SURABAYA – Suasana haru menyelimuti prosesi pengambilan sumpah dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (21/5/2026). Di antara 16 dokter baru yang dilantik, terdapat sosok muda asal Bangkalan, Madura, bernama Benta Malika El Ghameela yang membawa cerita penuh perjuangan dan pengorbanan keluarga.
Bagi Benta, setiap ujian selama menempuh pendidikan dokter selalu diawali dengan ritual sederhana namun penuh makna. Sebelum memasuki ruang ujian, ia rutin mengirim pesan kepada sang ibu yang tinggal di Madura.
Isi pesannya selalu sama, yakni nama dosen penguji, jadwal ujian, hingga lokasi ujian berlangsung. Setelah pesan diterima, ibundanya langsung membaca Surat Yasin hingga ujian selesai.
“Kalau saya sudah kasih kabar ujian selesai, baru Mama berhenti membaca Yasin,” ujar Benta mengenang kebiasaan tersebut.
Perjalanan Benta menuju gelar dokter tidak lahir dari kondisi serba mudah. Ia berasal dari keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari usaha fotokopi dan percetakan kecil di Madura.
Lahir di Bangkalan pada 9 April 2000, Benta merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Keinginannya menjadi dokter tumbuh sejak kecil saat melihat sang kakek rutin menjalani pengobatan akibat komplikasi diabetes dan gangguan ginjal.
“Saya dulu berpikir kalau jadi dokter mungkin bisa membantu merawat keluarga sendiri,” katanya.
Impian itu terus ia pegang hingga menempuh pendidikan di SMA Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya. Bahkan dalam setiap surat ulang tahun untuk kedua orang tuanya, Benta selalu menuliskan kalimat yang sama.
“Dari putri cantik kalian, dokter Benta.”
Tulisan sederhana itu kemudian disimpan oleh kedua orang tuanya sebagai penyemangat.
Namun jalan menuju cita-cita tidak selalu mulus. Saat pandemi Covid-19 melanda, usaha keluarga yang bergantung pada jasa fotokopi mengalami penurunan drastis karena sekolah dan perkantoran tutup.
Kondisi tersebut sempat membuat Benta khawatir tidak mampu melanjutkan pendidikan kedokteran yang membutuhkan biaya besar.
Di tengah tekanan ekonomi, kedua orang tuanya memilih mencari tambahan penghasilan dengan berjualan pakaian agar biaya kuliah anaknya tetap terpenuhi.
“Orang tua saya tidak pernah menunjukkan kalau sedang kesulitan. Mereka hanya meminta saya fokus belajar,” tuturnya.
Selama menjalani pendidikan kedokteran, Benta juga mengaku pernah merasa minder karena banyak mahasiswa berasal dari keluarga berkecukupan.
“Saya cuma naik motor biasa dan memakai handphone sederhana,” ujarnya.
Perasaan tersebut justru mendorongnya aktif mengikuti organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional untuk memperluas relasi dan meningkatkan kemampuan diri.
Saat memasuki masa koas, tantangan kembali datang. Jadwal panjang, tekanan akademik, hingga pengalaman dimarahi pasien maupun tenaga kesehatan pernah ia rasakan.
Meski demikian, ada satu pengalaman yang membekas dalam ingatannya. Seorang keluarga pasien pernah menghampirinya usai pasien dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
“Dok, terima kasih sudah sering nengok Bapak,” kata keluarga pasien saat itu.
Ucapan sederhana tersebut membuat Benta merasa perjuangannya selama kuliah tidak sia-sia.
Kini, dokter muda tersebut bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis bedah. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia ingin kembali ke Madura untuk mengabdi.
“Di Madura masih banyak kebutuhan dokter spesialis,” pungkasnya.






