SURABAYA – Sebuah inovasi lahir dari tanga kreatif Rafli Pratama, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Widya Kartika (UWIKA) Surabaya. Ia berhasil merancang perangkat portable yang berfungsi untuk mengunduh data setting serta event relay 20 kV, yang diharapkan mampu mempercepat proses analisis gangguan jaringan listrik di lapangan.
Dalam sistem distribusi tenaga listrik, relay proteksi merupakan komponen penting yang bertugas mendeteksi adanya gangguan, lalu secara otomatis memutus aliran arus guna mencegah kerusakan lebih besar.
Selama ini, pengambilan data relay di gardu induk kerap menemui kendala karena teknisi harus membawa laptop besar, perangkat lunak khusus, bahkan terkadang perlu akses internet yang tidak selalu tersedia. Kondisi ini membuat proses investigasi gangguan menjadi lebih lama, padahal kecepatan sangat menentukan keberlangsungan pasokan listrik bagi pelanggan.
Berangkat dari persoalan tersebut, Rafli mencoba menghadirkan solusi melalui perangkat yang ringkas dan mudah dibawa. “Alat ini saya buat agar teknisi dapat langsung mengambil data setting maupun event relay di gardu induk tanpa perlu membawa perangkat yang berat. Data yang diperoleh bisa segera diproses untuk analisis, sehingga langkah penanganan gangguan bisa dilakukan lebih cepat,” ungkap Rafli, (22/08/25) Jum’at.
Perangkat karya Rafli telah diuji di beberapa lokasi, seperti di GI Undaan dan GI Waru. Pengujian tersebut bertujuan memastikan kompatibilitas alat dengan relay digital 20 kV yang digunakan PLN.
Hasil uji menunjukkan perangkat mampu terkoneksi menggunakan protokol komunikasi RS-232/RS-485 dan dapat membaca file setting maupun event log dengan baik. Waktu pengambilan data pun jauh lebih singkat dibandingkan cara manual, sehingga teknisi bisa segera mengambil tindakan korektif di lapangan.

Keunggulan lain, alat ini dirancang dengan sistem mandiri (standalone) menggunakan baterai, sehingga tidak membutuhkan dukungan laptop maupun internet. Fitur tersebut sangat membantu teknisi yang bertugas di wilayah terpencil dengan keterbatasan infrastruktur.
Dua dosen pembimbing Rafli, yakni Eddy Lybrech Talakua, S.T., M.T. dan Mahesa Sangga Bhuwana, S.T., M.T., memberikan apresiasi tinggi atas capaian mahasiswa bimbingannya.
Eddy menilai inovasi ini relevan dengan perkembangan digitalisasi di sektor ketenagalistrikan. “Perangkat portable ini menjawab persoalan nyata di lapangan. Teknisi kini bisa bekerja lebih praktis dan cepat, sehingga investigasi gangguan tidak memakan waktu lama. Imbasnya, kontinuitas suplai listrik kepada pelanggan bisa lebih terjamin,” cetusnya.
Mahesa menambahkan bahwa karya Rafli masih berpeluang dikembangkan lebih lanjut. “Jika ke depan perangkat ini diintegrasikan dengan sistem cloud atau aplikasi mobile, data gangguan bisa langsung dikirimkan ke pusat kontrol. Hal ini akan menjadi bagian dari implementasi smart grid yang sedang didorong di Indonesia,” tuturnya.
Selain menjadi bagian dari syarat penyelesaian tugas akhir, inovasi ini memiliki manfaat langsung di lapangan. Alat portable tersebut bukan hanya berpotensi digunakan PLN sebagai operator sistem distribusi, tetapi juga dapat menjadi rujukan pengembangan teknologi embedded system maupun IoT di bidang ketenagalistrikan.
Universitas Widya Kartika melalui karya mahasiswanya kembali membuktikan komitmen untuk mencetak lulusan yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi dunia industri.
“Harapan saya, alat ini dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan keandalan jaringan listrik Indonesia, khususnya di daerah yang sulit dijangkau,” pungkas Rafli.





