Deputi BGN Nanik S Deyang Kunjungi Dapur MBG Magetan: Pastikan Standar Gizi Tak Boleh Turun

MAGETAN – Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Senin (1/6/2026).

Agenda utama kunjungan tersebut adalah meninjau operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Plaosan sekaligus memastikan mutu layanan gizi bagi ribuan siswa.

Nanik tiba di Dapur MBG SPPG Magetan 1 pada pukul 09.00 WIB didampingi Bupati Magetan, Suprawoto, serta jajaran Forkopimda.

Dapur tersebut melayani 5.127 siswa dari 18 sekolah, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, di wilayah Plaosan dan Panekan.

Turun Cek Langsung Proses Memasak hingga Distribusi

Dalam kunjungan itu, Nanik mengecek langsung proses penerimaan bahan baku, pengolahan, hingga pengemasan makanan.

Ia juga berdialog dengan ahli gizi, juru masak, dan relawan dapur. Menu yang disajikan hari itu terdiri atas nasi putih, ayam teriyaki, tumis buncis dan wortel, jeruk, serta susu UHT.

“Standar BGN jelas. Protein hewani tidak boleh kurang dari 40 gram per porsi. Sayur, buah, dan susu wajib ada. Tadi saya cek, semuanya sudah sesuai,” kata Nanik.

Nanik turut melepas armada distribusi dan ikut mengantarkan makanan ke SDN Plaosan 1.

Ia juga menyaksikan langsung antusiasme siswa menyantap menu MBG.

“Anak-anak lahap makannya. Ini indikator keberhasilan yang paling nyata,” ujarnya.

Magetan Jadi Model MBG Daerah Pegunungan

Bupati Magetan, Suprawoto, menyebutkan bahwa saat ini terdapat tujuh Dapur MBG aktif di Magetan yang melayani 34.800 siswa. Wilayah pegunungan seperti Plaosan menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi karena kondisi kontur jalan.

“Bu Deputi memberikan arahan agar jadwal memasak dimajukan 30 menit untuk mengantisipasi kendala jalan licin. Ini penting agar makanan sampai tepat waktu dan tetap hangat,” jelas Suprawoto.

Nanik menegaskan bahwa Magetan layak menjadi percontohan pelaksanaan MBG di daerah pegunungan.

Ia mengapresiasi kolaborasi Pemerintah Kabupaten Magetan, TNI, Polri, dan UMKM lokal yang memasok 80 persen kebutuhan bahan baku dapur.

“Perputaran ekonomi di Magetan dari program MBG mencapai Rp1,2 miliar per bulan. Petani, peternak, semuanya merasakan dampaknya,” tegas Nanik.

Evaluasi Payment Tracker dan Zero Waste

Pada sesi evaluasi, Nanik meminta pengelola SPPG disiplin mengisi Payment Tracker pada aplikasi Reviu MBG.

Tujuannya untuk mencegah keterlambatan pembayaran kepada UMKM pemasok. Ia juga mendorong penerapan konsep zero waste dengan mengolah sisa makanan menjadi pakan ternak milik warga.

“MBG bukan hanya soal mengisi perut. Ini tentang ekosistem gizi, ekonomi, dan lingkungan yang harus berjalan beriringan,” kata Nanik.

Hingga Juni 2026, BGN mencatat program MBG telah menjangkau 27,5 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah penerima manfaat terbanyak, yakni mencapai 4,1 juta siswa. (Jai)