SURABAYA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jawa Timur kembali menggelar Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 pada 17-19 Juli 2026. Kegiatan yang menjadi agenda tahunan Bank Indonesia Jawa Timur tersebut akan berlangsung di Alun-Alun Surabaya dan Hotel Kampi.
Memasuki tahun kelima penyelenggaraan sejak pertama kali digelar pada 2022 dengan nama Java Coffee Culture (JCC), JCFF menjadi ajang promosi sekaligus penguatan ekosistem kopi, kakao, cokelat, dan rempah-rempah unggulan asal Pulau Jawa.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan penyelenggaraan JCFF 2026 bertujuan mendorong kopi, rempah, dan cokelat sebagai komoditas unggulan nasional yang memiliki potensi besar di pasar ekspor. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana promosi Alun-Alun Surabaya sebagai destinasi wisata heritage yang semakin berkembang.
“JCFF juga bertujuan menciptakan nilai tambah bagi komoditas kopi, rempah, dan cokelat sekaligus kawasan wisata untuk mendorong pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” ujar Ibrahim dalam Media Briefing Triwulan II 2026 di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur, Surabaya, Senin (22/6/2026).
Berbagai kegiatan akan mewarnai pelaksanaan JCFF 2026. Mulai dari EduCoffee yang menghadirkan talkshow dan workshop, business matching untuk perdagangan, pembiayaan dan lelang kopi, hingga beragam kompetisi dan atraksi yang melibatkan masyarakat.
Sejumlah agenda menarik yang disiapkan antara lain Brewing Competition, Latte Art Competition, Cupping Competition, Kopi Bersastra, Kopi Bernada, Stand Up Comedy, Food Creation Competition hingga lomba mewarnai bertema kopi.
Menurut Ibrahim, penyelenggaraan JCFF 2026 diharapkan mampu meningkatkan eksposur produk kopi, kakao, dan rempah asal Jawa, memperkuat daya saing pelaku usaha, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan penjualan komoditas yang berpotensi ekspor.
Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, JCFF 2025 berhasil menarik sekitar 2.000 peserta. Kegiatan tersebut juga mencatat capaian business matching perdagangan senilai Rp79,51 miliar dan business matching pembiayaan sebesar Rp28,06 miliar.
JCFF sendiri merupakan bagian dari rangkaian Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang akan diselenggarakan di Jakarta.
Ibrahim menjelaskan, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai sentra produksi kopi dan kakao terbesar di Pulau Jawa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026, kontribusi produksi kopi Jawa Timur mencapai 71 persen dari total produksi kopi Pulau Jawa. Sementara itu, kontribusi kakao mencapai 26 persen dan teh sebesar 3 persen.
Volume produksi kopi Jawa Timur tercatat mencapai 53,25 ribu ton, kakao 10,56 ribu ton, dan teh 2,14 ribu ton.
“Jawa Timur memiliki keunggulan strategis sebagai produsen utama kopi dan kakao di Pulau Jawa. Kedua komoditas ini memiliki potensi produksi yang besar sekaligus kinerja ekspor yang sangat baik,” katanya.
Kinerja ekspor komoditas kopi, kakao, dan teh Jawa Timur juga menunjukkan tren positif. Potensi ekonomi bernilai tinggi terlihat dari dominasi ekspor green bean untuk kopi, keberhasilan hilirisasi produk mentega cokelat pada komoditas kakao, hingga peluang pengembangan produk olahan berupa ekstrak dan konsentrat teh.
Dari sisi nilai ekspor, produk kakao dan cokelat mencatat harga tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Mentega cokelat memiliki harga ekspor mencapai 13,74 dolar Amerika Serikat (AS) per kilogram, pasta kakao 8,39 dolar AS per kilogram, biji kakao 7,63 dolar AS per kilogram, dan bubuk kakao 4,93 dolar AS per kilogram.
Sementara itu, pada komoditas kopi, harga ekspor green bean mencapai 4,64 dolar AS per kilogram, roasted coffee 4,06 dolar AS per kilogram, serta ekstrak, esens, dan konsentrat kopi sebesar 3,33 dolar AS per kilogram.
Bank Indonesia, lanjut Ibrahim, terus mendorong penguatan peran berbagai pihak dalam pengembangan komoditas unggulan berorientasi ekspor dan sektor pariwisata. Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik melalui penguatan kelembagaan maupun pendekatan bisnis.





