Daerah  

Wujudkan Generasi Sehat, Probolinggo Fokus Intervensi Stunting Berbasis Data 

PROBOLINGGO – Upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Probolinggo mendapat energi baru melalui kegiatan sinergis Program Bangga Kencana bersama mitra kerja, yang digelar di Kantor Bupati Probolinggo, Minggu (13/7).

Kegiatan ini menjadi simbol komitmen pemerintah daerah sekaligus ajang penguatan kolaborasi antara BKKBN, dinas terkait, dan pemerintah desa dalam menangani persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, M.M., menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam strategi penurunan stunting. Ia mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Probolinggo mengalami fluktuasi cukup signifikan dalam dua tahun terakhir.

“Pada tahun 2024, sempat terjadi penurunan sebesar 12%. Namun, setahun sebelumnya justru terjadi peningkatan cukup tinggi hingga mencapai 35%,” ujarnya.

Maria menambahkan bahwa klasterisasi data sangat diperlukan untuk mengetahui akar masalah stunting, mulai dari kemiskinan, penyakit bawaan, pola pengasuhan, hingga sanitasi dan akses air bersih.

“Jika datanya sudah lengkap, kita bisa fokus melakukan intervensi langsung kepada anak-anak stunting maupun yang berisiko tinggi,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol Admin, mengingatkan pentingnya manajemen waktu dalam pengasuhan anak. Ia menyoroti bahaya ketergantungan anak terhadap gadget.

“Jangan sampai anak-anak menjadi terlalu tergantung pada HP, bahkan saat makan atau bangun tidur,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan data KRS (Keluarga Risiko Stunting) untuk menyasar kelompok rentan, khususnya pasangan usia subur dari kelompok kesejahteraan terendah (desil 1 dan 2).

Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo, Hudan Syarifuddin, menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengembangkan program “Sekolah Orang Tua Hebat” yang berisi 13 materi pengasuhan untuk ibu-ibu dengan balita. Program ini akan digalakkan melalui kerja sama dengan desa.

“MoU dengan desa dan kecamatan akan menjadi dasar agar dana desa bisa dialokasikan untuk intervensi langsung, terutama dalam pemenuhan gizi,” katanya.

Menurut Hudan, keberhasilan penanganan stunting sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat, terutama dari level desa sebagai ujung tombak.

Wakil Bupati Probolinggo, Fahmi Abdul Haq Zaini, menegaskan bahwa penguatan posyandu menjadi salah satu langkah strategis yang dilakukan pemerintah daerah dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.

“Kami optimalkan peran posyandu dan kolaborasi dengan pemerintah desa untuk menekan angka stunting,” ujar Fahmi.

Ia juga menyebutkan bahwa sinergi lintas sektor seperti dinas kesehatan, pendidikan, dan organisasi masyarakat mulai berjalan seiring demi satu tujuan bersama.

“Target kami di 2025 memang realistis, tetapi kami dorong keras agar Kabupaten Probolinggo bisa keluar dari daftar kabupaten dengan angka stunting tinggi,” tambahnya.

Program Bangga Kencana tidak sekadar tentang angka, tetapi merupakan perjuangan nyata demi masa depan generasi. Dengan sinergi antarlembaga, pemanfaatan data yang tepat, serta peran aktif masyarakat desa, penurunan angka stunting di Kabupaten Probolinggo bukan sekadar harapan melainkan sebuah tujuan yang sedang diwujudkan dari desa hingga pusat.