Permasalahan Estimasi Waktu Tempuh pada Sistem Navigasi untuk Pengendara Roda Dua
Banyak pengendara sepeda motor di Indonesia mengeluhkan ketidakakuratan estimasi waktu tempuh yang disajikan oleh sistem navigasi. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas kondisi lalu lintas dan perilaku berkendara roda dua yang sangat dinamis. Menurut Abhijit Sengupta, General Manager for Southeast Asia and India HERE Technologies, perbedaan pola pergerakan antara kendaraan roda dua dan mobil menjadi salah satu faktor utama.
Studi bertajuk Inside the Two-Wheeler Landscape in APAC: Key Trends and Rider Behaviors dari HERE Technologies menjelaskan bahwa pengendara motor memiliki pola pergerakan yang berbeda dari mobil. Di Indonesia, pengendara roda dua sering kali memilih rute yang berbeda dari mobil, seperti menyelip di tengah kemacetan, menggunakan jalan kecil, atau melewati gang yang padat. Perilaku ini menjadi bagian penting dari sistem transportasi perkotaan.
Pola pergerakan tersebut sangat dinamis dan bisa bervariasi tergantung lokasi dan waktu perjalanan. Sistem navigasi tradisional biasanya dirancang berdasarkan pola berkendara mobil dan lalu lintas di jalan utama. Akibatnya, sistem tersebut sering kali tidak sepenuhnya memahami bagaimana kendaraan roda dua bergerak di jalan, serta belum memperhitungkan jalan-jalan kecil dan kompleks yang sering digunakan pengendara roda dua.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan data yang lebih detail dan algoritma penentuan rute yang dirancang khusus untuk kendaraan roda dua, bukan sekadar adaptasi dari pola navigasi mobil. Selain itu, dibutuhkan juga model lalu lintas yang mencerminkan perilaku pengendara motor, termasuk cara mereka bergerak di tengah kemacetan, melewati jalan kecil dan gang, serta respons terhadap kondisi jalan yang berubah.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran dalam industri otomotif, yaitu dari pendekatan navigasi berbasis mobil menuju sistem yang lebih selaras dengan pola mobilitas kendaraan roda dua. Tantangan terbesar dalam pengembangan sistem navigasi ini adalah memahami dan menangkap pola perilaku unik pengendara motor. Berbeda dengan mobil, kendaraan roda dua memiliki pola pergerakan yang lebih fleksibel, lebih banyak menggunakan jalan kecil atau jalur yang belum terekam dengan baik, serta merespons kemacetan secara berbeda.
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa navigasi berbasis perilaku pengendara mobil tidak dapat langsung diterapkan pada navigasi untuk kendaraan roda dua. Untuk membangun sistem yang akurat, diperlukan peta yang sangat detail, data lokal yang kuat, serta model lalu lintas yang benar-benar mencerminkan perilaku pengendara di lapangan, sehingga tingkat kompleksitasnya menjadi jauh lebih tinggi.
Studi ini juga mencatat konteks yang lebih luas bahwa ketergantungan pengendara motor di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, terhadap sistem navigasi sangat tinggi. Sebanyak 96 persen responden di Indonesia menggunakan sepeda motor untuk aktivitas harian, dengan 67 persen di antaranya mengandalkan fitur petunjuk arah berbasis suara karena dinilai membantu menghadapi kondisi jalan yang kompleks.
Meski demikian, tingginya penggunaan navigasi ini belum sepenuhnya diimbangi dengan akurasi sistem, sehingga mendorong kebutuhan pengembangan teknologi yang lebih sesuai dengan pola mobilitas kendaraan roda dua. Dengan peningkatan pemahaman terhadap kebutuhan pengendara roda dua, diharapkan sistem navigasi akan semakin akurat dan efektif dalam mendukung mobilitas masyarakat.






