JAKARTA — Harga buyback emas Antam tercatat mengalami kenaikan sebesar 9,27% pada periode berjalan tahun ini. Berdasarkan data Logam Mulia Jumat (29/5/2026), harga buyback emas Antam naik Rp22.000 menjadi Rp2.579.000. Posisi ini menunjukkan kenaikan sebesar 9,27% untuk periode year-to-date (ytd) 2026.
Meskipun demikian, harga buyback emas Antam masih jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang tercatat pada akhir Januari 2026. Dalam catatan Bisnis, harga buyback emas Antam terakhir memecahkan rekor ATH di Rp2.989.000 pada 29 Januari 2026.
Harga buyback emas Antam merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram. Pergerakan harga ini sejalan dengan mahar logam mulia di pasar global. Buyback emas adalah transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang ditawarkan lebih rendah dari harga jual saat itu.
Namun, buyback emas tetap bisa memberikan keuntungan jika terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback. Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP. Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Sebelumnya, Goldman Sachs mengulangi target harga emas US$5.400 per ons untuk akhir 2026, namun memperingatkan bahwa harga emas batangan masih dapat menghadapi tekanan jangka pendek jika investor terpaksa menjual aset likuid untuk mendapatkan uang tunai selama tekanan pasar.
Pada akhir Januari lalu, ketika harga emas mencapai rekor tertinggi baru di atas US$5.000 per ons, Goldman Sachs menaikkan target harga Desember 2026 menjadi US$5.400 per ons. Pada saat itu, analis Goldman yang dipimpin oleh Daan Struyven dan Lina Thomas menulis dalam sebuah catatan bahwa perkiraan yang ditingkatkan didasarkan pada keyakinan mereka bahwa investor swasta yang membeli emas sebagai lindung nilai terhadap risiko kebijakan makro akan mempertahankan posisi ini hingga akhir tahun.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Buyback Emas
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan harga buyback emas Antam antara lain:
- Pergerakan pasar global – Harga emas di pasar internasional memengaruhi harga buyback di dalam negeri. Ketika harga emas global meningkat, harga buyback juga cenderung naik.
- Stabilitas ekonomi – Ketika kondisi ekonomi tidak stabil, banyak investor memilih untuk membeli emas sebagai bentuk investasi aman.
- Kebijakan pemerintah – Regulasi terkait pajak dan perdagangan emas juga memengaruhi dinamika harga buyback.
Manfaat dan Risiko Transaksi Buyback Emas
Transaksi buyback emas memiliki beberapa manfaat dan risiko yang perlu dipertimbangkan:
Manfaat:
- Likuiditas tinggi – Emas dapat dengan mudah dikembalikan ke pihak penjual, terutama jika dalam bentuk logam batangan.
- Keuntungan dari selisih harga – Jika harga jual lebih tinggi dari harga buyback, investor bisa memperoleh keuntungan.
- Investasi jangka panjang – Emas sering kali digunakan sebagai bentuk perlindungan terhadap inflasi atau ketidakstabilan ekonomi.
Risiko:
- Pajak yang dikenakan – Penjualan kembali emas batangan di atas Rp10 juta dikenakan pajak sebesar 1,5% atau 3%, tergantung status NPWP.
- Fluktuasi harga – Harga emas bisa berubah secara tiba-tiba, sehingga memengaruhi keuntungan atau kerugian investor.
- Biaya administrasi – Beberapa lembaga mungkin menambahkan biaya tambahan dalam proses buyback.
Prediksi Harga Emas oleh Goldman Sachs
Goldman Sachs telah memprediksi bahwa harga emas akan mencapai US$5.400 per ons pada akhir 2026. Prediksi ini didasarkan pada beberapa faktor seperti permintaan pasar, stabilitas ekonomi global, dan strategi investasi para investor. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa harga emas dapat mengalami tekanan jangka pendek jika investor harus menjual aset likuid untuk mendapatkan uang tunai.
Dalam laporan mereka, analis Goldman menyatakan bahwa investor swasta yang membeli emas sebagai lindung nilai terhadap risiko kebijakan makro kemungkinan akan mempertahankan posisi ini hingga akhir tahun. Hal ini menunjukkan bahwa emas masih menjadi pilihan utama bagi banyak investor dalam situasi ketidakpastian ekonomi.






