JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga dan berada dalam kondisi solid dalam menghadapi dinamika ekonomi global serta prospek perekonomian tahun 2026.
Keyakinan tersebut disampaikan berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada akhir 2025. Informasi ini disampaikan Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, dalam keterangan resminya, Sabtu (10/1).
Menurut OJK, kondisi perekonomian global mulai menunjukkan sinyal perbaikan, meskipun belum merata di seluruh kawasan. Aktivitas manufaktur dunia masih bertahan di zona ekspansi, namun lajunya melambat seiring menurunnya tingkat kepercayaan konsumen global. Di sisi lain, kinerja ekonomi Tiongkok tercatat masih berada di bawah ekspektasi pasar.
Sejumlah lembaga multilateral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 cenderung melandai dan belum kembali ke level rata-rata sebelum pandemi. Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya risiko fiskal di negara-negara utama serta ketidakpastian arah kebijakan global.
Di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2025 tercatat tumbuh sebesar 4,3 persen secara tahunan (seasonally adjusted annual rate/saar), meningkat dibanding kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta meningkatnya investasi di sektor teknologi, khususnya yang terkait dengan kecerdasan buatan.
Sementara itu, pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan tanda moderasi. Tekanan inflasi juga terus mereda, tercermin dari inflasi November 2025 yang turun ke level 2,7 persen, dengan inflasi inti sebesar 2,6 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi berbeda terjadi di Tiongkok. Perlambatan ekonomi masih membayangi, ditandai dengan konsumsi rumah tangga yang tertahan, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kembali masuk zona kontraksi, serta tekanan berkepanjangan di sektor properti yang belum menunjukkan pemulihan signifikan.
Dinamika ekonomi global tersebut mendorong beragam respons kebijakan moneter dari bank sentral dunia. The Federal Reserve memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025. Langkah serupa juga ditempuh Bank of England, yang menurunkan suku bunga kebijakan ke level 3,75 persen, menjadi pemangkasan keempat sepanjang 2025.
Sebaliknya, Bank of Japan justru mengambil arah kebijakan yang berbeda dengan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir, seiring tekanan inflasi domestik yang masih bertahan.
Perbedaan arah kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Pasar saham dunia cenderung menguat merespons pelonggaran moneter di Amerika Serikat, meskipun diiringi kekhawatiran meningkatnya potensi gelembung harga saham, terutama di sektor teknologi. Di sisi lain, kenaikan suku bunga Jepang menekan pasar obligasi pemerintah global, seiring berkurangnya praktik carry trade.
Memasuki awal 2026, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik, termasuk eskalasi ketegangan di Venezuela, yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan global.
Di dalam negeri, OJK mencatat inflasi inti pada Desember 2025 mengalami kenaikan, namun aktivitas sektor manufaktur nasional tetap berada di zona ekspansi.
Kinerja eksternal Indonesia juga masih terjaga, tercermin dari neraca perdagangan yang mencatatkan surplus. Kondisi tersebut menjadi bantalan penting dalam menjaga ketahanan sektor jasa keuangan nasional dalam memasuki tahun 2026.





