BERITA  

Harga Tiket Piala Dunia 2026 Dianggap Mahal, Kamar Hotel Kosong di Kota Tuan Rumah

Gelaran Piala Dunia 2026 Menghadapi Tantangan Besar

Gelaran Piala Dunia 2026 yang akan dihelat oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko digadang-gadang menjadi salah satu turnamen sepak bola terbesar sepanjang sejarah. Dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta, ajang ini diprediksi akan menarik jutaan penggemar dari seluruh dunia. Namun, menjelang kick-off, situasi di sejumlah kota tuan rumah ternyata belum sesuai harapan.

Banyak hotel di beberapa wilayah Amerika Serikat dilaporkan masih memiliki tingkat hunian rendah meski Piala Dunia tinggal menghitung pekan. Kondisi ini mulai memunculkan kekhawatiran di sektor pariwisata dan perhotelan. Biasanya, event besar seperti Piala Dunia menjadi momen panen besar bagi industri perjalanan, hotel, hingga pelaku usaha lokal.

Menurut laporan American Hotel & Lodging Association, hampir 80 persen pengelola hotel di 11 kota tuan rumah di Amerika Serikat menyebut pemesanan kamar masih berada di bawah target awal. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya biaya perjalanan yang harus dikeluarkan para suporter.

Harga tiket pertandingan menjadi sorotan utama. Di pasar penjualan ulang atau resale, harga tiket fase grup dilaporkan masih berada di kisaran 560 dolar AS atau sekitar Rp9 jutaan. Bahkan untuk beberapa laga besar, harga tiket masuk bisa menembus angka 1.000 dolar AS. Situasi tersebut membuat banyak fans memilih menunda pembelian tiket atau menunggu harga turun mendekati hari pertandingan.

Selain tiket mahal, persoalan visa juga ikut memengaruhi minat wisatawan internasional. Beberapa calon penonton disebut masih menghadapi proses administrasi yang rumit untuk masuk ke Amerika Serikat. Belum lagi biaya akomodasi dan tiket pesawat yang ikut melonjak karena tingginya permintaan selama turnamen berlangsung.

Kondisi ini mulai terasa di sejumlah kota tuan rumah. Di Vancouver, tingkat okupansi hotel pada hari pertandingan dilaporkan hanya berada di angka sekitar 39 persen. Angka tersebut menurun dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara di Boston, pemesanan hotel menjelang pertandingan Norwegia melawan Irak juga disebut masih cukup rendah.

Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah format baru turnamen yang membuat pertandingan tersebar di banyak kota. Para pendukung tim nasional kini harus mengeluarkan biaya lebih besar jika ingin mengikuti perjalanan tim favorit mereka dari satu stadion ke stadion lainnya. Jarak antarkota yang jauh membuat biaya transportasi semakin tinggi. Hal itu berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya yang lebih terpusat di satu negara dengan mobilitas penonton yang relatif mudah.

Di tengah situasi tersebut, FIFA tetap optimistis antusiasme penonton akan meningkat mendekati hari pertandingan. Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menegaskan bahwa kebijakan harga tiket dilakukan untuk mengurangi praktik calo yang sering menjual tiket dengan harga jauh lebih mahal. Meski begitu, banyak pengamat menilai FIFA tetap harus memperhatikan daya beli suporter. Sebab tanpa kehadiran fans dalam jumlah besar, dampak ekonomi yang diharapkan kota tuan rumah bisa saja tidak maksimal.

Piala Dunia 2026 memang masih diyakini akan menjadi pesta sepak bola terbesar dunia. Namun untuk saat ini, tingginya harga tiket, mahalnya biaya perjalanan, serta persoalan visa tampaknya menjadi tantangan nyata yang belum bisa diabaikan begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *