Obligasi Negara Ritel ORI029 Masih Tersedia, Permintaan Menunggu Momentum
Hingga awal Februari 2026, Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 dilaporkan masih memiliki sisa kuota penawaran lebih dari 50%. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa para investor cenderung lebih selektif dalam melakukan pembelian, bahkan banyak yang memilih untuk menunggu momentum yang tepat untuk mengoleksi instrumen pendapatan tetap ini.
Berdasarkan informasi dari salah satu mitra distribusi terkemuka, PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit), per Rabu pagi, 11 Februari 2026, penjualan ORI029 baru mencapai sebagian kecil dari total target yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) sebesar Rp25 triliun.
- ORI029 Tenor 3 Tahun:
Masih tersisa sekitar Rp8,46 triliun, yang berarti 56,4% dari target penawaran untuk tenor ini belum terserap. - ORI029 Tenor 6 Tahun:
Sisa penawarannya lebih besar lagi, yakni Rp8,07 triliun, atau sekitar 80,7% dari target.
Secara keseluruhan, sejak diluncurkan pada 26 Januari 2026, ORI029 baru berhasil terjual sekitar 33,88% dari total target penawaran. Angka ini mengindikasikan bahwa pasar ritel masih menahan sebagian besar investasinya, menunggu sinyal yang lebih pasti atau kondisi pasar yang lebih menguntungkan.
Analisis Pasar: Sentimen dan Faktor Penarik Investasi ORI029
Para analis pasar menilai bahwa beberapa faktor eksternal dan internal turut memengaruhi pola permintaan terhadap ORI029. Salah satu sentimen yang sempat beredar adalah penurunan pandangan (outlook) oleh lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody’s, terhadap tingkat kredit Indonesia.
Putri Nur Astiwi, Portfolio Manager/Analyst di Batavia Prosperindo Aset Manajemen, menjelaskan bahwa meskipun outlook dari Moody’s cenderung menekan daya tarik instrumen surat utang negara, pasar ritel memiliki karakteristik permintaan yang tidak sepenuhnya taktikal.
“Masih ada pembeli yang bersifat struktural,” ujar Putri. “Mereka berinvestasi untuk tujuan reinvestasi, mengutamakan keamanan negara, kepastian pembayaran kupon, dan kemudahan akses. Oleh karena itu, penyerapan ORI029 berpotensi tetap baik, meskipun pola pembeliannya bisa menjadi lebih selektif dan menunggu momentum yang tepat.”
Pergerakan Yield SBN dan Keunggulan ORI029
Saat ini, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) berjangka waktu 10 tahun terpantau melemah hingga ke level 6,44%. Data menunjukkan bahwa level yield ini setara dengan kinerja imbal hasil SBN pada September 2025 lalu. Sepanjang tahun berjalan 2026, yield SBN secara umum telah mengalami pelemahan sekitar 5,92%.
Meskipun imbal hasil yang ditawarkan oleh ORI029 pada masing-masing tenor mungkin terlihat kurang menarik jika dibandingkan dengan posisi yield SBN serupa di pasar sekunder, instrumen ini tetap memiliki keunggulan signifikan. Keunggulan utama ORI029 terletak pada kemudahan aksesnya bagi investor ritel jika dibandingkan dengan obligasi negara yang diperdagangkan di pasar sekunder.
Investor domestik, menurut analis, masih memandang SBN Ritel sebagai instrumen utama dalam portofolio yang bersifat defensif. Preferensi investor terhadap instrumen yang aman dan stabil ini menjadi penopang prospek ORI029 yang tetap positif.
Sentimen Moody’s Justru Berpotensi Meningkatkan Daya Tarik
Menariknya, Fajar Dwi Alfian, Investment Advisor di Infofvesta Kapital Advisori, memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai dampak penurunan outlook oleh Moody’s. Menurutnya, sentimen ini justru berpotensi memberikan daya tarik tambahan bagi investor ritel.
“Justru sentimen ini bisa membuat penawaran obligasi ritel menjadi lebih atraktif karena yield yang ditawarkan berpotensi lebih tinggi,” kata Fajar.
Hal ini didukung oleh fakta bahwa ORI029 menawarkan aliran kas bulanan kepada investor. Fitur ini memberikan likuiditas yang tetap dan terjamin setiap bulannya, menjadikannya pilihan yang menarik dibandingkan dengan SBN konvensional yang mungkin tidak memiliki fitur serupa.
Potensi Tantangan dan Faktor Makroekonomi
Meskipun demikian, ada beberapa sentimen makroekonomi yang perlu dicermati dan berpotensi memengaruhi daya serap pasar terhadap ORI029. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun lalu dan pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi perhatian.
Namun, Fajar meyakini bahwa dampak kedua sentimen tersebut tidak akan signifikan terhadap investor ritel. Ia berpendapat bahwa isu defisit APBN dan nilai tukar Rupiah lebih cenderung memengaruhi minat investor asing terhadap surat utang negara Indonesia.
“Makroekonomi domestik masih stabil, terutama dari sisi inflasi,” tegas Fajar. “Mungkin yang agak mengkhawatirkan adalah defisit APBN dan nilai tukar Rupiah. Namun, itu lebih berdampak pada investor asing.”
Dengan demikian, meskipun terdapat beberapa pertimbangan, ORI029 masih menawarkan kombinasi keamanan, kemudahan akses, dan potensi imbal hasil yang menarik bagi investor ritel Indonesia, terutama bagi mereka yang mencari instrumen investasi defensif dan stabil. Sisa kuota yang masih tersedia memberikan peluang bagi investor yang ingin masuk ke pasar obligasi ritel ini.





