SURABAYA – Puluhan tumpeng berjajar di halaman Klenteng Cokro Surabaya saat peringatan 1 Suro, Selasa (16/6/2026). Tradisi tahunan tersebut menjadi bagian dari ritual doa bersama yang digelar umat sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keberkahan memasuki Tahun Baru Jawa.
Tumpeng-tumpeng tersebut beserta beragam jajanan tradisional ditata di area utama klenteng. Seluruh sajian tersebut menjadi bagian dari rangkaian ritual yang telah lama dijaga dan dilestarikan oleh pengurus maupun umat.
Pengurus Klenteng Cokro, Robertus Haryo PG, mengatakan peringatan 1 Suro memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan altar Dewi Sri yang berada di lingkungan klenteng. Dalam budaya Jawa, Dewi Sri dikenal sebagai lambang kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan.
“Setiap tahun kami mengadakan ritual tumpengan saat 1 Suro karena banyak umat yang berdoa di altar Dewi Sri. Melalui kegiatan ini kami memohon keselamatan, kesehatan, rezeki, dan berbagai kebaikan bagi seluruh umat,” kata Robertus.
Rangkaian acara diawali dengan penghormatan kepada Dewa Kong Tik Tjoen Ong melalui prosesi persembahyangan di altar utama klenteng. Setelah itu, umat bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum melanjutkan ibadah di altar Dewi Sri.
Prosesi kemudian berlanjut dengan pemberkatan seluruh tumpeng yang telah dipersiapkan. Bagi umat, pemberkatan tersebut menjadi simbol harapan agar kehidupan pada tahun yang baru dapat berjalan lebih baik, penuh keberkahan, dan dijauhkan dari berbagai marabahaya.
Setelah ritual selesai, tumpeng yang telah diberkati dibagikan kepada para pemiliknya untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama keluarga. Sebagian lainnya disantap bersama di lingkungan klenteng sebagai wujud kebersamaan antarsesama umat.
Tidak hanya itu, sejumlah tumpeng juga disalurkan kepada panti asuhan di sekitar kawasan klenteng sebagai bentuk kepedulian sosial dan berbagi kebahagiaan pada momentum Tahun Baru Jawa.
Menurut Robertus, tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarumat dan masyarakat sekitar.
“Kami berharap berkah dan semangat kebersamaan yang lahir dari peringatan 1 Suro ini dapat dirasakan oleh lebih banyak orang, termasuk masyarakat di sekitar klenteng,” ujarnya.
Peringatan 1 Suro di Klenteng Cokro menjadi salah satu contoh akulturasi budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat. Tradisi Jawa dan nilai-nilai spiritual yang berkembang di klenteng berpadu harmonis, menciptakan warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.






