Perubahan Strategi Honda Akibat Kerugian Tahunan
Honda Motor Co. mengalami kerugian tahunan pertama sejak perusahaan terdaftar di bursa pada tahun 1957. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang cukup besar dari bisnis mobil listrik, sehingga memaksa produsen otomotif asal Jepang ini untuk melakukan perubahan strategi.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Kyodo, pada Jumat (15/5), Honda mencatatkan kerugian bersih sebesar 423,94 miliar yen atau sekitar Rp 47,1 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Angka ini jauh lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya, ketika Honda masih meraup laba bersih sebesar 835,84 miliar yen atau sekitar Rp 92,8 triliun.
Kerugian ini menjadi yang pertama dalam sejarah perusahaan sejak terdaftar di bursa. Kondisi ini menunjukkan bahwa koreksi strategi elektrifikasi yang dilakukan Honda memiliki biaya yang sangat tinggi. Laba operasional juga mengalami penurunan drastis, menjadi rugi sebesar 414,35 miliar yen atau sekitar Rp 46 triliun. Sebelumnya, Honda masih mampu mencetak laba operasional sebesar 1,21 triliun yen atau sekitar Rp 134,3 triliun.
Meskipun penjualan Honda meningkat tipis sebesar 0,5 persen menjadi 21,80 triliun yen atau sekitar Rp 2.419,8 triliun, kenaikan omzet tersebut tidak cukup untuk menutupi tekanan dari restrukturisasi perusahaan. CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengakui bahwa situasi saat ini sangat serius dan menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan adalah menghentikan “pendarahan” secepat mungkin.
Penyebab Utama Kerugian
Sumber utama kerugian berasal dari restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV). Honda membukukan beban sebesar 1,58 triliun yen atau sekitar Rp 175,4 triliun, yang lebih besar dari estimasi sebelumnya. Perusahaan bahkan memperkirakan adanya rugi tambahan sebesar 500 miliar yen atau sekitar Rp 55,5 triliun dari bisnis EV pada tahun ini. Hal ini menandakan bahwa tekanan belum berakhir.
Sebagai respons terhadap situasi ini, Honda menghentikan pengembangan tiga model EV untuk Amerika Utara. Rencana pembangunan pabrik EV dan baterai di Kanada juga dibekukan. Perusahaan kini mengalihkan fokus ke mobil hybrid. Honda menargetkan peluncuran 15 model hybrid baru secara global hingga tahun 2030.
Target elektrifikasi penuh juga direvisi. Honda membatalkan rencana untuk menjadikan seluruh model sebagai EV atau fuel-cell pada tahun 2040.
Performa Pasar Global
Di pasar global, penjualan mobil Honda turun sebesar 8,9 persen menjadi 3,39 juta unit. Penurunan tajam terjadi di China, yang menjadi salah satu penyebab utama penurunan penjualan. Di sisi lain, bisnis sepeda motor justru mencetak rekor. Penjualan global mencapai 22,10 juta unit, naik 7,4 persen berkat permintaan kuat dari India dan Brasil.
Selain itu, Honda juga terkena dampak dari tarif impor mobil Jepang ke AS. Beban dari kebijakan tersebut diperkirakan mencapai 347 miliar yen atau sekitar Rp 38,5 triliun.
Harapan untuk Pemulihan
Meski menghadapi tantangan besar, Honda tetap optimistis bisa bangkit. Tahun ini, perusahaan menargetkan laba bersih sebesar 260 miliar yen atau sekitar Rp 28,9 triliun. Dengan perubahan strategi dan fokus pada mobil hybrid, Honda berharap dapat memperbaiki kinerja keuangan dan kembali stabil di pasar global.






