BISNIS  

TTL – KSOP Tanjung Perak Luncurkan EAZI Pangkas Waktu Tunggu Kapal Jadi 2 Jam

SURABAYA – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama KSOP Utama Tanjung Perak resmi mengoptimalkan Penataan Zona Labuh 2 Pelabuhan Tanjung Perak melalui penandatanganan Standar Operasional Prosedur (SOP), Selasa (24/2/2026). Langkah ini menjadi terobosan strategis untuk mempercepat layanan kapal domestik sekaligus menjawab lonjakan aktivitas kepelabuhanan di Jawa Timur.

Program bertajuk Express Anchorage Zone Service (EAZI) dirancang sebagai solusi atas tingginya mobilitas kapal yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan keselamatan layanan. Implementasinya melibatkan kolaborasi lintas instansi, antara lain KSOP Gresik, Distrik Navigasi Tipe A Kelas I Tanjung Perak, Sub Regional Jawa PT Pelabuhan Indonesia (Persero), serta PT Pelindo Jasa Maritim.

Melalui EAZI, TTL menyediakan area tunggu prioritas bagi kapal domestik dengan panjang maksimal 150 meter. Skema ini memungkinkan pengaturan pergerakan kapal yang lebih terencana dan terukur. Waktu transisi dari lepas sandar hingga kembali sandar yang sebelumnya mencapai 4–6 jam kini ditargetkan maksimal hanya 2 jam.

Kepala KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, menegaskan bahwa penataan Zona Labuh 2 bukan sekadar soal percepatan layanan, tetapi juga peningkatan keselamatan pelayaran.

“Ini adalah langkah penting dalam inovasi layanan kepelabuhanan untuk memperlancar arus barang, mengingat Pelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu pintu utama perdagangan di Jawa Timur,” ujarnya.

EAZI diterapkan terintegrasi di tiga terminal yang dikelola TTL, yakni TPK Teluk Lamong, TPK Berlian, dan TPK Nilam, dengan fokus utama pada kapal domestik. Selain efisiensi waktu, sistem ini juga mewajibkan kapal mengaktifkan Automatic Identification System (AIS) serta mematuhi ketentuan operasional yang telah ditetapkan guna menjaga keamanan dan ketertiban di perairan.

Direktur Utama TTL, David Pandapotan Sirait, menyebut keberhasilan EAZI sebagai wujud sinergi nyata antar pemangku kepentingan.

“Optimalisasi Zona Labuh 2 melalui EAZI mencerminkan transformasi layanan maritim yang mengedepankan integrasi, koordinasi, serta standar operasional yang jelas dan terukur,” katanya.

Langkah percepatan ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang kian progresif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat ekonomi provinsi ini tumbuh 5,33 persen sepanjang 2025, dengan peningkatan volume bongkar muat angkutan laut domestik sebesar 17,09 persen pada akhir tahun. Kondisi tersebut menuntut kesiapan infrastruktur dan pengelolaan ruang laut yang semakin optimal.

Dengan optimalisasi Zona Labuh 2, TTL berharap dapat semakin memperkuat peran Pelabuhan Tanjung Perak sebagai hub logistik utama Indonesia Timur, menjaga kelancaran rantai pasok, serta mendorong pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional.