BERITA  

Ancaman Perang AS-Iran pada Pasokan Pupuk Kimia



YOGYAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran kini mulai memengaruhi sektor vital lainnya, yaitu ketahanan pangan. Serangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi dan produksi pupuk berbasis nitrogen, karena negara-negara Teluk merupakan produsen utama komoditas ini di tingkat global.

Prof Subejo, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), memberikan peringatan bahwa kelangkaan pasokan nitrogen dapat memicu efek domino terhadap produksi pertanian dunia, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku pupuk kimia.

Menurut Subejo, dampak nyata dari krisis ini kemungkinan belum terasa pada musim tanam saat ini karena pemerintah masih memiliki cadangan stok. Namun, ancaman serius mengintai untuk periode berikutnya.

Kelangkaan pupuk bisa terjadi akibat gangguan dalam distribusi logistik dan kapal pengangkut bahan baku yang terganggu oleh zona konflik. Jika stok pupuk nonorganik berkurang hingga 50 persen, risiko kegagalan produksi komoditas pertanian akan meningkat tajam.

“Di satu sisi, tetap ada risiko kekurangan pupuk kimia, tetapi ada kesempatan untuk beralih ke pupuk organik. Jika hal ini disikapi dengan serius, bisa jadi momentum untuk memanfaatkan sumber daya yang ada,” ujar Subejo.

Berbeda dengan pupuk kimia, bahan baku pupuk organik dan hayati tersedia melimpah di dalam negeri. Menurut dia, kelangkaan pupuk nonorganik bisa menjadi momentum bagi pemerintah, masyarakat, dan swasta untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia, seperti kotoran ternak dan limbah organik.

Meskipun pupuk nonorganik tidak bisa sepenuhnya digantikan secara instan, transisi ini dianggap sebagai langkah penyelamatan jangka panjang yang mendesak.

Untuk mencegah kolapsnya sektor pertanian di tingkat akar rumput, Subejo menyarankan beberapa langkah strategis:

  • Pemerintah dapat menyiapkan unit produksi pupuk organik di level desa melalui Kelompok Tani atau BUMDES.
  • Selain itu, pemerintah perlu menyalurkan mesin pengolah pupuk skala desa dan lebih memasifkan penyuluhan agar petani tidak lagi bergantung total pada pupuk kimia.

“Jika tidak disiapkan, nanti ketika betul-betul terjadi kelangkaan, harganya sangat mahal, kemudian tidak tersedia, pasti masyarakat akan kolaps. Namun, jika strategi tersebut dilakukan melalui penyuluhan, melalui pengadaan mesin, termasuk mungkin pelatihan, saya kira menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mulai disiapkan,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *