Penurunan Harga Emas yang Signifikan
Harga emas mengalami penurunan tajam pada hari Kamis (22/1/2026). Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mencabut ancaman tarif dan meredakan ketegangan geopolitik terkait Greenland. Perubahan sikap Trump tersebut menurunkan minat investor terhadap aset aman.
Harga emas turun sekitar 100 dolar AS per ons, yang setara dengan sekitar Rp 1,69 juta. Logam mulia ini turun ke level 4.790 dolar AS per ons atau sekitar Rp 81,3 juta. Posisi ini lebih rendah dibandingkan rekor tertinggi sebelumnya yaitu 4.887 dolar AS per ons atau sekitar Rp 82,9 juta.
Pernyataan Trump menjadi pemicu utama penurunan harga emas. Ia menegaskan bahwa tidak akan menggunakan kekerasan untuk merebut Greenland dari sekutu AS. “Saya tidak akan melakukan itu,” kata Trump. Ia menambahkan, “Oke? Sekarang semua orang mengatakan, ‘oh, bagus’. Itu mungkin pernyataan terbesar yang saya buat karena orang-orang mengira saya akan menggunakan kekerasan. Saya tidak perlu menggunakan kekerasan, saya tidak ingin menggunakan kekerasan, saya tidak akan menggunakan kekerasan.”
Meski harga emas mengalami koreksi yang signifikan, sebagian pelaku pasar masih mempertahankan aset aman. Pertemuan antara Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyisakan ketidakpastian. Trump menyebut kemungkinan pengaturan baru terkait Greenland demi kepentingan pertahanan dan akses mineral. Namun, rincian rencana tersebut belum diungkapkan. Mark Rutte mengatakan kepada Fox News bahwa isu kedaulatan Greenland tidak dibahas. Situasi ini membuat tekanan jual emas tidak semakin dalam.
Namun, beberapa investor mulai melepas emas dan beralih ke aset berisiko. Hal ini terlihat dari kenaikan pasar saham global. Nilai dolar AS juga ikut menguat. Indeks S&P 500 di Wall Street ditutup naik 1,16 persen. Kenaikan ini merupakan yang terbesar dalam dua bulan terakhir. Kontrak berjangka saham Eropa juga menguat. Indeks Stoxx Europe 600 futures naik 1,3 persen pada perdagangan pagi di Asia.
Penguatan dolar AS memberikan tekanan lebih lanjut terhadap harga emas. Euro melemah ke bawah 1,17 dolar AS dan bergerak di level 1,1676 dolar AS. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai mata uang.
Pasar saham Asia juga mengalami kenaikan. Indeks saham Australia dan Jepang masing-masing naik sekitar 1 persen. Indeks Kospi Korea Selatan menembus level 5.000 poin untuk pertama kalinya. Indeks volatilitas Wall Street, VIX, kembali turun ke level rendah. Penurunan ini menandakan meredanya ketakutan pasar. Obligasi pemerintah AS mulai kembali diminati setelah tertekan sepanjang pekan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun satu basis poin menjadi 4,24 persen pada perdagangan di Tokyo. Pasar obligasi Jepang bergerak lebih stabil setelah gejolak sepekan terakhir. Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Arah data ini dinilai penting bagi prospek suku bunga. Pelaku pasar masih memperkirakan dua kali penurunan suku bunga AS hingga akhir tahun.





