Peran Kaum Adat dalam Menjaga Alam
Kaum adat dan penganut kepercayaan lokal seperti Wiwitan di suku Sunda seringkali dianggap sebagai kelompok yang tidak memahami agama resmi. Namun, menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mereka justru memiliki peran penting dalam menjaga alam selama berabad-abad sebelum Indonesia merdeka. Ia menegaskan bahwa pengetahuan leluhur ini sangat bermanfaat dan harus dihargai.
KDM menyampaikan pembelaannya terhadap kaum adat saat membicarakan pendekatan pembangunan yang dinilai kehilangan rasa, cinta, dan penghormatan terhadap pengetahuan leluhur di Papua. Ia mengatakan bahwa leluhur kita, yang sering kali diabaikan oleh masyarakat modern, memiliki kemampuan luar biasa dalam menjaga alam.
“Orang Sunda dulu disebut kaum musyrik karena praktik Wiwitan, tetapi mereka berhasil menjaga alam dengan baik selama ratusan tahun tanpa merasa menjadi orang pandai,” ujarnya dalam sebuah pidato yang terekam di YouTube.
Pendekatan Pembangunan yang Tidak Seimbang
KDM menilai bahwa pendekatan pembangunan saat ini terlalu mengandalkan teknokrasi dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan serta budaya lokal. Menurutnya, keunggulan masyarakat Nusantara terletak pada budi pekerti yang melahirkan pendekatan berbasis rasa.
“Karena keunggulannya budi pekerti, maka pendekatan pembangunan harus menggunakan rasa. Karena dari rasa lahirlah rumasa,” katanya. Dalam teologi Sunda, rumasa merupakan sikap untuk tidak merasa lebih tinggi dari orang lain maupun menganggap pihak lain bodoh.
Ia juga mengkritik cara pandang birokrasi yang kerap memposisikan masyarakat adat dan kaum tradisi sebagai kelompok tertinggal. “Banyak yang merasa pintar sehingga birokrasi menganggap kaum tradisi sebagai orang-orang yang tertinggal dan kaum adat sebagai orang-orang yang bodoh,” tegasnya.
Pengetahuan Leluhur yang Terabaikan
KDM menegaskan bahwa masyarakat adat sesungguhnya merupakan sumber pengetahuan yang selama ini kurang dihargai dalam proses pembangunan. Ia membandingkan kondisi lingkungan Indonesia selama sekitar 80 tahun kemerdekaan dengan kemampuan leluhur menjaga alam selama berabad-abad.
“Indonesia merdeka sudah berapa tahun? 80 tahun. Dari 80 tahun ini penurunan sumber daya alam, kerusakan hutan, laut, sungai itu sudah berapa?” tanyanya. Menurutnya, kerusakan lingkungan yang terjadi menunjukkan adanya penurunan daya dukung alam akibat model pembangunan modern.
Sebaliknya, ia menilai leluhur yang selama ini dipandang rendah justru berhasil mewariskan lingkungan yang terjaga. Salah satu kekeliruan besar adalah merendahkan pengetahuan yang bersumber dari tradisi dan leluhur.
“Bayangkan salah satu kebodohan kita adalah menganggap rendah pengetahuan yang bersumber dari leluhur, menganggap rendah kaum adat,” katanya.
Landasan Teologis dalam Pembangunan
Dalam pandangan KDM, pembangunan semestinya diawali dengan landasan teologis yang dipahami sebagai nilai membangun relasi harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam. Ia mencontohkan berbagai sistem nilai lokal seperti Tri Hita Karana di Bali maupun konsep Tritangtu dalam budaya Sunda.
Menurutnya, berbagai ritual tradisional yang selama ini dianggap kuno atau bahkan musyrik sebetulnya merupakan bentuk penghormatan terhadap alam. “Kalau melihat pohon itu dikasih sesajen dan itu dianggap sebagai sebuah kemunduran. Padahal itu adalah sebuah tradisi bagaimana menghormati leluhur, bagaimana menghormati alam,” ucapnya.
KDM pun menilai penghormatan dalam tradisi lokal memiliki makna serupa dengan simbol penghormatan modern yang juga hidup dalam negara, seperti hormat kepada bendera Merah Putih. “Maka penghormatan dalam kaum tradisi bagi Jawa adalah sesajen,” pungkasnya.






