Selamat Hari Pahlawan Nasional, Kenali Delapan Tokoh Pahlawan Nasional Dari Aceh

Foto : Dok.Delapan Tokoh Pahlawan Nasional Asal Aceh

ACEH (INDONESIAKINI.id) – Dikutip dari laman Kementerian Sosial (Kemensos), Hari Pahlawan 10 November ditetapkan pada tanggal 16 Desember 1959 melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan yang telah berjuang untuk mengusir penjajah dari Indonesia.

Tanggal Hari Pahlawan Nasional ini merujuk pada puncak perlawanan rakyat Indonesia pada pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dengan pasukan Inggris yang pecah pada 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran ini merupakan perang pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Hal tersebut tertuang pada Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno.

Semangat para pahlawan itulah yang menjadi inspirasi dalam memerangi kemiskinan dengan menciptakan kesetaraan, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menginspirasi generasi muda untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Serta memerangi kebodohan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengetahuan dan literasi.

Pada Tahun ini adalah peringatan ke-78 tahun Hari Pahlawan, Mengutip dari situs resmi Kemensos RI, Hari Pahlawan 2023 mengusung tema “Semangat Pahlawan untuk Masa Depan Bangsa dalam Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan”.

Aceh menjadi salah satu wilayah yang paling menakutkan bagi penjajah. Buktinya, salah satu daerah di ujung barat Indonesia ini melahirkan Delapan Tokoh Pahlawan Nasional.

Tak hanya didominasi oleh pejuang laki-laki, sejumlah pejuang wanita dari Aceh tak kalah gagah beraninya menyongsong senjata demi mengusir penjajah.

Kenali ini dia profil delapan tokoh pahlawan nasional dari Aceh :

1.Teuku Umar

Teuku Umar merupakan pelopor pertama yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional asal Aceh. Teuku Umar diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada tahun 1955 melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 217/1955. Teuku Umar lahir di Meulaboh tahun 1854.

Suami Cut Nyak Dhien ini dikenal dan disegani oleh Belanda karena ia mempunyai strategi perang gerilya yang sangat luar biasa. Teuku Umar pernah berpura-pura “membelot” kepada Belanda , lalu melawannya balik ketika telah mengumpulkan senjata dan uang.

Teuku Umar gugur dalam perlawanan dengan pasukan Belanda yang dipimpin Van Heutsz di Suak Ujong Kalak, Meulaboh, pada tanggal 11 Februari 1899. Ia dimakamkan di Desa Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat.

2. Potong Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien merupakan pahlawan nasional asal Aceh yang kedua. Ia dikukuhkan melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Aceh Besar, pada tahun 1848. Sebagai istri Teuku Umar, mereka dikenal sebagai pasangan suami istri yang tangguh melawan penjajah Belanda, terlibat banyak perang.

Pasca Teuku Umar meninggal pada 11 Februari 1899 di Meulaboh, Cut Nyak Dhien terus memimpin pasukan Aceh bergerilya dari hutan ke hutan, hingga ditangkap pada tahun 1905 . Cut Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 di garasi dalam usia 60 tahun, dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

3. Potong Nyak Mutia

Bersamaan dengan Cut Nyak Dhien, pada tahun 1964 Cut Mutia juga diangkat menjadi Pahlawan Nasional asal Aceh berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

Cut Nyak Meutia atau Cut Nyak Mutia seorang pejuang perempuan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir di Keureutoe, Aceh Utara, pada tanggal 15 Februari 1870.

PADA MASA HIDUPNYA, CUT MEUTIA BERJUANG BERSAMA PASUKAN INONG BALEE MELAWAN PENJAJAH BELANDA.

Ia gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Alue Kurieng, Aceh Utara, pada tanggal 24 Oktober 1910. Makam Cut Mutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara.

4. Teungku Chik di Tiro

Sembilan tahun pasca penetapan Cut Nyak Dhien dan Cut Mutia sebagai Pahlawan Nasional asal Aceh, Tgk Chik di Tiro diangkat menjadi Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973 tertanggal 6 November 1973.

Tgk Chik di Tiro Muhammad Saman atau dikenal Tgk Chik di Tiro lahir di Tiro, Pidie, pada tanggal 1 Januari 1836. Ia seorang ulama Aceh sekaligus panglima perang yang berjuang melawan penjajah Belanda. Ia adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881.

BERSAMA TGK CHIK PANTE KULU DAN ULAMA-ULAMA LAINNYA, TEUNGKU CHIK DI TIRO MEMBANGKITKAN SEMANGAT PERLAWANAN RAKYAT ACEH DENGAN BERJIHAD DALAM PRANG SABI .

Ia meninggal karena diracun oleh seorang perempuan Aceh melalui makanan yang disajikan pada Januari 1891 di Aneuk Galong, Aceh Besar. Makamnya terletak di Meureu, Indrapuri, Aceh Besar.

5. Teuku Nyak Arief

Pada tahun 1974, Teuku Nyak Arif dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1974. Teuku Nyak Arief lahir di Ulee Lheue, Banda Aceh, pada tanggal 17 Juli 1899. Pahlawan Nasional asal Aceh yang satu ini merupakan keturunan dari Uleebalang Panglima Sagi 26 Mukim, Aceh Besar.

Ia orator ulung yang banyak terlibat dalam organisasi pergerakan kemerdekaan. Ia juga menjadi Ketua Nasional Indische Partij Kutaraja dan menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927 – 1931 . Mulai tahun 1932 ia memimpin gerakan bawah tanah melawan Belanda, aktif dalam bidang pendidikan dan politik.

Teuku Nyak Arief juga pernah menjabat sebagai Residen Aceh , pada tanggal 3 Oktober 1945 dengan surat ketetapan No. 1/X dari Gubernur Sumatera, Teuku Muhammad Hasan. Teuku Nyak Arif meninggal pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon, Aceh. Jenazahnya dibawa ke Kutaraja dan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga di tepi sungai Lamnyong di Lamreung, Aceh Besar, dua kilometer dari Lamnyong, Banda Aceh.

6. Sultan Iskandar Muda

Setelah ditetapkannya T. Nyak Arief sebagai pahlawan nasional, kemudian Pemerintah Republik Indonesia mengangkat Sultan Iskandar Muda sebagai Pahlawan Nasional asal Aceh. Penetapan ini berdasarkan Keputusan Presiden No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.

Sultan Iskandar Muda lahir tahun 1583 di Bandar Aceh Darussalam. Sultan Iskandar Muda lah yang menjadi Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya.

IA MAMPU MENYATUKAN SELURUH WILAYAH SEMENANJUNG TANAH MELAYU DI BAWAH PANJI KEBESARAN KERAJAAN ACEH DARUSSALAM.

Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1636 M dan makamnya terletak di komplek Kandang Meuh di Banda Aceh yang pernah dihancurkan Belanda.

7. Teuku Muhammad Hasan

Setelah 13 tahun berselang, tepat pada tahun 2006, bertambah lagi pahlawan nasional asal Aceh yaitu Teuku Muhammad Hasan. Ia ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.

Teuku Muhammad Hasan lahir di Pidie, Aceh, pada tanggal 4 April 1906. Ia merupakan Gubernur Wilayah Sumatera pertama setelah Indonesia merdeka tahun 1945. Pada tanggal 7 Agustus 1945, Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Soekarno.

Semasa hidupnya, Teuku Muhammad Hasan pernah menulis buku dan mendirikan Universitas Serambi Mekkah di Banda Aceh. Ia meninggal dunia pada 21 September 1997 di Jakarta.

8. Laksamana Keumala Hayati

Penetapan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017. Nama sebenarnya Keumala Hayati. Ia dipercaya sebagai seorang laksamana perang perempuan pertama di dunia.

Keumala Hayati seorang perempuan pejuang pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV dipercayakan kepadanya. Ketika itu, Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (pasukan perang perempuan Aceh) untuk berperang.

Kejadian paling monumental dalam kisah perjuangannya adalah berhasil membunuh Cornelis de Houtman , pemimpin pasukan pencari rempah asal Belanda, pada tanggal 11 September 1599 dalam sebuah pertempuran di atas kapal di perairan laut Aceh. Makam Laksamana Malahayati berada di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.

“Pahlawan adalah cahaya yang terus menerangi perjalanan bangsa ini. Selamat Hari Pahlawan, semoga semangat perjuangan terus menyala di hati kita.”

Penulis: Radja