Opini  

Menjadi Mahasiswa Harus Berpikir Kritis

Oleh: Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H., M.H.

Menjadi mahasiswa merupakan kesempatan emas yang tidak dapat dirasakan oleh semua orang. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperoleh ilmu dan membuka lebih banyak peluang di masa depan.

Mahasiswa kerap dinobatkan sebagai agent of change atau agen perubahan. Predikat ini diberikan karena mahasiswa dinilai memiliki peran penting dalam mendorong perubahan di tengah masyarakat.

Salah satu karakter utama yang harus dimiliki oleh mahasiswa untuk mendukung peran tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini sangat penting, terutama bagi mahasiswa sebagai individu yang berada di garis depan perubahan sosial.

Mengapa berpikir kritis itu penting?

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering dihadapkan pada berbagai persoalan dan isu yang kompleks. Permasalahan tersebut sering kali tidak mudah diselesaikan. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk mampu berpikir kritis agar dapat membuat keputusan yang bijak dan matang.

Tak hanya sebagai agent of change, mahasiswa juga disebut sebagai social control—pengontrol sosial. Dalam peran ini, mahasiswa harus mampu mengamati berbagai dinamika dan isu yang terjadi di masyarakat, sekaligus memberi solusi atas persoalan tersebut.

Sebagai agen perubahan dan kontrol sosial, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan kepedulian serta menyampaikan gagasan kritis terhadap isu-isu yang terjadi di tengah masyarakat. Hal ini penting karena dengan memahami isu sosial secara mendalam dari berbagai sudut pandang, mahasiswa dapat menganalisis informasi secara objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh hoaks.

Lebih dari itu, berpikir kritis dan peduli terhadap persoalan sosial dapat membangun karakter, memperkuat jiwa kepemimpinan, serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan interpersonal yang sangat dibutuhkan di masa depan.

Sebagai kaum intelektual, mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab sosial untuk menyuarakan suara rakyat, memperjuangkan keadilan sosial, serta ikut membangun bangsa yang lebih baik.

Lalu, bagaimana caranya agar mahasiswa bisa berperan aktif dan berpikir kritis? Salah satu cara sederhana adalah dengan meningkatkan literasi. Membaca buku, artikel, dan berita yang berkaitan dengan isu-isu sosial adalah langkah awal untuk memperluas wawasan dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.

Ingat, dengan dinobatkannya Anda sebagai pembawa perubahan, Anda diharapkan mampu menciptakan dampak positif bagi masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan salah satu unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.

Beberapa ahli menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan proses mental untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan menganalisis tanggapan. Berikut beberapa manfaat berpikir kritis bagi mahasiswa:

1. Mempermudah Penyelesaian Masalah
Berpikir kritis membantu Anda menemukan akar dari suatu masalah. Dengan kemampuan ini, Anda dapat lebih cepat dan tepat dalam mencari solusi.

2. Lebih Terbuka dalam Berpikir
Kemampuan ini membuat Anda tetap objektif saat menerima informasi baru. Anda bisa menghargai perbedaan pendapat serta berpikir terbuka dalam menyikapi berbagai sudut pandang.

3. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi
Berpikir kritis membantu Anda menyampaikan ide secara runtut dan logis. Hal ini memperkuat keterampilan komunikasi Anda dalam berbagai situasi.

4. Tidak Mudah Dimanfaatkan oleh Orang Lain
Berpikir kritis juga melatih soft skill, sehingga Anda tidak mudah terpengaruh oleh ajaran atau kegiatan negatif, seperti paham radikal maupun penyalahgunaan narkoba yang kerap menyasar mahasiswa.

5. Menyadari Kemampuan Diri
Dengan berpikir kritis, Anda akan lebih mengenal kekuatan dan kelemahan diri. Hal ini memungkinkan Anda untuk terus berkembang dan memperbaiki diri.

Dengan segala manfaat tersebut, berpikir kritis dapat menjadikan mahasiswa pribadi yang solutif dan positif dalam menghadapi berbagai tantangan.

Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan:
Cara berpikir yang menyatakan bahwa kekayaan sebuah bangsa terletak pada minyak, gas, dan tambang adalah cara berpikir penjajah kolonial.
Kekayaan terbesar suatu bangsa adalah MANUSIANYA.