BERITA  

Pura-pura Disabilitas: Bahaya Ableisme di Media Sosial Diingatkan Pakar

Kritik terhadap Konten yang Menggunakan Disabilitas sebagai Bahan Hiburan

Konten TikTok yang dibuat oleh kreator Xander (@violettaaxandrea) memicu reaksi keras dari netizen dan para ahli. Dalam salah satu videonya, ia berpura-pura mengalami disabilitas sambil mempromosikan produk kecantikan. Tindakan ini dinilai tidak berempati dan menjadikan kondisi penyandang disabilitas sebagai alat pemasaran.

Dr. Adam Prabata, seorang dokter umum sekaligus edukator kesehatan, menyoroti bahwa tindakan seperti ini termasuk dalam bentuk ableism. Ia menjelaskan bahwa ableism adalah prasangka atau diskriminasi terhadap penyandang disabilitas yang dapat muncul melalui sikap, ucapan, hingga bentuk hiburan. Menurutnya, konten semacam ini merendahkan penyandang disabilitas dan memperkuat stigma negatif.

Fenomena Ableism di Media Sosial

Banyak pembuat konten sering menggunakan alasan bahwa materi yang mereka buat hanya bercanda atau hiburan. Namun, menurut dr. Adam, normalisasi humor yang merendahkan justru dapat memperkuat stigma sosial. Hal-hal seperti ini, apalagi jika dijadikan konten hiburan, tidak bisa dianggap lucu.

Stigma sosial terhadap penyandang disabilitas tidak hanya soal perasaan tersinggung. Dampaknya bisa jauh lebih panjang, termasuk pada bagaimana masyarakat memperlakukan kelompok tersebut di kehidupan sehari-hari. Saat stereotipe negatif terus diulang, masyarakat bisa semakin sulit melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang setara.

Risiko Psikologis bagi Penyandang Disabilitas

Dampak ableism ternyata tidak berhenti pada stigma. Dr. Adam menjelaskan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas yang terus-menerus terpapar perilaku merendahkan memiliki risiko gangguan psikologis lebih tinggi. Karena bisa memperkuat stigma sosial yang berdampak nyata terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan penyandang disabilitas.

Ia juga menyoroti temuan penelitian yang menunjukkan adanya kaitan antara ableism dengan munculnya rasa malu berlebihan. Rasa malu ini kemudian dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental lain. Penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas yang menonton atau melihat perilaku ableism ini berisiko mengalami masalah kesehatan mental, termasuk rasa malu (shame) yang memicu gejala depresi dan kecemasan.

Humor Disabilitas dan Pengurangan Empati

Selain mempengaruhi korban secara langsung, konten seperti ini juga dapat membentuk cara pandang audiens. Dr. Adam menyinggung penelitian tahun 2024 yang mengulas dampak humor terkait disabilitas. Hasilnya menunjukkan bahwa humor semacam ini tidak sekadar membuat orang tertawa. Justru ada dampak sosial yang lebih luas.

Penelitian lain tahun 2024 di Journal of Media Psychology meneliti mengenai humor disabilitas dan menemukan bahwa humor semacam ini justru memperkuat stereotype negatif, mengurangi empati penonton, dan menyebabkan distress emosional bagi penyandang disabilita, meskipun pembuat konten mengklaim “hanya bercanda”.

Tanggung Jawab dalam Membuat Konten di Media Sosial

Fenomena viralnya konten seperti ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukan hanya tempat mencari perhatian atau menjual produk. Konten yang dibuat dan dibagikan juga memiliki dampak psikologis terhadap orang lain. Karena itu, penting bagi kreator maupun pengguna media sosial untuk memahami bahwa humor yang melibatkan kelompok rentan memiliki konsekuensi nyata.

Di akhir unggahannya, dr. Adam berharap tren serupa tidak terus berulang. Ia berharap agar tidak ada lagi humor-humor seperti ini yang dapat merendahkan dan memperkuat stigma terhadap penyandang disabilitas.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *