Sidang Darurat PBB: Eskalasi Konflik di Lebanon dan Peran Hizbullah
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat setelah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon. Israel memperluas operasi militer di wilayah tersebut, sementara Hizbullah meningkatkan serangan ke wilayah Israel. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran internasional akan ancaman terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Kekhawatiran Terhadap Kesepakatan Gencatan Senjata
Menurut laporan dari Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Operasi Perdamaian, Martha Ama Akyaa Pobee, situasi di Lebanon saat ini sangat mengkhawatirkan. Pasukan Israel terus bergerak ke utara wilayah Lebanon, sementara Hizbullah memperluas jangkauan serangannya lebih jauh ke wilayah Israel. Pobee menjelaskan bahwa Israel telah meningkatkan operasi militernya dengan bergerak ke utara Sungai Litani, memperluas serangan udara hingga ke Lembah Beqaa dan pinggiran Beirut, serta mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil di sejumlah wilayah.
Sementara itu, Hizbullah terus melancarkan puluhan serangan menggunakan roket, rudal antitank, drone serat optik, hingga rudal permukaan-ke-udara terhadap target-target Israel. Menurut PBB, perkembangan tersebut mengancam kesepakatan penghentian permusuhan yang diumumkan Amerika Serikat pada 16 April lalu dan berisiko menghancurkan upaya diplomasi yang sedang berlangsung.
Kritik Terhadap Tindakan Militer Israel
Dalam sidang tersebut, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, membela operasi militer negaranya. Menurutnya, Israel tidak memiliki pilihan lain selain mengambil tindakan setelah Hizbullah kembali menyerang wilayah Israel pada 2 Maret. Danon menuding Iran terus menggunakan Hizbullah sebagai kelompok proksi untuk menyerang Israel dari wilayah Lebanon. Ia mengatakan serangan Hizbullah dalam beberapa hari terakhir merupakan yang paling intens sejak gencatan senjata diberlakukan pada April lalu.
Danon juga menyebut ribuan siswa Israel masih tidak dapat bersekolah akibat ancaman serangan yang terus berlangsung. Ia menegaskan bahwa Israel hanya bertindak untuk melindungi rakyatnya dari ancaman yang terus-menerus datang dari Hizbullah.
Kritik dari Lebanon
Perwakilan Lebanon, Ahmad Arafa, menyampaikan kritik keras terhadap Israel. Ia menuduh Israel memanfaatkan situasi regional yang sedang tegang untuk meningkatkan operasi militer secara berbahaya. Menurut Arafa, Israel terus melakukan penghancuran sistematis dengan menargetkan rumah sakit, tenaga medis, jurnalis, sekolah, aparat keamanan, pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL), tempat ibadah, hingga situs-situs bersejarah yang menjadi bagian dari identitas nasional Lebanon.
Ia menegaskan bahwa sebagian tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan menilai kurangnya akuntabilitas internasional telah membuat pelanggaran serupa terus berulang. Lebanon mendesak Israel segera berkomitmen pada gencatan senjata agar pemerintah Lebanon dapat memperluas kontrol negara ke seluruh wilayahnya.
Pandangan Amerika Serikat
Perwakilan Amerika Serikat, Michael G. Waltz, menegaskan bahwa jalan menuju perdamaian masih terbuka. Ia memuji upaya diplomasi yang dipimpin Presiden Donald Trump dan menyebut pemerintah Lebanon telah menunjukkan keberanian dalam menghadapi krisis. Menurut Waltz, konflik dapat segera mereda apabila Hizbullah menghentikan serangannya terhadap Israel. Ia juga menekankan pentingnya pemerintah Lebanon mengambil kendali penuh atas seluruh wilayah negaranya serta menghentikan pengaruh Iran di Lebanon.
Penjelasan Trump tentang Kesepakatan Gencatan Senjata
Presiden AS Trump mengumumkan pada hari Senin bahwa Israel dan Hizbullah telah menyetujui gencatan senjata. Ia menulis di TruthSocial bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji selama percakapan telepon yang “sangat produktif” untuk tidak mengirim pasukan ke Beirut, sementara Israel mengancam akan menyerang pinggiran selatan ibu kota Lebanon. “Tidak ada pasukan yang akan pergi ke Beirut, dan pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan telah berbalik,” kata Trump.
Presiden AS juga mengumumkan bahwa ia telah melakukan “percakapan yang sangat baik” dengan Hizbullah melalui perantara, menambahkan bahwa kelompok yang didukung Iran itu telah setuju untuk “menghentikan semua permusuhan.” “Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel,” ujarnya.
Tindakan Militer di Lapangan
Di lapangan, pasukan Israel telah merebut wilayah luas di Lebanon selatan yang membentang dari perbatasan hingga Sungai Litani, dan terus maju melampauinya menuju Sungai Zahrani, sekitar 10 kilometer ke utara, dalam invasi terdalam mereka ke Lebanon dalam 25 tahun terakhir, menurut Reuters. Sejak dimulainya pembicaraan antara pihak Iran dan Amerika pada awal April yang ditengahi Pakistan untuk mencapai kesepakatan menghentikan perang, Teheran telah memasukkan Lebanon dalam daftar negosiasi.






