SURABAYA – Kebahagiaan menyelimuti Quddus Salam saat resmi mengucapkan sumpah pada acara Pengambilan Sumpah Dokter ke-13 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (28/8) siang. Momen ini menjadi sejarah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarganya. Quddus kini tercatat sebagai dokter pertama dalam keluarganya.
Sejak di bangku SMA, Quddus tidak pernah membayangkan dirinya akan mengenakan jas putih seorang dokter. Ia justru lebih tertarik pada dunia bahasa dan pernah bercita-cita menjadi guru bahasa Arab. Namun, orang tuanya melihat potensi lain.
“Orang tua melihat saya unggul di pelajaran kimia. Dari situ mereka mengarahkan agar saya menjadi dokter. Awalnya saya hanya mencoba mengikuti, tapi Alhamdulillah sekarang saya justru jadi dokter pertama di keluarga,” tuturnya dengan senyum bangga.
Perjalanan Quddus untuk meraih gelar dokter tidak selalu mulus. Ia sempat merasa ragu dengan pilihannya, terutama di awal kuliah. Titik balik datang pada semester lima, saat ia mulai belajar mata kuliah kejiwaan.
“Sejak SMP saya suka baca tentang psikologi, tentang karakter orang. Ketika kuliah ada mata kuliah kejiwaan, saya seperti menemukan kembali apa yang saya senangi sejak dulu. Dari situlah saya mantap dan mulai benar-benar mencintai dunia kedokteran,” kenangnya.
Latar belakang keluarganya yang religius turut memengaruhi arah pengabdiannya. Ayahnya, Lainul Qolbi Hamzah, adalah seorang kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin di Bangkalan, Madura. Dari situ, Quddus menggagas ide menjadikan pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat penguatan kesehatan.
Gagasan itu berawal saat pandemi Covid-19, ketika Quddus bersama teman-temannya melakukan penelitian dan pengabdian di pesantren. Dari sana lahirlah Poskestren (Posko Kesehatan Pesantren) yang kemudian bermitra dengan Unusa. Program ini menjadi bagian dari Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) yang menghubungkan literasi kesehatan dengan pendidikan agama.
Dalam menjalankan program, Quddus melibatkan banyak pihak, mulai dari mahasiswa, santri, Babinsa (Bintara Pembina Desa), hingga puskesmas setempat. Materi edukasi yang diberikan pun beragam, mulai dari gizi seimbang, pencegahan penyakit menular, pemanfaatan obat tradisional, hingga pola hidup bersih.
“Di Bangkalan masih banyak masyarakat yang membutuhkan pemahaman dasar soal kesehatan. Karena itu kami aktif memberikan edukasi secara berkala,” ujarnya.
Sejak digagas pada 2022, Poskestren terus berkembang. Kini, para santri bahkan telah membentuk tim khusus untuk mengelola program tersebut secara mandiri. “Bersyukur saat ini sudah ada tim sendiri dari anak-anak santri yang melanjutkan program. Jadi budaya hidup sehat di pesantren mulai terbentuk dengan baik,” ungkap pria kelahiran Bangkalan, 26 April 2001 itu.
Quddus juga memperkenalkan sistem digitalisasi sederhana untuk pengelolaan kesehatan, berupa pencatatan rekam medis santri. Dengan cara ini, administrasi kesehatan di pesantren menjadi lebih tertata dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah awareness santri soal kesehatan sangat meningkat. Orang tua saya sejak awal juga mendukung adanya Poskestren ini. Pesan abah saya jelas: kita harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu yang selalu saya pegang,” ucapnya penuh haru.
Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Quddus bertekad untuk terus mengembangkan Poskestren sekaligus memperluas pengabdiannya di masyarakat. Baginya, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan ladang ibadah dan jalan untuk membawa keberkahan.






