Kehidupan Modestus Arpikini: Dari Kampung Pesisir ke Dunia Akademik Nasional
Modestus Arpikini, seorang pemuda asli suku Kamoro dari kampung Akar di Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, telah menjadi contoh nyata bahwa ketekunan dan semangat belajar dapat mengubah takdir. Dengan latar belakang yang awalnya terbatas, ia berhasil melampaui berbagai rintangan untuk menempuh pendidikan formal dan meraih prestasi yang membanggakan.
Perjalanan Awal Modestus
Modestus lahir pada 17 Maret 2005, dan sejak kecil ia tinggal di wilayah pesisir yang memiliki akses pendidikan yang sangat terbatas. Namun, ia tidak pernah menyerah. Langkah pertamanya dalam menuntut ilmu dimulai saat ia harus meninggalkan rumah untuk bersekolah di SMP YPPK Le Cocq D’Armandville Kokonao. Jarak geografi yang jauh memaksa dirinya hidup mandiri dan menghadapi tantangan lingkungan asrama sekolah Katolik.
“Di sana kami diberi fasilitas asrama dan makan tiga kali sehari. Kami juga ibadah bersama,” kenang Modestus saat melakukan zoom meeting dengan wartawan di Kantor YPMAK, Jalan Yosudarso, Kabupaten Mimika, Senin (25/5/2026).
Tantangan dalam Menuntut Ilmu
Perjalanan pendidikan Modestus tidak selalu mulus. Saat melanjutkan studi di SMK Tunas Bangsa Pariwisata Timika, ia mengalami gangguan kesehatan yang cukup parah. Kondisi fisiknya menurun, sehingga ia harus menunda aktivitas belajar. Akhirnya, ia memutuskan untuk pindah ke SMK St. Yohanis Don Bosco Timika, di mana ia memilih program keahlian Teknik Jaringan Komputer. Di sana, ia berhasil menyelesaikan pendidikan menengah atas dengan baik.
Setelah lulus SMK, realitas ekonomi sempat membuatnya ragu untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ia bahkan berencana untuk kembali ke kampung halaman dan bekerja demi membantu orangtuanya. Namun, nasib baik akhirnya menjemputnya melalui bantuan dari lembaga YPMAK.
Beasiswa YPMAK: Kunci Keberhasilan
YPMAK, lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, memberikan kesempatan bagi Modestus untuk menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Ini menjadi momen penting dalam hidupnya karena ini adalah pertama kalinya ia keluar dari tanah Papua.
“Saya pertama kali naik pesawat itu bingung dan sedih karena harus tinggal orangtua,” kenangnya dengan perasaan campuran antara cemas dan haru.
Prestasi Akademik yang Mengagumkan
Kini, Modestus berstatus sebagai taruna tingkat satu di Program Studi Agribisnis Perikanan di Politeknik Kelautan dan Perikanan. Di kampus kedinasan tersebut, ia langsung menggebrak lewat prestasi akademik yang sangat membanggakan. Meski baru setahun menempuh perkuliahan, ia sukses menyabet Medali Emas Juara 1 Olimpiade PPKN Tingkat Nasional.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa anak-anak asli Kamoro memiliki daya saing yang sejajar dengan mahasiswa dari seluruh penjuru Nusantara. Modestus pun tidak puas hanya sampai di situ. Ia kini tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi ke Jepang.
Fokus pada Bahasa dan Budaya Jepang
Di sela-sela kesibukan di asrama kedinasan, Modestus secara konsisten mengalokasikan waktu untuk mempelajari tata bahasa dan kebudayaan Jepang. Tujuannya jelas: untuk melanjutkan studi ke Jepang dan mengejar mimpi yang lebih besar.
“Sekarang saya fokus belajar bahasa Jepang untuk lanjut ke Jepang,” ujarnya dengan tekad yang kuat.
Apresiasi kepada YPMAK
Modestus tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih kepada YPMAK yang telah mendanai seluruh biaya pendidikannya. Ia berkomitmen untuk mengembalikan kebaikan tersebut dalam bentuk dedikasi dan prestasi yang mengharumkan nama daerah.
“Saya berterima kasih kepada YPMAK yang telah membiayai kami di sini. Untuk teman-teman di Timika kita harus mampu dan meraih mimpi, jangan pernah takut,” seru Modestus menyemangati generasi muda Papua.
Harapan untuk Masa Depan
Bagi Modestus Arpikini, jalur pendidikan formal adalah kunci utama untuk merombak struktur masa depan dan memutus rantai keterbatasan. Keberhasilan yang ia raih menjadi penanda penting bahwa mimpi anak-anak Kamoro tidak boleh berhenti di tepian pantai Mimika, melainkan harus terbang tinggi hingga ke negeri seberang.






