BISNIS  

Pangkas Biaya Logistik Timur, TPS Perkuat Rantai Pasok Industri Kelapa

SURABAYA – Peran Surabaya sebagai gerbang logistik utama Indonesia Timur kian diperkuat. PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) resmi menjalin kolaborasi dengan Indonesia Services Dialogue (ISD) untuk membedah strategi penguatan rantai logistik industri kelapa asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (22/1).

Bertempat di Kantor TPS, Jalan Tanjung Mutiara, audiensi ini diterima langsung oleh Direktur Operasi TPS, Noor Budiwan. Pertemuan ini merupakan bagian dari inisiatif ISD bersama Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan Kementerian Perdagangan RI dalam mengkaji pengembangan industri kelapa nasional dari hulu hingga hilir.

Menjawab Tantangan Logistik Indonesia Timur

Meskipun kelapa memiliki potensi ekspor yang masif, industri ini masih terganjal tantangan klasik:

Biaya logistik yang tinggi.

Waktu pengiriman (lead time) yang panjang.

Belum terintegrasinya jalur distribusi dari sentra produksi ke pasar utama.

Sebagai hub petikemas terbesar di wilayah timur Jawa, TPS memegang peran krusial untuk menjembatani arus barang dari NTT menuju Pulau Jawa hingga ke pasar global. Fokus diskusi kali ini diarahkan pada peningkatan efisiensi bongkar muat, konektivitas antarpelabuhan, serta integrasi layanan logistik.

Komitmen TPS untuk Daya Saing Nasional

Plh Sekretaris Perusahaan TPS, Adhi Kresna Novianto, menegaskan bahwa TPS siap menjadi motor penggerak bagi komoditas unggulan daerah.

“Surabaya adalah pintu gerbang distribusi Indonesia Timur. Dialog ini sangat penting agar logistik nasional makin efisien sehingga daya saing komoditas kita terus naik,” ujar Adhi.

Ia menambahkan bahwa sinergi dengan ISD dan mitra riset merupakan peluang besar untuk menciptakan sistem yang terintegrasi. “TPS siap mendukung, mulai dari sisi operasional yang andal hingga standar keselamatan kerja yang tinggi,” tegasnya.

Rekomendasi Kebijakan Nyata

ISD berharap kajian ini menghasilkan rekomendasi kebijakan konkret yang mampu memangkas biaya distribusi secara signifikan. Targetnya jelas: memastikan kelapa dari NTT dapat melaju lebih cepat, lebih murah, dan lebih kompetitif di pasar internasional.

Melalui langkah strategis ini, TPS tidak hanya berfungsi sebagai terminal bongkar muat, tetapi juga berperan aktif dalam mempercepat transformasi ekonomi di kawasan Indonesia Timur.