BERITA  

Abu Janda Dilaporkan ke Polisi oleh Ikatan Keluarga Minang, Komentar Sumbar ‘Barbar’ dan Intoleran

Tindakan Hukum IKM terhadap Abu Janda

Ikatan Keluarga Minang (IKM) mengambil langkah tegas terkait tudingan miring yang disampaikan oleh pegiat media sosial Permadi Arya atau lebih dikenal dengan nama Abu Janda. Pada hari ini, Selasa (26/5), IKM akan melaporkan Abu Janda ke Mabes Polri. Langkah hukum ini diambil sebagai respons terhadap video viral yang menyebut wilayah Sumatera Barat (Sumbar) sebagai daerah intoleran dan menggunakan kata “barbar”.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM), Braditi Moulevey Rajo Mudo, membenarkan kabar tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihaknya siap membawa kasus ini ke jalur hukum pada pukul 1 siang di Mabes Polri.

“Ya. Insya Allah nanti jam 1 siang di Mabes Polri ya,” ujar Levi saat dikonfirmasi.

Keputusan untuk mempolisikan Abu Janda diambil setelah pengurus IKM menggelar rapat intensif pada Senin (25/5) kemarin. Tim hukum IKM juga telah melakukan kajian mendalam terhadap pernyataan kontroversial tersebut sebelum membuat laporan resmi.

Penolakan Terhadap Tuduhan Kristen Fobia di Sumbar

Sebagai putra asli daerah, Levi menyayangkan ucapan Abu Janda yang dinilai provokatif dan tidak bijak. Menuduh masyarakat Sumbar anti-Kristen disebutnya sebagai kesalahan yang fatal.

“Saya fikir apa yang ia sampaikan tidak bijak dan kurang pantas, menyebut bahwa Sumbar itu kristen fobia atau tidak memiliki toleransi untuk umat non-muslim adalah sebuah kekeliruan besar,” kata Levi.

Ia menegaskan bahwa kerukunan umat beragama di Ranah Minang sudah mengakar kuat sejak lama. Baginya, menilai sebuah daerah secara sepihak tanpa riset hanya akan menciptakan stigma negatif yang keliru.

“Saya lahir dan besar di Padang. Saya sangat meyakini bahwa masyarakat kita memiliki budaya toleransi yang kuat,” lanjutnya.

Mengingat Kembali Sejarah Tokoh Bangsa Asal Minang

Untuk meluruskan cap intoleran tersebut, Levi mengajak publik melihat kembali sejarah kemerdekaan Indonesia. Banyak pahlawan nasional asal Minangkabau yang justru menjadi pilar penjaga keberagaman dan dasar negara.

Beberapa tokoh seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Yamin, Sjafruddin Prawiranegara, Tan Malaka, Agus Salim, hingga Mohammad Natsir. Bung Hatta bahkan punya peran krusial dalam mengubah sila pertama Pancasila demi menjaga persatuan bangsa.

Tidak hanya itu, sejarah mencatat ulama Minang Syeikh Abbas Abdullah dari Padang Japang adalah sosok yang menyarankan Bung Karno agar dasar negara berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Fakta sejarah ini membuktikan kuatnya rasa nasionalisme warga Minang.

“Jadi jangan langsung mengecap Sumbar itu intoleran, begitu juga dengan sejumlah daerah lain yang dia sebutkan, saya rasa itu tidak elok dan tak arif untuk disampaikan, di samping juga bisa menimbulkan perpecahan antar umat beragama,” tegas Levi.

Warga Minang Diminta Tahan Diri, Bukti Hukum Dikumpulkan

Khawatir tuduhan ini memicu gesekan sosial, DPP IKM kini bergerak cepat mengumpulkan bukti-bukti ucapan kontroversial Permadi Arya di ruang publik.

Levi menjamin bahwa Sumatera Barat adalah wilayah yang ramah bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

“Pernyataan itu bisa menimbulkan gaduh dan gesekan antar umat beragama. Saya bisa pastikan dan tegaskan, sebagai seorang yang murni lahir dan besar di Padang, pernyataan Abu Janda soal Sumbar itu intoleran adalah menyesatkan dan tak bisa dipercaya, justru sebaliknya kami sangat menerima siapapun yang datang ke provinsi ini tanpa melihat latar belakang dan agama yang dianut,” tegasnya.

Di sisi lain, pengurus pusat IKM mengimbau seluruh warga Minang, baik di kampung halaman maupun di perantauan, untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Minang dimanapun berada agar bisa menahan diri dan tidak terpancing anarkis. Kita akan ambil mengambil langkah hukum,” tutur Levi.

Awal Mula Pernyataan Kontroversial Abu Janda

Polemik panas ini bermula dari ucapan Abu Janda dalam sebuah forum yang membahas isu intoleransi di Indonesia. Ia menyoroti wilayah Indonesia bagian barat yang diklaim memiliki sentimen anti-Kristen cukup tinggi.

“Tiga tahun terakhir ini bapak-apak, ibu-ibu, kristen fobia itu atau sentimen anti kristen-lah itu lumayan parah di negara kita, tidak di semua wilayah, wilayah tengah dan timur lumayan kondusif, banyak kasus intoleransi itu terjadi di Waktu Indonesia Bagian Barat atau di WIB, Jawa Barat, Banten, Lampung, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara sama yang paling ujung saya tidak usah sebut namanya lah,” kata Abu Janda dalam video tersebut.

Suasana semakin memanas karena Abu Janda kedapatan menyindir karakter masyarakat di Jawa Barat dan Sumatera Barat dengan pilihan kata yang dinilai sangat ofensif.

“Nah itu (kasus intoleran) yang satu di Jabar satu lagi di Sumbar, saya gak tahu nih yang ada barbar-nya ini. Saya juga aneh gitu yang ada barbar-nya kok banyak yang barbar gitu,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *