Daerah  

Sampah Pangkalpinang : Dari Beban Kota Menjadi Sumber Daya

Opini Oleh : Ishar Damiri

Mahasiswa Magister Ilmu Pertanian Universitas Bangka Belitung

 

Pangkalpinang – Persoalan sampah di Kota Pangkalpinang hari ini bukan lagi sekadar isu kebersihan, melainkan persoalan serius yang menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, dan tata kelola kota.

Ditambah dengan tingkat kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya dan kebiasaan memilah – milih sampah masih rendah.

Data terbaru menunjukkan bahwa volume sampah di Pangkalpinang pada tahun 2025 mencapai 41.187 ton, meningkat sekitar 7,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 38.325 ton.

Jika ditarik ke skala harian, angka ini setara dengan sekitar 113 ton sampah per hari, bahkan bisa melonjak hingga 160 – 184 ton per hari pada momen tertentu seperti hari besar keagamaan.

Fakta ini menegaskan satu hal : produksi sampah terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Namun, yang menjadi persoalan bukan hanya pada jumlahnya, melainkan pada bagaimana sampah itu dikelola dan dimanfaatkan.

 

Masih Berkutat pada Pola Lama

Selama ini, pengelolaan sampah di Pangkalpinang masih didominasi pola konvensional : kumpul – angkut – buang.

Data menunjukkan bahwa sebagian besar sampah memang berhasil diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bahkan mencapai lebih dari 90 persen. Namun, angka tersebut justru menyimpan ironi. Tingginya persentase pengangkutan tidak selalu berarti keberhasilan, karena sebagian besar sampah hanya dipindahkan lokasi, bukan diolah.

Di tingkat provinsi, persoalan ini semakin jelas. Dilapangan masih ditemukan beberapa titik tumpukan sampah yang bukan pada tempatnya, seperti di jalan jerambah gantung dan pinggir sungai retensi Kacang Pedang.

Pengelolaan sampah di Bangka Belitung masih didominasi sistem open dumping, dengan tingkat pengurangan sampah baru sekitar 17,89 persen dan penanganan 63,43 persen, masih di bawah target nasional. Artinya, upaya pemanfaatan sampah sebagai sumber daya masih jauh dari optimal.

 

Peluang Ekonomi Yang Terabaikan

Padahal, sampah sejatinya memiliki nilai ekonomi. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, anorganik bisa didaur ulang menjadi produk bernilai jual, bahkan limbah tertentu dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

Pemerintah Kota Pangkalpinang sendiri telah mendorong masyarakat untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Namun, dorongan ini belum menghasilkan perubahan signifikan di lapangan.

Masalah utamanya bukan pada kurangnya program, tetapi pada lemahnya ekosistem. Bank sampah belum merata, industri daur ulang belum berkembang optimal, dan partisipasi masyarakat masih rendah. Akibatnya, potensi ekonomi dari sampah masih sebatas wacana, bukan realitas.

 

TPA yang Kian Tertekan

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa TPA Parit Enam sebagai lokasi pembuangan utama disebut mengalami kelebihan kapasitas (overload).

Jika tidak ada perubahan pendekatan, maka TPA hanya akan menjadi bom waktu lingkungan hingga potensi bencana ekologis.

Dengan kata lain, Pangkalpinang sedang menghadapi situasi di mana produksi sampah meningkat, tetapi kemampuan pemanfaatannya tidak berkembang secepat itu.

 

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat Pangkalpinang mengubah paradigma: dari “membuang sampah” menjadi “mengelola sumber daya”.

Langkah konkret yang perlu dilakukan antara lain:

• memperkuat pemilahan sampah dari rumah tangga

• memperluas jaringan bank sampah berbasis ekonomi

• mendorong investasi di sektor daur ulang

• serta menerapkan regulasi yang tegas terhadap pembuangan ilegal

Tanpa langkah tersebut, kota ini akan terus berada dalam lingkaran masalah yang sama: sampah menumpuk, TPA penuh, dan peluang ekonomi terbuang. Di beberpa kota sudah digalakkan gerakan positif dan masif untuk menguramgi volume sampah, seperti sedekah sampah di Yogyakarta dan bank sampah di DKJ Jakarta.

Dinegara maju seperti Singapura, bisa kita lihat pengeloaan sampahnya dimanfaatkan menjadi material untuk menembok perairan menjadi daratan baru.

Penutup

Zero waste merupakan solusi nyata untuk menyelesaikan masalah sampah terutama perkotaan.

Tujuan utama untuk mengurangi sampah dapat berdampak pada kesehatan dan nilai estetika pada suatu wilayah.

Pengelolaan sampah untuk mengurangi sampah domestik dengan menerapkan Reduce, Reuse, Recycle, Replace, dan Repair dapat dipadukan dengan konsep zero waste ditengah kehidupan masyarakat, pasar tradisional dan instansi pendidikan.

Sampah di Pangkalpinang bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan cara kita mengelola kehidupan kota.

Data sudah jelas menunjukkan peningkatan yang signifikan, tetapi respons yang ada belum cukup progresif. Jika tidak ada perubahan serius, maka yang kita hadapi di masa depan bukan hanya tumpukan sampah, melainkan krisis lingkungan yang lebih besar.

Sebaliknya, jika dikelola dengan tepat, sampah justru bisa menjadi sumber daya baru yang menggerakkan ekonomi lokal. Pilihan itu ada di tangan kita : menjadikan sampah sebagai beban, atau sebagai peluang.