Kekayaan Hayati Tanah Batak: Andaliman dan Kemenyan
Tanah Batak menyimpan kekayaan hayati yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari identitas budaya dan sumber penghidupan masyarakat. Di satu sisi ada andaliman, rempah khas yang mulai menembus pasar internasional. Di sisi lain, ada kemenyan yang kini menghadapi tantangan regenerasi dan penurunan produktivitas sehingga membutuhkan sentuhan inovasi agar tetap bertahan.
Sumatera Utara memang tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil sawit, karet, atau tembakau. Dari kawasan Tapanuli hingga perbukitan sekitar Danau Toba, tumbuh dua komoditas khas yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya, yakni andaliman dan kemenyan.
Andaliman, yang kerap disebut sebagai “lada Batak”, merupakan rempah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam berbagai masakan khas Batak. Tanaman ini adalah spesies endemik asli wilayah Tapanuli yang hanya tumbuh di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, di iklim sejuk dan lembap, serta di bawah naungan tanaman pelindung. Kaya akan nutrisi alami, andaliman menawarkan lebih dari sekadar rasa, ia membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Di garis depan kebangkitan andaliman adalah Marandus Sirait, seorang aktivis lingkungan dan pendiri Taman Eden 100 di wilayah Toba. Penerima Penghargaan Kalpataru yang bergengsi pada tahun 2005 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Marandus telah menjadikan andaliman sebagai inti dari upayanya dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi lokal.
“Selama bertahun-tahun, andaliman hanya digunakan sebagai rempah segar, yang cepat busuk selama pengiriman. Sekarang kami sedang mengerjakan versi keringnya, seperti bubuk lada, sehingga dapat dikirim ke luar Sumatera Utara,” kata Marandus dari gubuk kayunya.
Bersama timnya, ia mengeringkan rempah-rempah tersebut secara alami di bawah sinar matahari, kemudian menggilingnya menggunakan mesin sederhana untuk menghasilkan bubuk andaliman berkualitas tinggi. Kulit yang lebih muda juga diolah menjadi pasta cabai, bumbu instan, dan bahkan obat tradisional.
Marandus tidak hanya berhenti pada pelestarian penggunaan tradisional, ia juga memanfaatkan rasa andaliman yang unik dan menggugah selera untuk mengembangkan produk makanan kreatif seperti martabak telur andaliman, pizza rasa andaliman, dan keripik andaliman. Tujuannya jelas: menjadikan andaliman sebagai ikon kuliner dan komoditas khas wilayah Danau Toba.
Misi Marandus telah mendapat dukungan dari berbagai sektor – mulai dari PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang menyumbangkan dana Pengembangan Masyarakat (K3) untuk bibit tanaman, hingga instansi lingkungan setempat, universitas, dan kementerian pemerintah pusat. Kementerian Kelautan, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, dan bahkan selebriti Margharet Siagian (yang diangkat sebagai duta Andaliman) telah menunjukkan dukungan.
Pada Desember 2018, andaliman mendapatkan perhatian global ketika dipamerkan di “Pameran Rempah-Rempah Nusantara” di Kolombia, menandai langkah signifikan menuju pasar internasional.
“Peluangnya sangat besar, meskipun tantangannya seluas lautan. Tapi saya yakin kita akan berhasil – kuncinya adalah kolaborasi,” tegas Marandus.
Saat ini, produk andaliman tersedia dalam bentuk botol dan sachet, dan dapat dipesan secara online. Ada harapan yang semakin besar bahwa andaliman akan menjadi suvenir khas Geopark Kaldera Toba, meningkatkan pariwisata dan menciptakan aliran pendapatan baru bagi masyarakat setempat.
Di dalam area Taman Eden 100, kini tumbuh lebih dari 2.500 pohon andaliman, dengan tambahan 15.000 pohon yang ditanam oleh masyarakat sekitar. Selain itu, 5.000 bibit siap dibagikan secara gratis, beserta panduan penanaman terperinci untuk memastikan keberhasilan budidaya.
Tantangan Petani Kemenyan

Sementara itu, tantangan berbeda dihadapi para petani kemenyan. Di Desa Hutagalung, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, petani kemenyan Ama Santa Situmorang mulai merasakan penurunan produktivitas pohon yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Dari 1.500 pohon yang tersebar di lahan seluas 5 hektar miliknya, sebagian besar kini berusia lebih dari 15 tahun. Setiap pohon hanya menghasilkan sekitar 200 gram getah per tahun dari delapan titik penyadapan—penurunan tajam dibandingkan dengan tahun-tahun puncaknya.
“Kami masih percaya bahwa kemenyan terbaik berasal secara alami dari tombak (hutan alami). Tetapi jika pohon yang dibudidayakan terbukti lebih baik, tentu saja kami akan menerimanya,” kata petani berusia 47 tahun itu.
Teknologi dan Kolaborasi sebagai Solusi
Untuk mengatasi tantangan penuaan pohon dan kurangnya petani baru, PT Toba Pulp Lestari Tok (TobaPulp) telah memulai solusi baru: budidaya kemenyan menggunakan teknologi penanaman modern. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (BPK) Aek Nauli, yang telah berhasil mengkloning pohon induk unggul dari hutan alami.
Bibit hasil kloning, yang kini tingginya sekitar 30 cm dan berumur 6 bulan, sedang dipelihara di pembibitan pusat TobaPulp di Parmaksian, Kabupaten Toba. Sebanyak 1.500 bibit telah disiapkan untuk ditanam.
Meskipun pohon kemenyan milik Ama Santa terletak di dalam konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) TobaPulp di sektor Tele-wilayah yang meliputi empat kabupaten: Humbang Hasundutan, Samosir, Dairi, dan Pakpak Bharat—ia tetap diizinkan untuk mengelola lahannya. Perusahaan berkomitmen untuk melestarikan pohon kemenyan karena merupakan sumber daya ekonomi yang vital bagi masyarakat setempat.
“Banyak anak petani kemenyan sekarang menjadi perawat, bidan, pengusaha, atau pegawai negeri. Mereka tidak lagi tertarik untuk melanjutkan pekerjaan ini,” kata Ama Santa, merujuk pada kurangnya petani generasi baru. “Jadi, selain penanaman kembali, kita membutuhkan semangat yang diperbarui,” tambahnya.
Keberadaan bibit hasil kloning dan pendekatan teknologi menghadirkan harapan baru. Jika terbukti menghasilkan lebih banyak resin, tumbuh lebih cepat, dan mempertahankan kualitas yang lebih tinggi daripada tanaman liar, petani secara bertahap dapat mengadopsi metode budidaya ini—bahkan di kebun rumah atau lahan terbuka di luar hutan.
Bagi petani seperti Ama Santa, keberhasilan dalam budidaya kemenyan harus dibuktikan di lapangan. Harapan mereka sederhana namun mendalam: pohon yang tumbuh cepat, getah yang melimpah, dan kualitas yang konsisten.
“Jika memang berhasil, kami pasti akan mendukungnya, tetapi yang terpenting adalah buktinya dari resin itu sendiri,” ungkapnya.
Kisah andaliman dan kemenyan menunjukkan bagaimana warisan hayati Tanah Batak menghadapi tantangan yang berbeda. Andaliman berupaya memperluas pasar hingga tingkat global, sementara kemenyan mencari jalan untuk mempertahankan produktivitas dan menarik minat generasi baru. Keduanya menjadi contoh bahwa kolaborasi antara masyarakat, peneliti, dunia usaha, dan pemerintah dapat membuka peluang baru bagi komoditas khas yang telah lama menjadi bagian dari identitas kawasan Danau Toba dan Tapanuli.






