SURABAYA – Dentuman genderang dan aroma dupa memenuhi udara di Jalan Cokroaminoto, Surabaya, Senin (13/10/25) malam. Ribuan lilin merah menyala di pelataran Kelenteng Hong San Ko Tee, mengiringi ratusan umat Tridharma yang datang dari berbagai kota untuk mengikuti perayaan HUT ke-106 Kelenteng Cokro, sekaligus sembahyang menuju kesempurnaan Dewa Kongco Kong Tik Tjoen Ong.
Bau dupa yang semerbak berpadu dengan alunan musik tradisional Tionghoa, menciptakan nuansa sakral yang kental. Lilin-lilin merah raksasa berjajar rapi di altar utama, menjadi simbol harapan dan doa bagi kedamaian serta rezeki.
“Perayaan kali ini terasa sangat spesial, karena bertepatan dengan ulang tahun kelenteng yang ke-106. Ini bukan sekadar acara rutin, tapi bentuk rasa syukur kami atas perjalanan panjang tempat ibadah ini,” ujar Erdina Tedjaseputra, pengurus Kelenteng Hong San Ko Tee.
Usai ritual sembahyang, suasana berganti hangat. Jemaat diajak menikmati ramah tamah sambil dihibur musik dan pembagian doorprize. Tak tanggung-tanggung, hadiah utama berupa sepeda listrik menjadi incaran banyak peserta.
“Total ada 28 hadiah yang kami siapkan. Semua penyumbang dan umat yang hadir mendapat kupon undian. Ini cara kami berbagi kebahagiaan,” lanjut Erdina.
Selain hadiah, panitia juga membagikan kantong Hu berisi jimat dan abu Dewa Kongco kepada umat. Benda tersebut diyakini membawa keberkahan dan perlindungan. Tak sedikit tamu dari luar kota yang datang untuk ikut menghaturkan penghormatan.
Yang tak kalah penting, perayaan ini juga menjadi ajang untuk memperkuat regenerasi umat Tridharma. Para pengurus sengaja membagikan buku kecil berisi kisah dan ajaran Dewa Kongco agar generasi muda mengenal dan melestarikan tradisi leluhur.
“Kami ingin anak-anak muda memahami sejarah kelenteng ini, bukan hanya ikut sembahyang tapi juga tahu maknanya. Supaya tradisi ini tidak pudar,” pungkas Erdina dengan senyum bangga.
Acara pun berakhir dengan doa bersama, meninggalkan kesan damai dan kebersamaan di antara seluruh jemaat yang hadir.





