Konektivitas Udara Baru: Bandara Husein Sastranegara Dibuka Kembali untuk Penerbangan Internasional, Harapan Baru bagi Pariwisata dan Bisnis
Pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan internasional telah membangkitkan gelombang antusiasme dari para pelaku industri pariwisata di Indonesia dan Malaysia. Langkah strategis ini diprediksi akan menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan sektor pariwisata, bisnis, dan perdagangan antara kedua negara, khususnya antara Bandung dan Kuala Lumpur.
Optimisme ini mengemuka dalam sebuah acara roadshow yang diselenggarakan oleh Tourism Malaysia. Kegiatan yang mempertemukan ratusan pelaku industri pariwisata dari Malaysia dan Jawa Barat ini berlangsung di Kota Bandung pada hari Rabu, 10 Juni 2026.
Potensi Besar Jawa Barat untuk Industri Pariwisata Malaysia
Direktur Tourism Malaysia Jakarta, Hairi Mohd Yakzan, menyoroti potensi besar yang dimiliki oleh Jawa Barat sebagai pasar wisata yang sangat menjanjikan bagi Malaysia. Dengan dioperasikannya kembali Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan internasional, Hairi meyakini bahwa peluang peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dari Indonesia ke Malaysia akan semakin terbuka lebar.
“Potensi di Jawa Barat ini sangat besar. Dengan pembukaan kembali bandara yang baru nanti, kami sangat berharap dapat memperoleh konektivitas yang lebih baik ke Malaysia,” ungkap Hairi saat ditemui di Hotel Mercure, Jalan Lengkong Besar, Kota Bandung.
Ia menambahkan bahwa wisatawan dari Indonesia secara konsisten menjadi salah satu kontributor terbesar dalam jumlah kunjungan ke Malaysia. Dari target 47 juta wisatawan mancanegara yang ingin dicapai oleh Malaysia tahun ini, pelancong asal Indonesia selalu menempati posisi dua atau tiga terbesar.
Menjelajahi Destinasi Baru di Malaysia
Selain destinasi yang sudah sangat populer seperti Kuala Lumpur, Melaka, dan Pulau Pinang, Tourism Malaysia juga aktif memperkenalkan sejumlah destinasi wisata baru kepada pasar Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk memperluas pilihan dan memberikan pengalaman yang lebih beragam bagi wisatawan. Destinasi-destinasi baru ini mencakup Kelantan, Terengganu, Sabah, Sarawak, Negeri Sembilan, hingga Ipoh di negara bagian Perak.
Hairi secara khusus menyebutkan bahwa Kelantan dan Terengganu menawarkan daya tarik wisata alam dan pantai yang memukau. Menariknya lagi, dari Kelantan, wisatawan Indonesia memiliki opsi untuk melanjutkan perjalanan darat menuju Thailand, membuka peluang perjalanan lintas negara yang unik.
Dampak Langsung bagi Efisiensi Perjalanan dan Bisnis
Ketua ASITA (Asosiasi Agen Perjalanan dan Wisata Indonesia) Jawa Barat, Daniel G Nugraha, menilai bahwa pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap efisiensi perjalanan, baik bagi wisatawan maupun pelaku usaha.
Selama ini, wisatawan yang berasal dari Bandung dan wilayah sekitarnya harus melakukan perjalanan tambahan menuju Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta sebelum dapat terbang ke Malaysia. Kondisi ini tidak hanya menambah waktu tempuh yang cukup lama, tetapi juga meningkatkan biaya perjalanan secara keseluruhan.
“Dengan dibukanya kembali Bandara Husein, ini berarti akan sangat memudahkan konektivitas antara Kuala Lumpur dengan Bandung. Waktu perjalanan akan jauh lebih singkat karena kita tidak perlu lagi menambah waktu 3-4 jam untuk menuju Cengkareng, dan secara otomatis, biaya perjalanan juga akan lebih hemat,” jelas Daniel.
Daniel juga mengungkapkan bahwa dari sekitar 500 perusahaan anggota ASITA Jawa Barat, mayoritas, yaitu sekitar 90 persen, bergerak di sektor outbound, yang fokus pada pengiriman wisatawan ke luar negeri. Di sisi lain, terdapat pula ratusan agen perjalanan di Malaysia yang memiliki potensi untuk mengirimkan wisatawan ke Indonesia, khususnya ke Jawa Barat.
Peluang Bisnis Lintas Sektor yang Lebih Luas
Daniel berpendapat bahwa dampak positif dari pembukaan kembali Bandara Husein tidak akan terbatas pada sektor pariwisata semata. Kemudahan konektivitas udara ini juga berpotensi kuat untuk mendorong pertumbuhan di berbagai sektor lain, termasuk:
- Wisata Bisnis: Memfasilitasi pertemuan bisnis, konferensi, dan kunjungan kerja antar pengusaha dari kedua negara.
- Wisata Golf: Membuka peluang baru bagi para pecinta golf untuk menikmati lapangan-lapangan berkualitas di kedua wilayah.
- Aktivitas Ekspor-Impor: Memperlancar arus barang dan jasa, yang pada gilirannya akan menggerakkan roda perekonomian.
Secara spesifik, Daniel mencontohkan sektor tekstil di Bandung yang berpotensi besar mendapatkan manfaat. Dengan adanya konektivitas langsung, distribusi produk tekstil ke Malaysia tidak lagi harus sepenuhnya bergantung pada jalur transportasi melalui Jakarta, yang seringkali memakan waktu dan biaya lebih.
Tantangan dan Keuntungan dari Pergerakan Mata Uang
Meskipun demikian, Daniel mengakui bahwa industri pariwisata outbound saat ini tengah menghadapi tantangan berupa penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap Rupiah. Kenaikan kurs ini membuat biaya perjalanan wisata ke Malaysia menjadi lebih mahal bagi wisatawan Indonesia.
Namun, kondisi ini justru memberikan keuntungan yang signifikan bagi sektor inbound, yaitu peningkatan kunjungan wisatawan Malaysia ke Jawa Barat, serta bagi para pelaku usaha yang bergerak di bidang ekspor. Selisih kurs yang menguntungkan ini dapat menambah margin keuntungan bagi usaha pariwisata di Jawa Barat yang menawarkan produk dan layanan dalam Rupiah.
“Selisih kurs ini sangat membantu dalam menambah keuntungan usaha pariwisata kita di Jawa Barat,” ujar Daniel.
Memperkuat Kerjasama dan Diversifikasi Pasar
Untuk lebih memperkuat jalinan kerjasama dan memperluas jangkauan pasar, ASITA Jawa Barat berencana untuk melakukan kunjungan balasan ke sejumlah kota di Malaysia dalam waktu dekat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi promosi untuk mengenalkan potensi destinasi wisata Jawa Barat.
Tujuannya adalah agar pariwisata Jawa Barat tidak hanya dikenal di Kuala Lumpur semata, tetapi juga dapat menjangkau dan menarik minat wisatawan dari wilayah lain seperti Kelantan, Kuching, dan Sabah.
“Kita akan berupaya agar pasar pariwisata kita tidak hanya terpusat pada Kuala Lumpur (Kuala Lumpur-minded), tetapi dapat menyebar lebih luas ke berbagai daerah di Malaysia,” pungkas Daniel.





