Harga minyak turun 8% sepekan di tengah harapan kesepakatan AS-Iran

Harga minyak dunia mengalami penurunan kecil pada perdagangan Jumat (29/5). Penurunan ini terjadi di tengah harapan bahwa kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran akan segera tercapai.

Menurut laporan dari Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak Juli yang akan berakhir pada Jumat turun 35 sen atau 0,37% menjadi US$ 93,36 per barel pada pukul 01.05 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga turun 63 sen atau 0,71% menjadi US$ 88,27 per barel.

Kontrak Brent yang lebih aktif diperdagangkan untuk pengiriman Agustus juga mengalami penurunan sebesar 46 sen atau 0,50% menjadi US$ 92,24 per barel. Pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang menyebut negosiasi masih belum final, diperkirakan menahan penurunan harga lebih dalam.

Secara mingguan, harga minyak tercatat anjlok lebih dari 8%. Harga Brent sempat menyentuh level terendah US$ 87,11 per barel, jauh turun dibanding posisi tertinggi pekan lalu yang mencapai US$ 109,47 per barel.

Perkembangan Pasar Minyak

Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir terpantau volatil. Kedua acuan minyak dunia itu sempat bergerak naik turun hingga US$ 6 per barel akibat sinyal yang saling bertentangan terkait potensi berakhirnya perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan, serta adanya kemungkinan kembali dibukanya Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Meski demikian, lalu lintas kapal di jalur tersebut saat ini masih jauh di bawah level sebelum perang.

Sumber Reuters menyebut Amerika Serikat dan Iran pada Kamis telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan mencabut pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz. Namun Presiden AS Donald Trump disebut belum menyetujui kesepakatan itu, media Iran juga menyatakan pembicaraan belum pada tahap final.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington dan Teheran memang semakin dekat menuju kesepakatan, namun masih terdapat sejumlah ganjalan dalam perundingan.

“Kami belum sampai di tahap final, tetapi kami sudah sangat dekat,” kata Vance dikutip dari Reuters (29/5).

Ia menyebut salah satu isu yang masih menjadi pembahasan adalah stok uranium yang diperkaya milik Iran serta persoalan pengayaan uranium.

“Saya tidak bisa menjamin kami akan mencapai kesepakatan, tetapi saat ini saya merasa cukup optimistis,” ujar Vance.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak

Beberapa faktor utama yang memengaruhi harga minyak dalam beberapa hari terakhir antara lain:

  • Harapan akan kesepakatan antara AS dan Iran: Keberhasilan negosiasi dapat mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah, sehingga mengurangi risiko gangguan pasokan minyak.
  • Perkembangan di Selat Hormuz: Jalur pelayaran penting ini menjadi fokus utama karena dampaknya terhadap pasokan global.
  • Perubahan politik di AS: Kehadiran Donald Trump sebagai presiden baru memberikan ketidakpastian terkait kebijakan luar negeri dan kesepakatan internasional.

Reaksi Pasar dan Analisis

Pasar minyak terus mengamati perkembangan terkini dengan hati-hati. Para analis memprediksi bahwa fluktuasi harga akan terus terjadi seiring dengan dinamika politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.

  • Kemungkinan penurunan lebih lanjut: Jika tidak ada kesepakatan yang pasti, harga minyak bisa kembali turun.
  • Potensi kenaikan jika kesepakatan tercapai: Kesepakatan antara AS dan Iran dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan mendorong kenaikan harga.

Kesimpulan

Perkembangan harga minyak dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas yang tinggi. Harapan terhadap kesepakatan antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang memengaruhi tren harga. Namun, tantangan dan ketidakpastian masih menghiasi proses negosiasi, sehingga pasar tetap waspada terhadap perubahan yang mungkin terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *