BERITA  

Ranjau di Selat Hormuz: Bahaya yang Mengancam?

Ancaman Ranjau di Selat Hormuz dan Upaya Pembersihan

Selat Hormuz, jalur pelayaran kritis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, masih menjadi zona berbahaya akibat ancaman ranjau bawah laut. Meskipun ada upaya untuk membuka kembali jalur ini bagi kapal-kapal dagang, keberadaan ranjau tetap menjadi hambatan serius. Bagaimana ranjau laut bekerja? Apa risikonya bagi kapal? Dan bagaimana cara mendeteksi serta menyingkirkannya?

Bahaya yang Mengancam Kapal Dagang

Meski perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran sedang dibahas, ancaman ranjau tetap menjadi masalah utama. Menurut Johannes Peters, ahli peperangan bawah laut dari Institute for Security Policy di Universitas Kiel, bahkan ketidakpastian tentang keberadaan ranjau sudah cukup untuk menghambat aktivitas pelayaran. “Tidak ada pihak yang benar-benar bisa memeriksa area tersebut,” ujarnya.

Ranjau laut adalah senjata bawah air yang relatif murah dan dirancang untuk meledak ketika dipicu oleh kapal yang melintasinya. Ada tiga jenis utama: ranjau hanyut (drifting mines), ranjau tambat (moored mines), dan ranjau dasar (bottom mines). Mekanisme pemicu pada ranjau modern tidak lagi memerlukan kontak langsung, melainkan dapat diaktifkan oleh efek magnetik, gelombang suara bawah air, atau perubahan tekanan.

Proses Pembersihan Ranjau

Proses pembersihan ranjau terdiri dari dua tahap utama: pendeteksian (mine hunting) dan penyapuan (mine sweeping). Dalam pendeteksian, objek mencurigakan harus ditemukan dan dinilai apakah berbahaya. Jika berbahaya, ranjau dapat diangkat, dilucuti, atau diaktifkan melalui ledakan terkendali. Namun, proses ini memakan waktu lama dan sering kali melibatkan risiko nyawa manusia.

Penggunaan Drone dalam Pembersihan Ranjau

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan drone telah menjadi solusi alternatif untuk mengurangi risiko. Angkatan Laut Jerman, misalnya, mulai menggunakan sistem otonom untuk menyisir dasar laut. Kapten Frigat Andreas dari Skuadron Penyapu Ranjau ke-3 menjelaskan bahwa drone memungkinkan angkatan laut untuk menghindari risiko langsung.

“Dulu, kapal yang dilengkapi sonar harus melintasi area yang dicurigai terdapat ranjau,” ujar Andreas. “Sistem otonom berarti 40 nyawa itu tidak lagi harus menghadapi risiko secara langsung.”

Drone juga mengurangi kebutuhan personel manusia karena mereka dapat mengirimkan rekaman dari dasar laut ke pusat kendali untuk dianalisis. Meskipun demikian, manusia tetap diperlukan untuk membedakan antara sampah tak berbahaya dan ranjau mematikan, serta memutuskan cara menangani bahan peledak yang ditemukan.

Tantangan di Selat Hormuz

Meski drone memberikan solusi, penggunaannya di wilayah seperti Selat Hormuz masih memiliki batasan. Kapasitas baterai drone saat ini membatasi lamanya perangkat dapat beroperasi di perairan terbuka. Untuk sementara, drone harus diluncurkan cukup dekat dengan area yang akan diperiksa.

Perusahaan seperti Euroatlas sedang mengembangkan drone yang mampu beroperasi lebih lama. Salah satunya adalah drone bawah air Greyshark, yang saat ini mampu melaju dengan kecepatan 10 knot selama enam jam, atau 4 knot selama tiga kali lebih lama. Versi otonom bertenaga baterai akan mulai diproduksi pada September 2026, sementara versi berikutnya dengan sistem sel bahan bakar akan mulai diproduksi pada akhir tahun.

Keunggulan Drone Greyshark

Markus Beer, kepala penjualan untuk kendaraan bawah air otonom di Euroatlas, menjelaskan bahwa drone Greyshark memiliki jangkauan yang lebih luas sehingga dapat diluncurkan dari jarak yang aman. “Drone kecil yang saat ini digunakan untuk berburu ranjau hanya mampu bertahan beberapa jam,” ujarnya. “Greyshark dapat menempuh jarak yang jauh lebih jauh.”

Drone ini juga mampu mengambil gambar beresolusi tinggi dan secara mandiri mengidentifikasi objek yang ditemukan di dasar laut. September lalu, Euroatlas mendemonstrasikan kemampuan Greyshark dalam ajang terkemuka dunia untuk pengujian sistem maritim nirawak, Robotic Experimentation and Prototyping using Maritime Unmanned Systems, yang diselenggarakan di lepas pantai Portugal.

Tantangan Berkelanjutan

Meski teknologi berkembang, membersihkan wilayah laut dari ranjau membutuhkan waktu puluhan tahun, bahkan lebih lama. Artyom, penyapu ranjau Ukraina di Laut Hitam, menyebutkan bahwa mereka masih menemukan ranjau dari Perang Dunia II, bahkan Perang Dunia I. Ini menunjukkan betapa besar tantangan yang dihadapi dalam pembersihan ranjau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *