Peran seorang suami sering kali dikaitkan dengan tanggung jawab sebagai pemberi nafkah. Namun, semakin banyak pasangan yang menyadari bahwa kecukupan materi saja tidak cukup untuk menciptakan kebahagiaan jangka panjang. Mereka mulai memahami bahwa ada kebutuhan lain yang lebih mendalam, yaitu nafkah rohani atau batin.
Psikolog keluarga dan pernikahan Nadya Pramesrani, M.Psi., menjelaskan bahwa dalam psikologi, pemenuhan kebutuhan batin ini berkaitan erat dengan konsep keintiman. “Menafkahi bisa berarti konteks jasmani dan rohani/batin. Secara jasmani, paling mudah dilihat dari sisi finansial. Tapi secara rohani/batin, dalam psikologi kita mengenal konstruk intimacy atau keintiman,” ujarnya saat dihubungi.
Hal ini merujuk pada pemikiran Mark Schaefer dan David Olson, yang menunjukkan bahwa terdapat enam aspek keintiman yang perlu dirawat agar pernikahan tetap kokoh. Berikut penjelasannya:
1. Keintiman Emosional
Keintiman emosional merupakan fondasi utama dalam hubungan. Ini tercipta ketika pasangan merasa aman untuk saling terbuka tanpa takut dihakimi. Ada rasa nyaman saat berbagi kerentanan, ketakutan, hingga mimpi-mimpi terdalam.
2. Keintiman Intelektual
Keintiman intelektual muncul ketika pasangan merasa “nyambung” saat membicarakan visi masa depan atau isu-isu penting. Pasangan yang memiliki aspek ini mampu berdiskusi secara sehat dan saling menghargai pola pikir satu sama lain.
“Saling memahami isu-isu penting dalam hubungan dan merencanakan tujuan masa depan bersama, atau singkatnya ngobrol tuh nyambung,” jelas Nadya.
3. Keintiman Rekreasi
Nafkah batin juga hadir dalam bentuk tawa dan waktu luang. Menikmati hobi bersama atau sekadar jalan-jalan santai di akhir pekan dapat membantu melepaskan penat dari rutinitas domestik dan memperkuat ikatan sebagai sahabat.
4. Keintiman Keuangan
Tidak sedikit konflik yang bermula dari ketidakterbukaan soal uang. Keintiman keuangan bukan tentang siapa yang paling banyak menghasilkan, melainkan sejauh mana pasangan merasa nyaman dan transparan dalam mendiskusikan pengelolaan anggaran serta tujuan finansial bersama.
5. Keintiman Seksual
Hubungan fisik yang memuaskan kedua belah pihak merupakan bagian penting dari keintiman pernikahan. Ini bukan hanya soal aktivitas biologis, tapi tentang komunikasi kasih sayang dan penerimaan tubuh pasangan.
6. Keintiman Spiritual
Aspek ini menyentuh sisi nilai-nilai kehidupan dan keyakinan. Berbagi makna tentang tujuan hidup, menjalankan ibadah bersama, atau mendiskusikan prinsip moral dapat memberikan ketenangan batin yang luar biasa dalam keluarga.
Menyeimbangkan Harapan dan Ekspektasi
Lebih lanjut, Nadya menjelaskan bahwa kunci utama dari keharmonisan rumah tangga bukanlah seberapa ideal peran yang dijalankan, melainkan adanya kesepakatan bersama. Setiap pasangan memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, yang secara tidak sadar membentuk standar subjektif tentang apa yang dianggap “wajar” dalam pernikahan.
Tanpa diskusi terbuka, perbedaan asumsi inilah yang sering menjadi pemicu konflik. Oleh karena itu, sangat penting bagi pasangan untuk duduk bersama dan membicarakan ekspektasi peran serta tanggung jawab masing-masing sejak awal. Apakah Anda memilih pembagian peran konvensional (suami bekerja dan istri mengelola domestik) atau model setara (companionate) di mana keduanya saling bertukar peran, keduanya adalah pilihan yang sah selama disetujui kedua pihak.
Perlu diingat bahwa kesepakatan ini tidak bersifat kaku. Diskusi ini sebaiknya dilakukan secara berkala, terutama saat memasuki fase hidup baru atau ketika muncul kebutuhan yang sebelumnya tidak terduga.
Pada akhirnya, kebahagiaan keluarga ditentukan oleh versi yang Anda dan pasangan bangun sendiri, bukan oleh standar orang lain.






