Kinerja Solid Sektor Keuangan Jatim, BI, OJK, Kemenkeu, dan LPS Optimis Hadapi 2025

SURABAYA | Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur, Kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II Jawa Timur, dan Kementerian Keuangan di Provinsi Jawa Timur menggelar Media Briefing di Lt.5 R.Kahuripan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur – Jl. Pahlawan 105 Surabaya, (07/02/25) Jum’at.

Dengan tema “Penguatan Sinergi untuk Menjaga Stabilitas dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur yang Berkelanjutan: Transformasi Menuju Indonesia Emas”.

Media Briefing kali ini dihadiri sebanyak 65 jurnalis dari berbagai media di Jawa Timur. Dan Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Erwin Gunawan Hutapea, yang menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

“Sinergi antara BI, OJK, Kementerian Keuangan, dan LPS sangat penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tetap kuat dan berkelanjutan. Kami optimis bahwa dengan koordinasi yang baik, ekonomi Jawa Timur akan terus berkembang, mendukung visi besar Indonesia Emas 2045,” ujar Erwin dalam sambutannya.

Dalam paparannya, Erwin menyampaikan bahwa ekonomi Jawa Timur sepanjang 2024 tumbuh sebesar 4,93% year-on-year (yoy), dengan investasi sebagai salah satu penopang utama.

Peningkatan investasi non-bangunan, penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) pada awal tahun 2024, serta proyek konstruksi swasta di kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi. Secara sektoral, sektor perdagangan, akomodasi, makanan dan minuman, serta konstruksi berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ekonomi.

“Inflasi Jawa Timur 2024 juga terkendali di angka 1,51% (yoy), lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2,92% (yoy) dan lebih baik dari inflasi nasional yang berada di angka 1,57% (yoy). Kami menekankan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari efektivitas koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang dijalankan dalam kerangka pengendalian inflasi JATIM SIGATI.” tambahnya.

Senada dengan BI, Kepala Kantor OJK Jawa Timur, Yunita Linda Sari, menyampaikan bahwa sektor perbankan di Jawa Timur mencatat kinerja yang solid sepanjang 2024. Kredit perbankan tumbuh 8,04% (yoy) mencapai Rp614 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 4,73% (yoy) menjadi Rp790 triliun.

Stabilitas perbankan juga terlihat dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang turun menjadi 2,88%, serta rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang kuat di angka 29,58%.

“Perbankan Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan yang sehat, dengan likuiditas yang terjaga dan kualitas aset yang membaik. Hal ini menjadi indikasi positif bagi keberlanjutan ekonomi daerah. Kami akan terus mendorong sektor jasa keuangan untuk semakin inklusif dan berdaya saing,” jelas Yunita Linda Sari.

Selain perbankan, kinerja pasar modal, industri keuangan non-bank, dana pensiun, dan perusahaan pembiayaan di Jawa Timur juga mengalami perbaikan sepanjang 2024. OJK optimis pertumbuhan sektor keuangan akan terus berlanjut di tahun 2025.

Sementara itu Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Timur, Dudung Rudi Hendratna, menambahkan hingga akhir 2024, belanja APBN di Jawa Timur tumbuh kuat, didukung oleh peningkatan belanja kementerian/lembaga sebesar 13,74%.

Peningkatan belanja ini sejalan dengan upaya optimalisasi APBN sebagai shock absorber, terutama untuk bidang infrastruktur, bantuan sosial, serta persiapan pelaksanaan Pilkada Serentak 2024.

“Kami memastikan bahwa setiap alokasi APBN dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. Pendapatan pajak, kepabeanan, dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) juga mencatat realisasi yang melampaui target,” ujar Dudung.

Dilain kesempatan, Kepala LPS II Jawa Timur, Bambang S. Hidayat, menekankan bahwa LPS menjamin lebih dari 608 juta rekening simpanan di bank umum serta 15,8 juta rekening di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), yang mencakup 99,9% dari total rekening di Jawa Timur.

“LPS berkomitmen menjaga stabilitas sistem perbankan melalui mekanisme penjaminan simpanan. Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetap tinggi, yang merupakan faktor kunci dalam mendukung stabilitas keuangan,” ungkap Bambang.

Melihat pencapaian yang positif di tahun 2024, BI memproyeksikan ekonomi Jawa Timur pada 2025 akan tumbuh dalam kisaran 4,7-5,5% (yoy), dengan inflasi yang tetap terkendali dalam target nasional 2,5±1%.

“Dengan memperhatikan tantangan dan peluang yang ada, kami optimis bahwa ekonomi Jawa Timur akan terus tumbuh dan stabil. Sinergi antara BI, OJK, Kementerian Keuangan, dan LPS akan semakin diperkuat melalui kebijakan yang pro-pertumbuhan serta inovasi yang berkelanjutan,” ujar Erwin Gunawan Hutapea.

Keempat lembaga ini menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Dengan penguatan sinergi dan implementasi kebijakan yang tepat, diharapkan Jawa Timur dapat berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung visi Indonesia Emas 2045.