BERITA  

Aurelie Moeremans Khawatir dengan Kondisi Papua, Lihat Sendiri Ketakutan Burung Cendrawasih

Pengalaman Emosional Aurelie Moeremans Saat Berkunjung ke Papua

Aktris ternama Aurelie Moeremans baru-baru ini membagikan pengalaman emosionalnya saat berkunjung ke Papua melalui unggahan video di media sosial. Pengalaman tersebut terjadi di tengah ramainya perbincangan mengenai film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, yang menyoroti isu-isu sensitif terkait konflik agraria, masyarakat adat, dan dampak proyek besar di wilayah Papua terhadap lingkungan serta kehidupan warga setempat.

Dalam video yang diunggahnya, Aurelie menyampaikan rasa takut dan sedih yang masih membekas hingga saat ini. Ia mengaku bahwa momen pertamanya melihat burung Cendrawasih secara langsung di habitat alaminya justru menjadi pengalaman yang sangat mengguncang. “Oke, tanggapan aku, ini pertama kali aku melihat Cendrawasih secara langsung di hutannya, dan aku hancur,” ujarnya.

Aurelie juga menceritakan penjelasan dari masyarakat setempat tentang perubahan perilaku burung ikonik Papua tersebut. Menurut mereka, burung Cendrawasih kini takut mendekati tanahnya sendiri. Mereka harus terbang semakin tinggi dan jauh dari rumah karena hutan yang dulu menjadi tempat tinggal mereka telah berubah drastis.

“Katanya burung itu takut mendekati tanahnya sendiri. Harus terbang makin tinggi, makin tinggi, makin jauh dari rumahnya, karena di bawah sana hutannya sudah tidak sama lagi,” tutur Aurelie. Ia menambahkan bahwa hutan-hutan tersebut telah dibabat, diganti, dan diambil oleh orang-orang yang mungkin tidak pernah datang ke Papua, bahkan tidak pernah melihat keindahan yang mereka rusak.

Ancaman Eksploitasi terhadap Hutan Papua

Aurelie juga menyentil persoalan eksploitasi yang dilakukan demi keuntungan tanpa batas, yang akhirnya merusak ekosistem alam di Papua. Ia menegaskan bahwa keuntungan yang diperoleh tidak akan pernah dirasakan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.

“Aku ke sini sama WWF untuk melihat, belajar, merasakan langsung. Dan yang aku bawa pulang bukan oleh-oleh, tapi ketakutan,” ucapnya. Ketakutan yang dimaksud Aurelie berkaitan dengan masa depan satwa dan hutan Papua. Ia sangat khawatir jika anak hingga cucunya nanti hanya bisa melihat burung Cendrawasih di buku saja.

“Ketakutan bahwa suatu hari nanti, satu-satunya tempat anak cucu kita bisa melihat Cendrawasih, ya di buku pelajaran sekolah,” tuturnya.

Perjalanan yang Mengubah Perspektif

Selain video tersebut, Aurelie juga menulis panjang dalam keterangan unggahannya. Ia mengaku awalnya tidak menyangka perjalanan ke Papua justru membuatnya pulang dengan hati yang hancur. “Dulu saat aku pergi ke Papua bersama WWF, aku tidak pernah menyangka akan pulang dengan hati yang hancur,” tulisnya.

Ia menyoroti ancaman terhadap hutan Papua yang menurutnya berdampak pada lingkungan dan masyarakat adat yang telah tinggal di wilayah tersebut selama ribuan tahun. “Ada 2,5 juta hektare hutan hujan Papua yang sedang dibuka. Untuk minyak sawit. Untuk tebu. Untuk bahan bakar mobil kita,” ungkap Aurelie. Ia menambahkan bahwa masyarakat adat yang sudah hidup di sana selama ribuan tahun bahkan tidak pernah dimintai pendapat.

Dampak Film Dokumenter Pesta Babi

Unggahan Aurelie muncul di saat isu Papua kembali menjadi perhatian publik seiring polemik film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film tersebut mengangkat isu konflik agraria, masyarakat adat, hingga dampak proyek besar di Papua terhadap lingkungan dan ruang hidup warga. Belakangan, film itu menjadi sorotan setelah sejumlah agenda pemutarannya di berbagai daerah dikabarkan mengalami penolakan dan pembatalan.

Di sisi lain, dokumenter tersebut juga menuai perhatian luas karena mengangkat persoalan sensitif mengenai proyek pembangunan dan kehidupan masyarakat adat Papua. Di tengah perdebatan yang berkembang, unggahan Aurelie menghadirkan sudut pandang yang lebih personal. Bukan melalui film dokumenter atau data lapangan, melainkan dari pengalaman langsung yang menurutnya meninggalkan rasa sedih dan ketakutan mendalam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *