BANGKA – Penyelenggara Bimas Buddha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka melaksanakan kegiatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) oleh Guru Pendidikan Agama Buddha terhadap Peserta Didik di Kabupaten Bangka.
Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Kemenag Bangka dan diikuti 29 guru Pendidikan Agama Buddha se -Kabupaten Bangka pada Selasa (22/09/2026).
Penyelenggara Bimas Buddha Kemenag Bangka, Sarjono, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta yang mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan khidmat.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang penyegaran sekaligus penguatan bagi para guru dalam mengimplementasikan nilai – nilai KBC dalam proses pembelajaran.
“Meski tidak ada penganggaran khusus, kami berupaya agar guru-guru ini tetap ada penyegaran,” ujar Sarjono.
Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yakni Rahman Azim, Pengawas Kemenag Bangka, dan Tunar, Kepala SDN 23 Sungailiat, yang memberikan materi capaian pembelajaran dan kurikulum cinta serta penguatan dan strategi implementasi terkait penerapan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, Kepala Kemenag Bangka, Syarifudin, dalam arahannya menyoroti program dan kebijakan Kemenag terkait implementasi Kurikulum Berbasis Cinta.
Ia menegaskan bahwa KBC bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum yang telah ada, melainkan penguatan karakter yang menjadi landasan dalam proses belajar mengajar.
Menurutnya, kasih sayang harus menjadi dasar seorang guru dalam mendidik, tanpa membedakan latar belakang peserta didik.
“Jadikan kasih sayang itu landasan. Kalau dalam nikah ada sakinah, mawaddah, warahmah, rahmah itu penempatan tingkat kasih sayang yang paling tinggi. Kalau masih tingkat cinta, sifatnya masih material, fisik, penampilan,” jelas Syarifudin.
Ia menekankan bahwa dalam proses pendidikan, guru tidak boleh melihat peserta didik berdasarkan kondisi materi maupun latar belakang sosialnya. Setiap anak harus mendapatkan perhatian dan pendidikan yang berlandaskan kasih sayang.
“Dalam mengajar kita tidak boleh melihat latar belakang anak secara materi, tapi jadikan landasan kasih sayang untuk mendidik,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, para guru Pendidikan Agama Buddha diharapkan semakin memahami dan mampu menerapkan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran, sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang berakhlak, peduli, dan memiliki kasih sayang terhadap sesama.





