BERITA  

7 Naskah Khutbah Idul Adha 1447 H/2026 dengan Tema Mendalam tentang Makna Ibadah Kurban

  • Pemerintah melalui Kementerian Agama melakukan sidang isbat untuk menetapkan awal bulan Zulhijah 1447 H.

    Dipastikan tanggal 1 Zulhijah 1447 jatuh pada Sabtu 18 Juni 2025. Dengan demikian diketahui bahwa Idul Adha yang bertepatan dengan 10 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin 27 Mei 2026.

    Sebagaimana hari raya Idul Fitri, pada Idul Adha, kaum muslimin melaksanakan salat sunat Idul Ada. Tata caranya persis dengan salat Id, yaitu terdiri atas 2 rakaat.

    Pada rakaat pertama, dilakukan takbir 7 kali dan di rakaat kedua takbir sebanyak 5 kali saat memulai salat.

    Selain itu, ada juga kesunnahan lainnya, yaitu khutbah seusai salat Id.

    Jadi berbeda dengan khutbah Salat Jumat yang merupakan rukun atau syarat sah salat, maka khutbah saat salat id adalah kesunnahan saja.

    Berikut ini contoh khutbah Salat Idul Adha 1447 H yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 mendatang.

7 Naskah Khutbah Idul Adha 2026

1. Mencari Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Diri Manusia

Khutbah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا وَمَوْسِمًا لِلْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ، وَتَكْفِيْرِ الذُّنُوْبِ وَالرَّفْعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا الْفَوْزَ يَوْمَ الْمَقَامَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ma’asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha rahimakumulah

Di awal khutbah hari raya Idul Adha ini, marilah kita tundukkan hati dan lafalkan syukur kepada Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya, masih memberikan kita kesehatan dan umur panjang untuk bisa hadir kembali melaksanakan sholat sunah Idul Adha, di hari yang penuh sejarah, penuh teladan, dan penuh pengorbanan ini. Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, dan umatnya. Semoga kita dikumpulkan bersamanya di akhirat, dalam surga yang penuh rahmat dan nikmat. Amin ya rabbal alamin.

Selanjutnya, di hari yang mulia ini, saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT. Takwa yang tumbuh dari hati, jiwa, dan amal saleh yang ikhlas. Takwa sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, yang siap meninggalkan apa pun demi menjalankan perintah Tuhannya. Hingga apa yang ia lakukan tidak hanya menjadi sekadar cerita saat ini, tetapi menjadi panggilan untuk ditanamkan dalam laku hidup kita semua.

Ma’asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha rahimakumullah

Hari raya Idul Adha tidak sekadar hari raya biasa. Ia merupakan peringatan tentang kesabaran paling tinggi, ketika taat pada perintah Allah harus rela mengorbankan anak sendiri. Dalam kisahnya, tepat pada hari ini, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Disembelih oleh tangannya sendiri, di hadapan matanya, dan dengan kesadaran penuh sebagai bentuk patuh pada perintah-Nya.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu kisah kesabaran yang sangat luar biasa untuk kita teladani bersama. Allah swt berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya, “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.’” (QS Ash-Shaffat, [37]: 102).

Dalam potongan kisah tersebut, kita menyaksikan dua sosok luar biasa, (1) ayah yang berserah penuh kepada Allah dengan mengorbankan putranya, dan (2) anak yang menerima takdir dengan sabar dan ikhlas. Nabi Ibrahim tidak hanya menunjukkan ketaatan sebagai seorang hamba, tapi juga keberanian sebagai seorang ayah yang sanggup menundukkan rasa cintanya kepada sang anak demi patuh kepada Tuhannya. Begitu juga Ismail, keteguhan hatinya memperlihatkan bahwa jiwanya tidak goyah sekalipun diperintah untuk menyerahkan nyawanya.

Namun juga perlu kita ketahui, bahwa apa yang dilakukan keduanya tidak sekadar hubungan antara ayah dan anak biasa. Keduanya adalah manusia pilihan yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Maka keteladanan ini bukanlah ajakan agar orang tua bisa meminta apa pun pada anaknya, atau agar anak selalu menuruti tanpa berpikir. Karena pelajaran besarnya adalah tentang kesungguhan iman ketika perintah dari Allah datang dengan jelas, dan pengorbanan terhadap ego pribadi ketika kebenaran sudah nyata.

Ma’asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah

Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan putranya, dan pisau telah siap di tangannya, serta Nabi Ismail telah ridha dan pasrah pada perintah Allah. Pada saat itulah, datang seruan dari Allah swt, bahwa semua itu hanyalah ujian keimanan, dan tidak benar-benar akan mengambil nyawa sang anak. Kemudian Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang agung. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

Artinya, “Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shaffat, [37]: 105-107).

Inilah ruh dari Idul Adha, yaitu tunduk patuh dan menerima pada apa yang Allah tetapkan sebagaimana yang tercermin dalam diri Nabi Ibrahim, serta ikhlas dan sabar sebagaimana dalam diri Nabi Ismail. Ibrahim tidak hanya semata menyembelih, tapi melepas rasa kepemilikan yang berlebihan, menyembelih ego, menyembelih rasa takut yang menghalanginya dari total patuh kepada Allah.

Lantas, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini? Pelajarannya adalah menerima terhadap semua takdir dan ketentuan Allah dengan ikhlas dan percaya, bahwa semua itu benar-benar yang terbaik bagi kita semua, tanpa mengeluh, tanpa marah, dan tanpa memberontak. Karena ketika Ibrahim dan Ismail pasrah dan menerima semuanya, apa yang terjadi? Allah memberikan ganti dari ujian tersebut dan tidak menjadikan Ismail sebagai kurban.

Pelajaran dan penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Mutawalli asy-Syarawi, dalam kitab Tafsir wa Khawathirul Umam, jilid IV, halaman 417, ia mengatakan:

وَتُعَلِّمُنَا هَذِهِ الْوَاقِعَةُ أَنَّكَ إِذَا مَا جَاءَ لَكَ قَضَاءٌ مِنَ اللهِ إِيَّاكَ أَنْ تَجْزَعَ، إِيَّاكَ أَنْ تَسْخَطَ، إِيَّاكَ أَنْ تَغْضَبَ، إِيَّاكَ أَنْ تَتَمَرَّدَ، لِأَنَّكَ بِذَلِكَ تُطِيْلُ أَمَدَ الْقَضَاءِ عَلَيْكَ، وَلَكِنْ سَلِّمْ لِقَضَاءِ اللهِ فَيُرْفَع هَذَا الْقَضَاءُ، لِأَنَّ الْقَضَاءَ لاَ يُرْفَعُ حَتَّى يُرْضَى بِهِ

Artinya, “Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa jika datang suatu ketetapan dari Allah kepadamu, maka janganlah engkau gelisah, jangan marah, jangan murka, dan jangan memberontak. Karena jika engkau melakukan itu, itu hanya akan memperpanjang masa ketetapan itu atas dirimu. Akan tetapi, berserah dirilah pada ketetapan Allah, niscaya ketetapan itu akan diangkat. Sebab, suatu ketetapan tidak akan diangkat hingga diridhai oleh yang menerimanya.”

Ma’asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah

Dengan demikian, maka Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita arti sejati dari cinta yang tidak melampaui cinta kepada Allah. Nabi Ismail mengajarkan kepada kita makna kesabaran, keikhlasan, dan ridha dalam menerima takdir. Inilah keteladanan yang kita cari dalam diri manusia, yaitu menjadi hamba yang patuh tanpa syarat, dan menjadi manusia yang teguh saat diuji dengan pengorbanan.

Mari kita pulang dari sholat Idul Adha ini dengan membawa semangat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ke dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita sembelih ego kita yang sombong, kita tebas rasa tamak dan dengki, dan kita gantikan dengan ketundukan, keikhlasan, dan ketakwaan yang sejati. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala keadaan, dan semoga ibadah kita diterima sebagaimana Allah menerima pengorbanan Ibrahim dan Ismail.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيّاً وَحِينَ تُظْهِرُونَ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

2. Iman Yang Tunduk Dan Akal Yang Tercerahkan

Khutbah Pertama

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْـحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

نَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْا بِهَا النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْقَائِمُ بِأَمْرِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالشُّكْرِ وَهَذَا الدِّيْنِ مَتِيْنٌ فَأَوْثِقُوْ عُرَاهُ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اللَّهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Dengan kasih sayang dan karunia-Nya yang tak terhingga, kita kembali dipertemukan di pagi yang mulia ini-hari yang insya Allah penuh berkah, penuh makna, dan penuh syukur. Hari Idul Adha 1447 H, hari raya umat Islam kedua setelah Idul Fitri.

Alhamdulillah, dengan izin Allah, kita semua dapat hadir di tempat ini dalam keadaan sehat, damai, dan dalam limpahan nikmat yang tak terhitung dalam rangka menunaikan salah satu sunnah mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: merayakan Idul Adha dan menunaikan ibadah udhiyah sebagai bentuk taqarrub kepada Allah, dimulai hari ini, kemudian dilanjutkan 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, insya Allah.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, suri teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan.

Semoga pula tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang setia mengikuti jalan hidup beliau hingga hari akhir kelak.

Ma’asyiral muslimin, jemaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1447 H memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan, serta membuat kita semua berkumpul di tempat ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka.

Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim, Ibunda Hajar dan anaknya Nabi Ismail. Mari kita bayangkan, bahwa lebih dari 4.000 tahun lalu tiga manusia agung itu (Ibrahim, Hajar dan Ismail) berjalan kaki sejauh lebih dari 2.000 km (atau sejauh Makassar-Jakarta) dari negeri Syam (yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Yordania dan Lebanon) menuju jazirah tandus, Makkah al-Mukarramah.

Bayangkan, bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa. Bagaimana pula Ka’bah yang pada awalnya hanya dithawafi oleh tiga manusia agung itu. Hingga hari ini, jutaan manusia mengunjungi kota Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, dan mereka berasal dari berbagai penjuru dunia.

Jika kita buka lembar sejarahnya, Mekkah pada zaman Nabi Ibrahim adalah padang tandus yang panas, gersang, dan sepi tanpa penghuni. Kondisinya tergambar dalam doa Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Ibunda Hajar dan Nabi Ismail:

رَبَّنَآ اِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma’asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Perayaan Idul Adha yang kita laksanakan hari ini sejatinya bukan hanya rutinitas tahunan yang selalu dilewati tanpa makna. Ia adalah pengingat yang memanggil memori ingatan kita pada peristiwa ribuan tahun yang lalu. Peristiwa yang menjadi penentu arah masa depan peradaban manusia.

Untuk apa? untuk kita ambil pelajaran penting tentang arti sebuah pengorbanan.

Sebuah pengorbanan dari tiga manusia agung, Nabi Ibrahim, istrinya yaitu Ibunda Hajar, dan anaknya Nabi Ismail. Pengorbanan yang melampaui batas nalar akal manusia.

Dalam pengorbanan ini ada pergulatan antara hati dan logika. Antara keinginan pribadi dan kepatuhan kepada perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Mari kita bayangkan sekali lagi, bagaimana mungkin seorang bapak diperintah untuk menyembelih anaknya? Akal sehat mana di dunia ini yang membenarkan perbuatan itu. Hati nurani mana yang tidak tersentak dan menggigil membayangkan sebuah peristiwa aneh dan janggal tersebut.

Kata Nabi Ibrahim kepada anaknya:

قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّي أَرٰى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

“(Yaa bunayya -panggilan sayang) Wahai Anakku sayang, tadi malam Ayah bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih dirimu, apa pendapatmu, Nak?”

Awal menerima perintah itu Nabi Ibrahim ragu-ragu, namun mimpi itu terulang sebanyak tiga kali, dan akhirnya beliau benar-benar yakin bahwa itu adalah perintah dari Allah.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di satu sisi mengimani bahwa mimpi menyembelih anaknya adalah kebenaran wahyu, tapi di sisi lain, dia akan melihat anaknya terputus urat lehernya disembelih oleh tangannya sendiri.

Betapa getirnya perasaan itu, membayangkan tubuh kecil yang pernah dipeluk dalam rindu dan dijaga dengan penuh kasih sayang, kini harus ia rebahkan sendiri ke tanah, lalu mengayunkan pisau ke lehernya.

Ini ujian tidak hanya menantang akal sehat, tetapi juga mengguncang hati manusia paling kuat sekalipun.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma’asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Tapi akhirnya Nabi Ibrahim memenangkan keimanannya. Betapa pun tidak masuk di akal perintah itu, dia hiraukan. Siapa pun yang menolak, bahkan setan sekalipun, akan beliau lawan demi menjalankan perintah Allah tersebut.

Apa kira-kira respons Nabi Ismail ketika disampaikan padanya perintah tersebut?

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

“Ayah, kerjakan apa yang Allah perintah kepada Ayah, Insyaallah aku sabar dengan perintah itu.” Tidak ada sedikitpun bantahan, tidak ada keberatan, kalau itu perintah Allah, apapun konsekuensinya harus dilaksanakan.

Ini bukan sekedar ketaatan biasa. Ini adalah puncak dari pemahaman tentang hidup dan makna pengabdian. Bagi Nabi Ismail, hidup bukan mutlak milik dirinya. Hidup adalah titipan, jika Sang Pemilik memintanya kembali maka tidak ada alasan untuk tidak menyerahkannya.

Kepasrahan Nabi Ismail adalah cermin dari jiwa yang telah merdeka dari rasa memiliki, dan benar-benar berserah kepada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan karena takut dan pasrah, tapi karena Nabi Ismail paham betul, ini adalah perintah Allah, dan perintah ini harus dikerjakan apapun resikonya, termasuk jika dengan itu nyawa sendiri harus menjadi taruhannya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma’asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Lalu ketika perintah untuk menyembelih Nabi Ismail disampaikan oleh Nabi Ibrahim kepada istrinya ibunda Hajar, bayangan kita, kira-kira apa reaksinya?

Reaksi normal seorang dari ibu yang begitu mencintai buah hatinya. Buah hati yang kehadirannya ditunggu dengan penuh harap dalam penantian yang panjang. Dalam munajat penuh cucuran air mata di malam-malam sepi. Karena berharap betul dikarunai Allah seorang keturunan shaleh.

Reaksi wajar ibunda Hajar pasti akan menganggap suaminya tidak waras. Tapi kejadian itu tidak pernah tertulis oleh tinta emas sejarah.

Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Ibunda Hajar ridha dengan perintah itu. Dengan sepenuh hati, ia mempersil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *