Kehadiran Budaya dalam Pembangunan Kota Surabaya
Peluncuran buku serial sketsa Kota Lama Surabaya di Museum De Javasche Bank, Minggu (26/4/2026), memberikan wawasan baru tentang bagaimana warisan budaya kota ini belum sepenuhnya masuk dalam arus utama kebijakan ekonomi dan pembangunan. Forum ini justru memperkuat kekhawatiran bahwa potensi budaya Surabaya masih berjalan sendiri, tanpa terintegrasi dengan strategi besar pemerintah.
Pembina Puri Aksara Rajapatni, A. Hermas Thony, menegaskan bahwa budaya seharusnya bisa menjadi instrumen ekonomi, bahkan menjadi jaminan dalam kebijakan moneter. “Negara-negara besar membangun kekuatan ekonomi dari budaya. Indonesia punya potensi itu, tapi belum dimaksimalkan,” ujarnya.
Thony menilai pendekatan pembangunan selama ini masih menempatkan budaya sebagai sektor pinggiran. Padahal, jika dikelola serius dan dimulai dari komunitas akar rumput, budaya bisa menjadi daya dorong ekonomi baru. Ia juga menyoroti peran perempuan dalam sejarah kebudayaan yang dinilai sering luput dari perhatian dalam narasi pembangunan.
Peran Budaya dalam Identitas Kota
Di sisi lain, anggota DPRD Surabaya Komisi D, dr. Zuhrotul Mar’ah, menegaskan bahwa laju pembangunan kota tidak boleh mengorbankan identitas sejarah. Ia menyinggung kuatnya karakter Surabaya sebagai kota pahlawan yang tercermin dalam arsitektur lama dan nilai perjuangan arek-arek Suroboyo. “Kalau pembangunan hanya mengejar bisnis, tanpa menjaga budaya, kita kehilangan jati diri kota,” katanya.
Menurutnya, bangunan-bangunan peninggalan kolonial yang masih berdiri justru menunjukkan kualitas pembangunan masa lalu yang tahan waktu. Hal itu seharusnya menjadi acuan dalam merancang kota ke depan, bukan justru tergeser oleh pembangunan instan.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Membangun Ekosistem Budaya
Kepala Perwakalan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, melihat persoalan ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut keterlibatan tujuh museum dalam kegiatan ini menjadi contoh awal bagaimana ekosistem budaya bisa dibangun bersama. “Warisan budaya tidak cukup dijaga, tapi harus dihidupkan agar memberi dampak ekonomi,” ujarnya.
Ia juga menyinggung rangkaian acara “Women of Light” yang akan digelar awal Mei sebagai bagian dari upaya mengangkat peran perempuan dan budaya lokal. Program tersebut melibatkan edukasi, lomba seni, hingga pemberdayaan UMKM sebagai bentuk integrasi antara budaya dan ekonomi.
Kedudukan Budaya dalam Masa Depan Kota
Peluncuran buku ini pada akhirnya tidak berhenti sebagai peristiwa literasi. Ia menjadi pengingat bahwa Surabaya sedang berada di persimpangan: antara melanjutkan pembangunan yang pragmatis, atau mulai menempatkan budaya sebagai fondasi masa depan kota.
Budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi peluang masa depan. Dengan pendekatan yang tepat, budaya dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Namun, hal ini memerlukan komitmen dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.
Tantangan dan Peluang
Meski ada tantangan dalam integrasi budaya dengan pembangunan ekonomi, banyak peluang yang terbuka. Dari pendidikan, seni, hingga pemberdayaan ekonomi rakyat, budaya bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dengan inisiatif seperti peluncuran buku dan acara “Women of Light”, Surabaya menunjukkan bahwa ia siap memperkuat posisi budaya dalam kerangka pembangunan kota.
Dalam situasi seperti ini, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama, saling mendukung, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan budaya secara berkelanjutan. Dengan begitu, Surabaya tidak hanya menjadi kota yang maju, tetapi juga kota yang memiliki identitas dan semangat yang kuat.






