OJK Jatim Ungkap Kinerja Positif Industri Jasa Keuangan, Pinjol dan Investasi Melesat

Caption : Kinerja sektor jasa keuangan Jawa Timur menunjukkan tren positif sepanjang 2026, ditandai pertumbuhan pinjaman online, pasar modal, reksa dana, asuransi, hingga dana pensiun & hal tersebut dijelaskan dalam Media Briefing OJK Jawa Timur 2026 di Surabaya. (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)

SURABAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur mencatat kinerja positif sejumlah sektor jasa keuangan di wilayahnya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah pertumbuhan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau pinjaman online yang mencapai Rp11,969 triliun per April 2026.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala OJK Jawa Timur, Horas VM Tarihoran, mengungkapkan nilai outstanding pinjaman online tersebut meningkat 19,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan itu diikuti peningkatan jumlah pemberi pinjaman yang mencapai 408 ribu rekening atau naik 36,50 persen secara tahunan. Sementara jumlah rekening peminjam mencapai 18,014 juta rekening atau tumbuh 17,42 persen. Adapun tingkat wanprestasi 90 hari (TWP-90) tercatat sebesar 5,80 persen.

“Perkembangan industri jasa keuangan di Jawa Timur secara umum masih menunjukkan tren yang cukup baik dan tetap terjaga,” kata Horas, Senin (22/6/2026).

Di sektor modal ventura, total penyertaan atau pembiayaan hingga Maret 2026 mencapai Rp1,96 triliun atau tumbuh 4,38 persen secara tahunan. Kualitas pembiayaan juga relatif terjaga dengan Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 3,89 persen.

Sementara itu, industri perusahaan pembiayaan membukukan total pembiayaan Rp46,29 triliun. Meski mengalami koreksi 2,17 persen secara tahunan, sektor ini masih mencatat pertumbuhan 1,41 persen secara year to date (ytd).

NPF gross perusahaan pembiayaan tercatat 3,92 persen dengan jumlah kontrak pembiayaan mencapai 409.281 kontrak. Pembiayaan tersebut didominasi segmen multiguna, investasi, modal kerja, serta pembiayaan syariah yang menyasar sektor perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, dan akomodasi makanan-minuman.

Kinerja positif juga terlihat pada Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). Total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp176,50 miliar atau tumbuh 16,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Aset LKM dan LKMS meningkat 1,05 persen menjadi Rp274,29 miliar. Namun demikian, penghimpunan simpanan masih mengalami kontraksi 1,05 persen menjadi Rp38,64 miliar.

Dari pasar modal, investor Jawa Timur menunjukkan aktivitas yang semakin tinggi. Hingga April 2026, investor Jawa Timur membukukan net buy sebesar Rp4,127 triliun secara year to date dan Rp2,679 triliun secara month to date.

Jumlah Single Investor Identification (SID) di Jawa Timur mencapai 2.989.513 SID atau meningkat 60,47 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah investor terbanyak ketiga di Indonesia.

Pertumbuhan juga terjadi pada Securities Crowdfunding (SCF). Jumlah penerbit tercatat sebanyak 35 pihak atau meningkat 12,90 persen secara tahunan. Sementara jumlah pemodal mencapai 8.074 pihak atau tumbuh 7,71 persen.

Total dana yang berhasil dihimpun melalui SCF mencapai Rp65,79 miliar, melonjak 61,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor barang konsumen primer menjadi kontributor terbesar dengan 19 penerbit dan dana terhimpun Rp26,24 miliar atau sekitar 39,89 persen dari total dana SCF.

Di sisi lain, industri reksa dana juga menunjukkan akselerasi. Jumlah nasabah institusi meningkat 84,83 persen secara tahunan, sedangkan nasabah perorangan tumbuh 44,74 persen per Maret 2026.

“Nilai penjualan reksa dana meningkat 177,82 persen secara tahunan dalam rupiah dan 627,93 persen dalam dolar Amerika Serikat,” ujar Horas.

Pada sektor perasuransian, total pendapatan premi selama Januari-April 2026 mencapai Rp6,79 triliun atau tumbuh 20,61 persen secara tahunan. Kontribusi terbesar berasal dari asuransi jiwa dengan pangsa pasar mencapai 81,95 persen.

Di periode yang sama, total beban klaim tercatat Rp4,87 triliun atau naik 18,01 persen. Klaim asuransi jiwa mendominasi dengan porsi 89,22 persen dari total klaim yang dibayarkan.

Adapun dana pensiun yang berkantor pusat di Jawa Timur membukukan aset tersedia sebesar Rp4,61 triliun hingga April 2026 atau tumbuh 4,05 persen secara tahunan. Total investasi mencapai Rp4,48 triliun dengan pertumbuhan 3,96 persen.

Portofolio investasi masih didominasi Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp2,031 triliun atau setara 45,34 persen dari total portofolio investasi sebesar Rp4,479 triliun. Sementara jumlah peserta dana pensiun tercatat sebanyak 20.020 peserta.