Proyek Adahi: Solusi Pembayaran Dam yang Efisien dan Transparan
Di tengah proses penyembelihan hewan kurban dalam rangkaian ibadah haji, proyek Adahi kembali menjadi pilihan utama bagi jemaah haji Indonesia. Tahun 2026 ini, sebanyak 135.367 jemaah haji Indonesia memilih menggunakan layanan Adahi untuk membayar dam. Adahi adalah satu-satunya lembaga resmi yang ditunjuk oleh Pemerintah Arab Saudi untuk mengelola dan memproses penyembelihan hewan kurban, dam, fidyah, aqiqah, serta sedekah.
Selain itu, tercatat bahwa sebanyak 53.506 jemaah memilih membayar dam di Indonesia, sementara 6.453 jemaah memilih berpuasa sebagai alternatif, dan 4.084 jemaah tergolong sebagai jemaah ifrad yang tidak wajib membayar dam. Dengan adanya pilihan-pilihan tersebut, masyarakat haji memiliki fleksibilitas dalam memenuhi kewajiban ibadah mereka.
Sistem Adahi yang Terintegrasi dengan Teknologi Digital
Juru Bicara Adahi, Talal Abdullah Al Harbi, menjelaskan bahwa sistem Adahi dirancang untuk memastikan proses penyembelihan hewan dam sesuai dengan syariat Islam, higienis, serta memastikan hasil sembelihan dapat dimanfaatkan secara optimal. Sebelum Adahi dibentuk, proses penyembelihan dam di Arab Saudi belum terkendali secara terpadu. Banyak ditemukan penyembelihan ilegal yang menyebabkan sebagian daging tidak tersalurkan dengan baik dan bahkan membusuk.
Adahi mulai beroperasi sejak tahun 1403 Hijriah atau 1982 Masehi pada masa Raja Fahd. Sejak saat itu, sistem pengelolaan terus dikembangkan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital. Kini, layanan Adahi juga terintegrasi dengan aplikasi Nusuk sehingga jemaah dapat mengakses layanan melalui perangkat genggam masing-masing.
Proses Penyembelihan yang Cepat dan Terkontrol
Setiap hewan yang masuk ke rumah potong terlebih dahulu menjalani pemeriksaan fisik dan medis guna memastikan kelayakan penyembelihan. Pemeriksaan kembali dilakukan setelah penyembelihan untuk memastikan daging layak dikonsumsi. “Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah penyembelihan sebagai jaminan kualitas,” kata Talal.
Adahi saat ini mengoperasikan tujuh lokasi penyembelihan yang berdiri di atas lahan hampir satu juta meter persegi. Pada musim haji tahun lalu, lebih dari 1 juta kambing diproses melalui sistem tersebut. Untuk tahun 2026, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 1,2 juta ekor.
Proses penyembelihan berlangsung sangat cepat dengan dukungan teknologi modern. Talal menyebut satu ekor kambing dapat diproses hanya dalam waktu sekitar tujuh detik. Pada musim haji tahun lalu, sekitar 27.000 ekor kambing diproses hanya dalam satu jam pertama setelah salat Iduladha.
Distribusi Daging yang Luas dan Berkelanjutan
Setelah disembelih, daging langsung masuk ke tahap pendinginan dan pembekuan. Adahi memiliki sekitar 100 unit pembekuan dengan suhu mencapai minus 80 derajat Celsius. Dengan fasilitas tersebut, daging dapat dibekukan hanya dalam waktu 30 hingga 40 menit sebelum didistribusikan.
Daging kemudian dikemas dalam bentuk beku seberat 3 kilogram menggunakan nitrogen agar tetap segar. Dalam kondisi beku, daging dapat bertahan hingga satu tahun. Selain itu, sebagian daging juga diolah dalam bentuk kaleng siap saji berbobot 400 gram yang dikirim ke wilayah terpencil atau negara yang sedang mengalami konflik.
“Satu orang bisa dapat lebih dari satu. Ini untuk negara-negara terpencil atau sedang konflik. Hewan didatangkan dari Afrika, karena yang sanggup mengadakan dalam waktu dekat,” ujar Talal.
Distribusi daging dilakukan baik di dalam Arab Saudi maupun ke luar negeri. Sekitar 60% disalurkan di dalam negeri, sementara 40% lainnya dikirim ke berbagai negara penerima manfaat, termasuk Palestina, Yaman, serta sejumlah negara di Afrika.
Penggunaan Teknologi untuk Keamanan dan Akurasi
Sejak pertama kali berjalan, Talal mengatakan distribusi daging Adahi telah menjangkau sekitar 27 negara. Secara kumulatif, lebih dari 27 juta nusuk telah diproses melalui program ini dengan total penerima manfaat mencapai sekitar 30 juta orang.
Untuk mendukung operasional selama musim haji, Adahi melibatkan sekitar 700 lembaga di dalam negeri. Pengawasan juga dilakukan secara ketat melalui sekitar 1.250 kamera CCTV yang beroperasi selama 84 jam non-stop atau sekitar 3,5 hari sejak salat Iduladha selesai.
Selain CCTV, Adahi juga menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi jumlah hewan, memantau bobot, hingga membantu pencatatan data dengan tingkat akurasi yang diklaim mencapai 99%.
Pengelolaan Limbah yang Ramah Lingkungan
Talal menegaskan seluruh bagian hewan hasil sembelihan dimanfaatkan secara maksimal. Tidak ada daging yang dibuang. Sementara limbah seperti jeroan dan sisa organ yang tidak digunakan diolah dengan teknologi khusus menjadi produk turunan seperti pupuk.
“100% daging tidak ada yang dibuang semua dimanfaatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh transaksi pembelian layanan Adahi kini dilakukan secara daring. Sistem ini dibuat untuk memudahkan jemaah sekaligus memastikan proses pembayaran dan penyembelihan berlangsung lebih tertib, transparan, dan terdokumentasi.
Kebijakan Distribusi untuk Masyarakat Palestina
Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta sebagian besar daging dam jemaah haji Indonesia didistribusikan untuk masyarakat Palestina. Permintaan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah Arab Saudi dan Adahi sebagai lembaga resmi pengelola dam jemaah haji.
Kebijakan itu disebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah Indonesia terhadap kondisi kemanusiaan di Palestina. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Azhar Simanjuntak, mengatakan distribusi daging dam untuk Palestina dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kami sudah meminta secara khusus kepada Adahi juga Pemerintah Saudi Arabia, supaya daging-daging dam ini itu didistribusikan untuk masyarakat Palestina,” kata Dahnil kepada tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Jumat (22/5/2026).
Menurut Dahnil, jumlah dam jemaah haji Indonesia tahun ini yang diperkirakan akan disalurkan ke Palestina mencapai hampir 90 ribu ekor.
“Presiden berharap daging-daging dam jemaah haji Indonesia didistribusikan untuk warga Palestina yang membutuhkan,” tambah Dahnil.






