Penyebab Hantavirus Menyebar di Amerika Latin, Tapi Tidak di Indonesia
Hantavirus, penyakit zoonosis yang berasal dari tikus, saat ini tengah mengkhawatirkan wilayah Amerika Latin. Di sana, penyakit ini menyebar dalam skala besar, sedangkan di Indonesia kasusnya hanya sporadis. Mengapa hal ini terjadi? Penjelasan dari Ristiyanto, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memberikan wawasan mendalam.
Konsep Nidality dalam Penyakit Zoonosis
Menurut Ristiyanto, jawaban atas pertanyaan ini terletak pada buku klasik Pavlovsky yang diterbitkan pada tahun 1964 dengan judul Natural Nidality of Transmissible Diseases. Buku ini menjelaskan bahwa setiap penyakit memiliki “sarang alami” atau natural nidus, yaitu ekosistem tertentu di mana patogen, hewan pembawa, dan vektor hidup serta berinteraksi secara stabil.
Konsep ini memandang penyakit tidak hanya sebagai interaksi antara virus dan manusia, tetapi juga melibatkan keseluruhan sistem ekologinya: reservoir, lingkungan, iklim, vegetasi, aktivitas manusia, hingga dinamika populasi hewan pembawa. Dengan demikian, keberadaan suatu penyakit bergantung pada keseimbangan ekologis yang kompleks.
Keunikan Hantavirus di Amerika Latin
Di Amerika Latin, khususnya Chili dan Argentina, beberapa jenis hantavirus seperti Andes virus memiliki nidus alami yang sangat kuat dan stabil. Reservoir utamanya adalah rodensia liar, yang populasinya sangat dipengaruhi oleh siklus iklim dan vegetasi. Ketika fenomena iklim seperti El Niño terjadi atau curah hujan meningkat, populasi tikus melonjak, menciptakan kondisi yang ideal untuk transmisi virus.
Selain itu, interaksi manusia dengan habitat alami rodensia cukup tinggi di wilayah Andes. Aktivitas pertanian, peternakan, wisata alam, dan rumah-rumah di daerah pedesaan yang dekat dengan hutan atau semak alami membuat manusia masuk langsung ke dalam nidus ekologis virus tersebut.
Yang membuat Chili dan Argentina lebih rentan wabah adalah karena beberapa strain hantavirus di sana, termasuk Andes virus, memiliki kemampuan penularan antarmanusia terbatas. Ini cukup unik karena mayoritas hantavirus di dunia biasanya merupakan zoonosis murni dari rodensia ke manusia, bukan antarmanusia. Namun, setelah spillover awal dari tikus terjadi, transmisi bisa berlanjut antarmanusia dalam kondisi tertentu, sehingga menyebabkan klaster atau wabah.
Perbedaan di Indonesia
Sementara di Indonesia, Ristiyanto menjelaskan bahwa nidus ekologis hantavirus tampaknya berbeda. Meskipun reservoir ada, biodiversitas rodensia lebih kompleks, kompetisi antarspesies lebih tinggi, dan pola interaksi manusia dengan rodensia berbeda. Selain itu, strain virus lokal sejauh ini tampaknya kurang efisien dalam menyebabkan transmisi besar.
Ekosistem tropis Indonesia justru sering menghasilkan dilution effect, yaitu tingginya keanekaragaman hayati dapat menghambat dominasi satu reservoir utama pembawa virus. Akibatnya, virus tetap ada, tetapi sirkulasinya lebih tersebar dan tidak mudah membentuk ledakan kasus besar.
Pengaruh Urbanisasi dan Deforestasi
Pengaruh urbanisasi dan deforestasi terhadap penyebaran hantavirus di Amerika Latin dan Indonesia juga berbeda. Di Chili atau Argentina, alih fungsi lahan sering mendorong manusia makin dekat dengan habitat reservoir spesifik hantavirus. Sementara di Indonesia, urbanisasi lebih sering menghasilkan dominasi tikus perkotaan seperti Rattus norvegicus atau Rattus tanezumi, yang memang dapat membawa hantavirus tetapi pola transmisinya sejauh ini lebih banyak menghasilkan kasus sporadis.
Komponen yang Membentuk Wabah Besar
Dalam konsep nidality atau “sarang alami”, wabah besar muncul ketika reservoir sangat dominan, lingkungan mendukung amplifikasi virus, manusia sering masuk ke nidus alami, dan agen infeksinya memiliki efisiensi transmisi tinggi. Di Indonesia, beberapa komponen itu ada, tetapi belum terbentuk menjadi sistem ekologis yang cukup kuat untuk menghasilkan outbreak besar seperti di Andes Amerika Selatan.
Langkah Pencegahan Infeksi Hantavirus
Penularan hantavirus pada manusia banyak terjadi akibat menghirup partikel kecil dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering dan beterbangan saat dibersihkan. Untuk memitigasi risiko penyebaran hantavirus, Ristiyanto menyarankan beberapa langkah:
- Mengendalikan populasi tikus, khususnya di permukiman padat, gudang pangan, pasar, dan area pertanian.
- Memperbaiki sanitasi dan pengelolaan sampah agar sumber makanan tikus berkurang.
- Melakukan pengawasan keberadaan hewan pengerat dan penyakit zoonosis di daerah rawan banjir maupun kekeringan.
- Meningkatkan diagnosis laboratorium agar kasus hantavirus tidak tertukar dengan kasus demam berdarah, leptospirosis, atau infeksi tropis lain.
- Mengintegrasikan data iklim dengan sistem kewaspadaan dini penyakit zoonosis.
- Memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membersihkan kotoran tikus dalam keadaan kering. Lebih baik dibasahi dengan disinfektan terlebih dahulu.






