KWT Kamboja Putih: Dari Kebutuhan Kesehatan Hingga Menembus Pasar Internasional
Kebutuhan akan suplemen kesehatan yang meningkat pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020 memberikan peluang besar bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Kamboja Putih di Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanahbumbu. Mereka memanfaatkan situasi tersebut dengan menciptakan produk minuman herbal yang dapat menjawab berbagai keluhan kesehatan.
“Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan minuman jahe, muncul ide peluang usaha untuk membuat produk ekstrak jahe merah,” ujar Rina, Ketua KWT Kamboja Putih. Produk ini dirancang untuk mengatasi flu, batuk, masuk angin, mual, pegal-pegal, melancarkan peredaran darah, dan kesemutan.
Awal Mula Kreativitas dan Inovasi
Modal awal dari produk ini berasal dari resep milik anggota KWT, Sri Sunanik, yang pernah mengikuti pelatihan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). “Resep kami peroleh dari pelatihan yang diadakan Pokdarwis pada 2015,” tambah Sri. Dengan resep sederhana namun efektif, mereka langsung bergerak cepat untuk menciptakan produk siap seduh.
Seiring waktu, produk tanpa bahan pengawet ini telah menembus pasar ritel modern di berbagai kabupaten hingga merambah pasar internasional seperti Jerman dan Hongkong. Volume penjualan mencapai 500-1.000 pieces per bulan.
Inovasi dan Strategi Pemasaran Digital
Keberhasilan ini tidak lepas dari kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh seluruh anggota KWT. Tidak ingin monoton dengan produk yang itu-itu saja, kelompok usaha ini melakukan inovasi empat varian rasa sekaligus menerapkan strategi pemasaran modern memanfaatkan platform digital seperti TikTok. Langkah ini terbukti ampuh mendongkrak popularitas produk.
“Ada empat varian produk kami yaitu Ekstrak Jahe Merah Manis Original, Ekstrak Jahe Merah Manis Gula Aren, Ekstrak Jahe Merah plus Mengkudu dan Jahe Bubuk Murni Tanpa Gula,” papar Sri. Untuk memastikan mutu dan rasa, tim produksi selalu melakukan uji rasa sebelum serbuk jahe dimasukkan ke kemasan standing pouch aluminium foil berukuran 100 gram.
Setelah kualitas produk dipastikan sesuai standar, barulah strategi pemasaran digital dimaksimalkan. Lewat konten kreatif di media sosial, jangkauan pasar yang diraih kini meroket hingga ke luar negeri.
Perubahan Demografi Konsumen
Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ini bahkan melakukan riset. Terlihat adanya pergeseran demografi konsumen yang positif. Produk herbal yang dijual seragam dengan harga Rp 15 ribu per bungkus ini, awalnya menyasar kalangan usia 30 tahun ke atas. Namun berkat viralnya promosi di TikTok, kini banyak anak muda yang mulai tertarik dan rutin mengonsumsinya.
Melihat ini, KWT Kamboja Putih memasang rencana besar yakni memperbarui kemasan dengan desain yang lebih menarik serta meluncurkan produk inovasi minuman susu jahe cair.
Perjuangan dan Kesabaran
Di balik prospek yang besar, KWT Kamboja Putih menyimpan kisah perjuangan yang menguras tenaga dan materi. “Untuk menemukan resep yang pas, tidak hanya sekali atau dua kali jadi. Kami sudah melalui beberapa kali kegagalan dan kerugian baik waktu, tenaga, pikiran, dan materi,” ungkap Sri saat mengenang masa-masa sulit.
Mereka pun mengujinya langsung ke beberapa warga untuk mendapatkan pengakuan jujur.
Pengelolaan Limbah dan Keberlanjutan
Tak hanya memperhatikan produk dan pemasaran, Sri dan kawan-kawan juga menerapkan nihil limbah (zero waste) dengan menyulap ampas jahe sisa pemerasan menjadi produk baru yang bernilai ekonomis.
“Karena kandungan panasnya masih tinggi, ampas jahe kami produksi kembali untuk menjadi bubuk jahe tanpa gula. Bubuk jahe tersebut kami gunakan untuk bumbu rempah campuran kopi, dan sebagian lagi digunakan untuk campuran pakan ternak warga,” ujar Rina.
Langkah kreatif ini membantu mereka memaksimalkan keuntungan sehingga mampu menyerap hasil panen dari hampir seluruh petani jahe di Mantewe dan membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu sekitar, meskipun saat ini operasional produksi masih dijalankan secara mandiri oleh empat tenaga lokal.
Kerja Sama dengan Petani dan Masyarakat
KWT Kamboja Putih juga secara kontinyu menyerap panen jahe petani Mantewe. Kerja sama ini sekaligus meningkatkan perekonomian petani dan memicu minat warga sekitar untuk ikut membudidayakan jahe merah di pekarangan rumah serta kebun Dasawisma.






