—
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan selama lebih dari satu tahun sejak diluncurkan pada Senin, 6 Januari 2025. Program ini diklaim memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari meningkatnya akses terhadap makanan bergizi hingga membantu meringankan pengeluaran rumah tangga sehari-hari.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa MBG bukan sekadar program makan siang. Ada dampak nyata yang sudah dan akan terus dirasakan masyarakat.
Pada Januari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) telah menerbitkan Laporan Hasil Survei Monitoring dan Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis. Hasil survei menunjukkan peningkatan pada sejumlah indikator utama terkait manfaat program bagi masyarakat.
Berdasarkan laporan BPS, kemudahan masyarakat dalam memperoleh makanan bergizi meningkat dari 81,4 persen menjadi 84,1 persen. Selain itu, perilaku konsumsi makanan bergizi juga mengalami peningkatan, dari 80,3 persen menjadi 84,1 persen.
Tak hanya itu, program tersebut dinilai membantu masyarakat menghemat waktu dan biaya kebutuhan harian. Persentase masyarakat yang merasa terbantu dalam menyiapkan makan siang meningkat dari 75,4 persen menjadi 78,3 persen.
Lebih lanjut, data BPS menunjukkan persentase masyarakat yang merasakan pengeluaran sehari-hari menjadi lebih ringan naik dari 73,6 persen menjadi 75,9 persen.
Qodari menyebut pemerintah juga mencatat peningkatan kualitas pelaksanaan program, terutama dari sisi menu makanan yang diberikan kepada siswa. Hal itu tercermin dari meningkatnya persentase siswa yang menghabiskan seluruh porsi makanan MBG.
“Persentase siswa yang menghabiskan seluruh porsi MBG meningkat dari 66,9 persen pada Juli 2025 menjadi 69,8 persen pada November 2025. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan kualitas menu dan cita rasa secara berkala,” ungkapnya.
Selain berdampak pada penerima manfaat, Qodari menyampaikan bahwa program MBG turut memberikan efek positif terhadap pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok penyediaan makanan bergizi.
Pemerintah mencatat mayoritas pemasok (supplier) program mengalami kenaikan penjualan selama periode pelaksanaan. “Selama periode Januari–Oktober 2025, sebanyak 85,6 persen supplier MBG mencatat kenaikan nilai penjualan,” katanya.
Capaian data BPS tersebut menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi stimulus ekonomi yang mendukung pertumbuhan usaha lokal dan sektor pangan nasional.
MBG Penuhi Sepertiga Kebutuhan Gizi
Sementara itu, Perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Dewan Pimpinan Cabang Kota Surakarta, sekaligus Dosen Prodi S1 Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta (UMPKU) Dewi Marfuah, menilai, Program MBG bukan sekadar upaya membagikan makanan di sekolah, melainkan sebuah intervensi strategis untuk memutus rantai masalah gizi pada kelompok rentan.
Dewi menyoroti dilema nyata yang ditemukan di lapangan, banyak anak sekolah yang berangkat dengan perut kosong karena keterbatasan ekonomi di rumah. “Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu kali waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya saat pengabdian di sekolah, jumlah siswa yang tidak sarapan seringkali lebih banyak dibanding yang sarapan. Pengalaman Dewi di lapangan juga diperkuat data dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada awal Februari 2026 lalu. Sebanyak 81 persen keluarga rentan menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program MBG. Karena itu, MBG dinilai oleh orang tua dapat memberikan kepastian nutrisi bagi anak sekolah, terutama di kota-kota kecil.
Salah satu kisah datang dari seorang orang tua siswa bernama Ibu Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, NTT. Kisahnya memperkuat perubahan positif yang dialami pada anaknya, Antonio Adrian Stefanus, siswa kelas VI SD Negeri Weetabula II.
Adriana mengaku sangat terbantu dengan program MBG karena anaknya kini jadi lebih aktif dan semangat dalam proses belajar.
“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi. Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisik juga jadi terlihat lebih segar dan berenergi,” terang Adriana.
Menurut Dewi, MBG memang dirancang untuk memenuhi hampir sepertiga kebutuhan nutrisi penerimanya. “Dengan menu gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayur, hingga buah, siswa diharapkan memiliki energi cukup untuk berkonsentrasi belajar tanpa rasa lemas,” imbuh Dewi.
Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Meski saat ini fokus utama terlihat pada anak sekolah, Dewi menjelaskan bahwa keberlanjutan program ini melalui SPPG juga menyasar kelompok rentan lainnya, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Kita tidak ingin melihat lagi ada ibu hamil yang “kurus” karena nutrisinya habis terserap janin tanpa ada asupan pengganti yang memadai. Begitu pula dengan balita; pemberian makanan bergizi yang rutin, bukan sekadar sebulan sekali saat ke Posyandu, adalah kunci utama dalam menekan angka stunting di Indonesia,” tambah Dewi.
Namun begitu, masih ada masyarakat yang masih ragu dengan program MBG karena masalah keamanan pangan yang masih terus diperbaiki. Menjawab kekhawatiran masyarakat soal keamanan pangan dan risiko makanan basi, Dewi menjelaskan bahwa setiap unit SPPG wajib memiliki ahli gizi yang bertanggung jawab penuh. Standar operasional prosedur (SOP) kini sangat ketat.
“Ada rentang waktu ketat antara proses pengolahan hingga makanan dikonsumsi untuk mencegah makanan basi akibat pengemasan saat panas. Kemudian sebelum dibagikan ke siswa, guru bertindak sebagai tester untuk memastikan rasa dan kualitas makanan aman dikonsumsi,” terangnya.
Dewi juga mendorong peran aktif orang tua dan guru untuk memberikan masukan kepada SPPG jika menemukan menu yang kurang sesuai atau daya terima anak terhadap menu yang dibagikan rendah.
“Ahli gizi di lapangan bertugas melakukan edukasi dan memantau food waste (sisa makanan). Jika sisa makanan banyak, artinya ada yang harus dievaluasi dari daya terima menu tersebut,” jelas Dewi.






