Saham yang Rentan Terhadap Suku Bunga di Tengah BI Rate Stabil 4,75%

Bank Indonesia Pertahankan BI Rate di 4,75%

Bank Indonesia mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di tingkat 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026. Keputusan ini terlihat sebagai respons terhadap situasi ekonomi yang masih dinamis. Di pasar modal, saham-saham yang sensitif terhadap perubahan suku bunga menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan.

IHSG Melemah pada Perdagangan Kemarin

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 1,36% atau 124,37 poin, berada di level 9.010,33 pada Rabu (22/1/2026). Penguasaan pasar oleh sentimen negatif terlihat jelas, dengan sejumlah sektor mengalami penurunan signifikan.

Pergerakan Indeks Sektor

  • Sektor Finansial: Turun sebesar 1,05%
  • Sektor Properti dan Real Estat: Jeblok hingga 3,44%
  • Sektor Industri: Anjlok sebesar 6,33%

Dalam sektor perbankan, beberapa saham utama seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 3,75%, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melemah 0,78%. Sementara itu, di sektor otomotif, PT Astra International Tbk. (ASII) jeblok hingga 9,28%.

Pergerakan Sektor Properti

Di sektor properti, kinerja saham juga tidak stabil:
– PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE): Melemah 0,53%
– PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI): Jeblok 4,97%
– PT Ciputra Development Tbk. (CTRA): Turun 4,89%
– PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR): Melemah 2%

Analisis dari Tim Phintraco Sekuritas

Tim Analis Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75% cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, kebijakan tersebut belum mampu menjadi katalis penahan koreksi pasar. Fokus kebijakan moneter saat ini lebih ditujukan pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik akan berada dalam kisaran 4,9%-5,7% pada tahun 2026, didorong oleh kenaikan permintaan domestik. Hal ini sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah dan dampak positif dari bauran kebijakan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan Stimulus dan Investasi

Efektivitas program stimulus pemerintah pada 2026 perlu diperkuat agar mampu mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. Investasi diperkirakan akan lebih tinggi, didukung oleh berlanjutnya program hilirisasi oleh pemerintah.

Tekanan IHSG dari Sentimen Global

Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Pelemahan rupiah serta meningkatnya risiko capital outflow akibat wacana tarif baru dari Presiden AS Donald Trump menjadi faktor utama.

“Dari sisi domestik, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75%, tetapi belum cukup menahan tekanan jual,” tulisnya dalam riset, Kamis (22/1/2026).

Prediksi Teknis IHSG

Secara teknikal, IHSG diestimasi masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan support di 8.948 dan resistance di 9.035. Selama sentimen global dan pergerakan rupiah belum menunjukkan perbaikan signifikan, tekanan diperkirakan masih berlanjut.

Perhatian terhadap Sektor Komoditas

Sektor komoditas, khususnya emas, tetap menarik dicermati seiring harga yang kembali mencetak all-time high di kisaran US$4.800 per troy ounces, didorong meningkatnya permintaan aset safe haven.

Prediksi IHSG Hari Ini

Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menambahkan IHSG berpotensi rehound hari ini dengan support 8.950–9.000 dan resistance 9.035–9.080.

BNI Sekuritas menyarankan investor untuk mencermati saham NCKL, MDKA, MBMA, VKTR, EMTK, dan CPIN sebagai trading idea hari ini.

Disclaimer

Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *