SURABAYA – Peringatan Hari Raya Waisak di Klenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto, Surabaya, pada Minggu (18/5/2025) berlangsung khidmat.
Sebanyak 50 umat hadir dalam sembahyang yang dilangsungkan secara terbuka untuk umum. Salah satu ritual utama yang dilakukan adalah memandikan rupang (patung) Buddha.
Menurut Erdiana Tejasputra, pengurus Klenteng Hong San Ko Tee, prosesi tersebut memiliki makna mendalam.
“Maknanya supaya kita bisa menyucikan diri dan mencegah pikiran jelek serta aura negatif,” ujar Erdiana.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sembahyang kali ini digelar pada Minggu pagi karena Hari Waisak jatuh pada Senin.

“Biasanya kita sembahyang malam hari, tapi karena Waisaknya Senin, jadi kami adakan sembahyangnya hari Minggu,” jelasnya.
Meskipun belum ada kegiatan sosial dalam perayaan tahun ini, Erdiana menyebutkan bahwa pihak klenteng tengah merencanakan aksi sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Dalam ritual tersebut, air bekas pemandian rupang Buddha juga dibagikan kepada umat.
“Airnya dibawa pulang oleh umat, biasanya untuk mandi, tapi tidak untuk diminum karena saat prosesi tadi dicampur dengan minyak wangi,” jelasnya.
Erdiana berharap, peringatan Waisak tahun ini menjadi momentum bagi umat untuk lebih menjaga diri dan meningkatkan kesadaran batin.
“Semoga kita bisa menjalani hidup dengan pikiran yang lebih positif dan menjauhi energi negatif,” tutupnya.





