Kekhawatiran Peternak Ayam Petelur terhadap Investasi Cina
Peternak ayam petelur di Indonesia mulai waspada terhadap rencana investasi sebesar Rp1,4 triliun dari China di sektor perunggasan. Investasi ini dinilai berpotensi memperparah kelebihan pasokan telur dan menekan harga di tingkat peternak yang saat ini sudah berada di bawah harga acuan pemerintah.
Ketua Bidang Pemantauan Harga dan Gerakan Pangan Murah Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), Samhadi, menyatakan bahwa tambahan investasi dalam bentuk integrated farm atau peternakan terintegrasi dapat memperburuk kondisi oversupply telur dan menekan harga di tingkat peternak.
Menurutnya, pihaknya tidak mempermasalahkan investasi asing selama tidak masuk ke sektor budidaya ayam petelur. Ia menjelaskan bahwa industri perunggasan terdiri dari empat sektor utama, yaitu pembibitan, feedmill, budidaya, dan kesehatan hewan. Investasi di luar sektor budidaya dinilai masih dapat diterima karena mampu memperbaiki iklim usaha dan memperkuat rantai pasok industri.
“Kalau mereka masuk di selain budidaya oke. Tapi kalau masuk di budidaya, jadi masalah. Artinya bersaing dengan peternak rakyat,” ujarnya.
Kekhawatiran peternak muncul di tengah kondisi harga telur yang melemah. Samhadi mengatakan bahwa penurunan harga mencerminkan kondisi produksi telur nasional yang sedang mengalami kelebihan pasokan atau oversupply.
“Untuk pasokan sendiri sejauh ini masih terpenuhi dan kita sudah swasembada. Bahkan ada penurunan harga, berarti produksi kita ini oversupply,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab peningkatan produksi berasal dari perpanjangan masa produktif ayam petelur. Jika sebelumnya ayam akan menjadi ayam potong pada usia sekitar 80 minggu, kini ayam masih dapat memproduksi telur hingga usia 100 minggu.
“Jadi sampai usia 100 minggu masih menghasilkan telur,” katanya.
Penurunan harga ini juga diakui oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, mengungkapkan bahwa harga telur di sejumlah sentra produksi memang tengah berada di bawah harga acuan pemerintah.
Secara nasional, harga telur rata-rata berada di level Rp24.500 per kilogram. Namun di sentra produksi seperti Jawa Timur, harga turun hingga sekitar Rp22.500 per kilogram.
Pemerintah menargetkan harga telur di tingkat produsen dapat kembali mendekati harga acuan pembelian pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Agung mengatakan bahwa produksi telur nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 800 ribu ton atau sekitar 13% dari kebutuhan nasional.
“Surplus ini masih relatif kecil karena kita juga terus mendorong ekspor telur,” katanya.
Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sempat mengerek permintaan telur, namun Samhadi menyebut dampaknya masih sangat bergantung pada implementasi di lapangan.
“Efek dari permintaan telur dari MBG atau dapur MBG itu bagus ya. Tapi sekarang pilihan menu telur itu kurang karena sepertinya cuma direbus saja, jadi mungkin nggak terlalu diminati di sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa frekuensi penggunaan telur dalam menu MBG sangat menentukan besarnya serapan pasar. Pada realitanya, saat ini permintaan atas kebutuhan program tersebut masih berfluktuasi dan belum konsisten mengerek harga telur.
“Kalau seminggu dua kali ya signifikan untuk menaikkan demand. Tapi kalau dikurangi atau bahkan tidak pakai telur, otomatis permintaan turun,” kata Samhadi.
Rencana Investasi Cina di Sektor Peternakan
Isu masuknya investasi Cina di sektor peternakan unggas mencuat setelah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menerima audiensi The China Egg Industry Chain Business Delegation pada April lalu.
Rencana kerja sama ini menargetkan investasi pembangunan fasilitas pengelolaan susu serta proyek Mega Layer Farm terintegrasi di Aceh dengan nilai mencapai 450 juta Yuan atau setara Rp1,4 triliun.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan Cecep M. Wahyudin menegaskan informasi mengenai investasi Cina itu masih sangat awal dan belum mengarah pada realisasi proyek besar.
“Informasi yang beredar itu terlalu dini. Itu baru tahap awal adanya rencana atau keinginan investor dan delegasi dari China yang berminat masuk ke Indonesia untuk mengembangkan peternakan ayam,” ujarnya.
Menurut Cecep, Kadin hanya berperan sebagai pintu komunikasi bagi investor dan belum ada keputusan terkait besaran investasi maupun bentuk pengembangannya.
“Masih tahap sosialisasi, jadi tidak ada rencana pengembangan sampai sebesar apa yang diberitakan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Kadin memahami kondisi supply dan demand industri perunggasan nasional sehingga tidak akan mendorong investasi yang justru memperburuk pasar domestik.
“Kami paham betul mana yang harus kita push mana yang enggak,” ujarnya.
Cecep juga menegaskan bahwa pemerintah dan pelaku usaha selama ini justru tengah berupaya memperkuat peternak rakyat, termasuk melalui pengembangan pasar ekspor telur.






