SURABAYA – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) memperkuat komunikasi dengan pengguna jasa melalui kegiatan Sosialisasi Bisnis Operasional kepada anggota Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Bulan Pelanggan yang berlangsung setiap September.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Toba TPS pada Kamis (10/9) itu diikuti 85 anggota GINSI Jawa Timur. Forum tersebut menjadi ruang bagi TPS dan para importir untuk bertukar informasi sekaligus menyamakan pemahaman mengenai berbagai tahapan layanan operasional di terminal.
TPS menghadirkan narasumber dari internal perusahaan, Bea Cukai Tanjung Perak, serta Balai Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan Jawa Timur. Keterlibatan ketiga institusi tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antara terminal, otoritas kepabeanan dan karantina dalam mendukung kelancaran arus barang impor di pelabuhan.
Dalam sosialisasi, peserta mendapatkan penjelasan mengenai proses bisnis operasional impor di TPS, mulai dari persiapan pembongkaran petikemas, proses discharge dan delivery, pengajuan layanan melalui platform digital, hingga prosedur pemeriksaan yang melibatkan Bea Cukai dan Karantina.
Materi juga mencakup alur layanan behandle fisik, joint inspection, pemeriksaan X-Ray, serta sejumlah layanan karantina, antara lain Direct Behandle Karantina, Yard Behandle Karantina, fumigasi, dan pemeriksaan kulit mentah garaman.
Melalui pemahaman terhadap setiap tahapan tersebut, para importir diharapkan dapat merencanakan kegiatan impor dengan lebih efektif dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Pemahaman yang baik juga diharapkan dapat mendukung kelancaran proses pengeluaran barang dari pelabuhan.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan meningkatkan kualitas layanan sekaligus mempererat hubungan dengan pelanggan.
“Bulan Pelanggan menjadi momentum bagi TPS untuk lebih dekat dengan pengguna jasa sekaligus membangun kesamaan pemahaman terkait proses bisnis operasional di terminal. Melalui sosialisasi ini, kami ingin menghadirkan informasi yang utuh mengenai layanan yang melibatkan TPS, Bea Cukai dan Karantina sehingga pengguna jasa dapat memahami alur proses secara menyeluruh dan memanfaatkan layanan yang tersedia secara optimal,” ujar Erika.
Menurut Erika, kolaborasi antarlembaga menjadi salah satu faktor penting untuk menciptakan layanan logistik yang efisien, transparan, serta memberikan kepastian bagi pelanggan.
“Kehadiran Bea Cukai Tanjung Perak dan Balai Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan Jawa Timur dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama untuk membangun sinergitas layanan. Kami berharap komunikasi yang terjalin melalui forum ini dapat memperkuat koordinasi dengan para importir serta mendukung kelancaran arus barang dan rantai pasok nasional,” tambahnya.
Sebagai terminal petikemas yang melayani kegiatan perdagangan internasional dan domestik, TPS terus mengembangkan layanan yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Edukasi dan sosialisasi yang dilakukan secara berkala diharapkan dapat meningkatkan pengalaman pengguna jasa sekaligus mendorong terciptanya ekosistem logistik yang semakin terintegrasi dan berdaya saing.






