Bingka: Sang Primadona Takjil Ramadan di Penajam Paser Utara
Menjelang waktu berbuka puasa di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, berbagai lapak takjil selalu ramai dipadati pembeli. Di antara beragam pilihan hidangan manis untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa, satu jenis kue tradisional secara konsisten menjadi yang paling diburu dan paling cepat ludes: kue bingka.
Kue bingka, dengan tampilannya yang khas dalam loyang berbentuk bunga, hadir dalam dua varian warna yang menggugah selera: hijau pandan yang segar dan kuning keemasan yang kaya. Permukaannya yang sedikit bergelombang dan tampak lembut memberikan indikasi sempurna bahwa kue ini dipanggang hingga bagian atasnya matang merata, namun tetap mempertahankan kelembapan di bagian dalamnya.
Secara historis, bingka dikenal sebagai kue tradisional yang berasal dari suku Banjar di Kalimantan Selatan. Bahan dasarnya pun terbilang sederhana namun menghasilkan cita rasa yang istimewa, yaitu campuran telur, santan kental, gula, dan tepung. Di PPU, dua varian bingka yang paling mendominasi pasar takjil Ramadan adalah varian pandan dan varian original.
Aroma santan yang kuat langsung tercium begitu bingka disajikan, berpadu dengan rasa manis yang pas di lidah. Sensasi lembutnya pun terasa sejak suapan pertama, menjadikannya pilihan yang sangat memuaskan. Bingka umumnya dijual dalam potongan besar, baik dalam satu loyang penuh maupun per potong, sesuai dengan permintaan dari para pembeli.
Rahma, seorang penjual bingka yang berlokasi di Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, mengungkapkan betapa tingginya permintaan bingka selama bulan Ramadan. “Kalau Ramadhan, bingka ini pasti dicari. Sehari bisa habis belasan loyang. Paling cepat habis yang pandan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa proses pembuatan bingka dimulai sejak siang hari agar kue tersebut masih dalam kondisi hangat saat dijual kepada pelanggan.
Proses pembuatan bingka, meskipun tidak tergolong rumit, membutuhkan ketelatenan tinggi. Kunci utamanya terletak pada takaran adonan yang tepat agar tekstur bingka tidak bantat dan tetap lembut menggugah selera. Penggunaan loyang berbentuk bunga tidak hanya menjadi ciri khas, tetapi juga menambah daya tarik visual kue ini di antara deretan takjil lainnya.
Fenomena bingka sebagai incaran utama di tengah keramaian pembeli takjil bukanlah hal baru. Banyak warga yang sengaja datang lebih awal ke lapak-lapak penjual demi memastikan mereka tidak kehabisan kue favorit ini.
Lebih dari Sekadar Takjil: Nilai Nostalgia dan Tradisi
Bagi sebagian warga Penajam Paser Utara, bingka bukan sekadar hidangan manis untuk berbuka puasa. Kue ini telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan yang diwariskan turun-temurun. Cita rasa otentiknya yang tetap terjaga dari generasi ke generasi memberikan nilai nostalgia yang mendalam.
Ardi, salah seorang warga Petung, menyampaikan betapa kurang lengkap rasanya berbuka puasa tanpa kehadiran bingka. “Kalau buka puasa tanpa bingka rasanya kurang lengkap. Manisnya itu pas buat balikin tenaga,” tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa bingka tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memberikan energi dan rasa nyaman yang khas.
Keunggulan lain dari bingka adalah kemampuannya untuk memberikan rasa kenyang yang cukup. Ini menjadikannya pilihan yang praktis dan memuaskan bagi mereka yang ingin segera mendapatkan energi setelah berpuasa.
Harga Terjangkau, Rasa Tak Tergantikan
Dari sisi harga, bingka tetap menjadi pilihan yang sangat terjangkau bagi masyarakat. Satu loyang bingka biasanya dijual dengan kisaran harga Rp25 ribu hingga Rp40 ribu, tergantung pada ukuran dan varian yang dipilih. Dengan harga tersebut, satu loyang bingka dapat dinikmati bersama keluarga tercinta saat momen berbuka puasa.
Di tengah menjamurnya berbagai jenis takjil modern dengan tampilan yang inovatif, bingka justru semakin membuktikan posisinya sebagai favorit yang tak tergantikan. Kesederhanaannya, kelembutannya yang khas, dan kekayaan rasa santannya adalah kombinasi sempurna yang membuatnya selalu dicari.
“Banyak kue baru sekarang, tapi tetap saja yang dicari bingka. Sudah dari dulu begini,” tutup Rahma, menegaskan bahwa bingka memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Penajam Paser Utara, menjadikannya primadona takjil yang tak lekang oleh waktu. Keberadaannya di meja berbuka warga Benuo Taka (julukan lain untuk PPU) adalah sebuah keniscayaan yang selalu dinanti setiap tahunnya.






