desa Beringin mengaku telah mengusulkan rumah keluarga Dianah untuk mendapatkan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). “Kami dari pemerintah desa sudah pernah mendata ke dinas terkait untuk program Rutilahu. Cuma sampai saat ini belum ada kabar lebih konkretnya terkait itu,” ujar Perangkat Desa Beringin, Supriyadi.

Menurutnya, bantuan warga sejauh ini baru berupa kebutuhan sehari-hari dan belum menyentuh perbaikan rumah. “Kalau dari tetangga lebih ke bantuan kemanusiaan untuk makan sehari-hari. Tetapi untuk perubahan rumah atau material, belum sama sekali,” ucapnya.

Pihak desa berharap keluarga Dianah bisa menjadi prioritas penerima bantuan rumah layak huni mengingat kondisi yang dialami keluarga tersebut sangat memprihatinkan. “Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan ini, semoga menjadi prioritas bersama agar dinas terkait bisa segera melihat kondisi warga Desa Beringin,” jelas dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *