BERITA  

Menteri AHY ajak Rusia kembangkan 3 proyek infrastruktur prioritas



Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya kolaborasi antara Indonesia dan Rusia dalam membangun infrastruktur yang tangguh. Ia menyatakan bahwa ketahanan tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur yang kuat, keamanan energi, ketahanan pangan dan air, serta kemitraan internasional yang dapat dipercaya.

Dalam pidatonya, AHY menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen untuk menjalin persahabatan dengan semua bangsa. Ia menekankan bahwa dialog lebih utama daripada konfrontasi, kerja sama lebih baik daripada persaingan, serta kemitraan yang saling menguntungkan bagi semua pihak.

Indonesia mengajak Rusia dan negara-negara Eurasia untuk memperkuat kerja sama dalam pembangunan infrastruktur yang tahan iklim. Kerja sama ini mencakup pengembangan teknologi pesisir, sistem peringatan dini bencana, energi berkelanjutan, serta proyek Giant Sea Wall. Proyek tersebut menjadi salah satu agenda strategis nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Ajakan ini disampaikan oleh Menteri Agus Harimurti saat berbicara dalam sesi EAEU–ASEAN di St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di St. Petersburg, Rusia. AHY menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan yang saling berkaitan, seperti perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, gangguan rantai pasok, serta dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Dalam situasi ini, negara-negara yang mampu membangun konektivitas sekaligus meningkatkan kepercayaan akan memiliki peran yang semakin penting. “Indonesia ingin memainkan peran tersebut, menjadi jembatan, penyeimbang, sekaligus mitra yang konstruktif dalam memperkuat stabilitas dan pertumbuhan bersama,” kata Ketua Umum Partai Demokrat ini.

AHY merinci tiga prioritas utama dari agenda infrastruktur Indonesia. Pertama, dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emissions. Kedua, penguatan konektivitas strategis melalui integrasi pelabuhan, sistem logistik, dan jaringan perkeretaapian nasional. Ketiga, pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim, termasuk perlindungan kawasan pesisir melalui proyek Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa.

Ia juga mengajak negara-negara ASEAN dan Eurasia untuk memperkuat semangat kolaborasi dan kemitraan jangka panjang dalam menghadapi tantangan global. “Mari menjadi generasi yang memilih kerja sama di atas fragmentasi, ketangguhan di atas kerentanan, serta kemitraan jangka panjang di atas keuntungan jangka pendek. Mari kita bangun bukan hanya ekonomi yang lebih kuat, melainkan juga kepercayaan yang lebih kokoh di antara bangsa-bangsa,” katanya.

Melalui kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Rusia, pemerintah berharap dapat mempercepat pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan mampu melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *